Cari
Foto Caption: Filosofi 5 Jenis Tanaman Menjadi 1 Arti
 Batak
 2 bulan yang lalu

Ritual Kematian dalam Budaya Adat Suku Batak Toba

Di dalam kultur Batak kematian seseorang yang sudah bercucu, tapi anaknya belum semuanya menikah (sari matua) dan yang anaknya sudah semuanya menikah serta punya cicit (saur matua) dianggap sebagai suatu peristiwa besar yang sudah sepatutnya disyukuri (tidak banyak lagi kesedihan disana).

Karena bagi orang Batak, kekayaan tak melulu dilihat dari harta melimpah. Namun memiliki keturunan banyak merupakan kekayaan dan kebanggaan yang tak ternilai.

Kelak ketika mereka meninggal, kebanggan ini akan disimbolkan dalam mahkota dedaunan (sanggul marata/sijagaron/onda-onda).

Sanggul marata diletak di halang hulu atau arah atas kepala. Sanggul marata terdiri dari macam-macam tumbuhan yang dirangkai sedemikian rupa.

Ada lima macam daun yang digunakan, yaitu hariara (pohon ara), daun baringin (beringin), ompu-ompu (bunga bakung), sanggar (ilalang yang beruas), dan sangge-sangge (serai).

Kelima daun ini ditanam dengan menggunakan padi dalam ampang (bakul) bersegi empat yang terbuat dari anyaman bambu.

Mangkok berisi beras, kemiri dan telur ayam kampung diletak di atas padi. Semua tumbuhan diartikan sebagai simbol-simbol keberhasilan yang dicapai dan diwariskan kepada keturunannya.

Segala unsur dalam sanggul marata punya arti tersendiri. Sejak dulu, hariara dikenal sebagai pohon yang tumbuh di halaman perkampungan Batak dan dijadikan tempat berkumpul. Sehingga hariara bermakna simbol perlindungan.

Baringin dikenal sebagai tumbuhan yang kokoh, memiliki banyak cabang serta rimbun sehingga diartikan simbol kekokohan dan keberhasilan.

Sanggar merupakan tumbuhan yang jika diterpa angin akan mengayun naik turun sehingga bermakna bahwa kehidupan mempunyai grafik yang turun naik atas terpaan yang datang.

Ompu-ompu diartikan bahwa yang meninggal sudah mempunyai anak cucu dan apa yang sudah diperoleh baik diteruskan anak cucunya. Terakhir sangge-sangge artinya yang meninggal mampu menjaga kesehatan dirinya dan keturunannya.

Ampang atau bakul yang memiliki empat sisi juga punya arti. Selama hidup, kita akan ditopang oleh empat unsur yaitu partubu (orang tua), boru (perempuan), hula-hula (paman), dan pariban (saudara).

Padi dalam ampang bermakna sebagai berkat yang diberikan Tuhan pada seluruh keluarga. Semakin banyak keturunan maka tingkatan ampang akan dibedakan.

Kalau cuma punya cucu maka bakulnya hanya satu tingkat, anaknya sudah punya cucu (marnini-marnono) maka ampang-nya dua tingkat, sementara jika cicitnya sudah punya anak (marondohondoh) ampang-nya tiga tingkat.

Hanya dengan melihat sanggul marata, pelayat sudah tahu sampai di mana keturunan yang ia miliki Sanggul marata boleh didirikan minimal jika yang meninggal sudah memiliki cucu.

Orang yang meninggal dianggap berhasil jika ia memiliki anak laki-laki dan perempuan serta sudah dikaruniai cucu.

Ia dianggap sudah memenuhi hamoraon (kekayaan), hagabeon (kebesaran) dan hasangapon (kedudukan) yang merupakan cita-cita umum masyarakat Batak semasa hidup.

Malam sebelum tubuh jenazah dimasukkan ke dalam peti, atau orang Batak bilang mompo, para kelurga dan handai taulan akan datang melayat.

Nyayian rohani bertema kematian akan mengiringi acara sepanjang malam. Di bagian kepala diletakkan sanggul marata.

Keesokan harinya, sebelum penguburan, dilakukan acara maralaman, peti dibawa ke halaman rumah. Sanggul marata dijunjung menantu perempuan, diikuti semua keturunan yang kemudian dibawa mengelilingi jenazah sambil manortor (menari).

ritual kematian suku batak

Setelah acara penguburan selesai, tanaman tersebut ikut ditanam di kuburan. Di beberapa wilayah, sanggul dibiarkan mengering di rumah.

Untuk padi dan beras dimasak oleh keluarga dan dimakan bersama-sama sebagai wujud syukur atas berjalannya acara.

Tak ada yang tahu sejak kapan budaya ini dimulai dalam masyarakat Batak, karena tak pernah ditemukan tulisan soal sanggul marata.

Hanya diyakini budaya ini sudah tumbuh dan berkembang sangat lama. Para perangkai sanggul marata tak pernah belajar merangkai secara khusus lewat tulisan.

Kebudayaan dipertahankan dan diturunkan lewat ingatan orang tua yang diwariskan kepada anak cucunya.

Karena tak ada pendokumentasian, maka tak ada acuan yang menjadi dasar pelaksanaan adat. Hal ini menyebabkan terdapatnya perbedaan di beberapa daerah dari segi penataan daun.

Di Balige, misalnya, apabila yang meninggal hanya mempunyai cucu dari pihak perempuan saja, maka daun hariara tidak diikutkan. Sementara jika cucu hanya dari pihak laki-laki tidak dibuat daun baringin.

Saat ini, masyarakat Batak, khususnya yang tinggal di kota, sudah mulai meninggalkan budaya sanggul marata.

Selain karena tak ada tradisi maralaman di kota, juga karena budaya sanggul marata ini dianggap memiliki unsur animisme yang bertentangan terhadap kepercayaan akan Tuhan Yang Maha Esa.

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah