Cari
 Koran Toba
 14 hari yang lewat

Kronologi dan Penyebab D.L Sitorus Mati Meninggal Dunia

Raja Perkebunan asal Sumatera Utara Darianus Lungguk atau DL Sitorus, meninggal dunia di pesawat Garuda rute Jakarta-Medan, Kamis (3/8/2917) siang. DL Sitorus menutup mata sesaat setelah mengeluh sesak napas. Saat itu, dia baru saja duduk di kursinya di kelas bisnis.

Senior Manager Communications Garuda Indonesia Ikhsan Rosan menjelaskan, DL Sitorus tercatat sebagai penumpang kelas bisnis Garuda 188 rute Jakarta-Medan. Ia berpergian seorang diri.

Menurut Iksan, tak ada catatan khusus terkait kesehatan penumpang atas nama DL Sitorus. Bahkan, DL Sitorus sempat santap siang di lounge Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Ketika hendak beranjak dari lounge untuk boarding, DL Sitorus merasa tidak kuat jalan. Pihak maskapai kemudian menyiapkan kursi roda.

"Prosesnya boarding biasa. Tapi, nggak kuat jalan, minta kursi roda, dia sudah tua umur 80-an," ungkap Iksan.

Sampai di dalam pesawat, DL Sitorus mengaku, sesak napas. Sesaat kemudian, DL Sitorus tidak sadarkan diri.

"Sampai di pesawat mengeluh sesak napas lalu tidak sadarkan diri, petugas di pesawat kemudian memanggil petugas kesehatan bandara," kata Ikhsan.

Petugas kesehatan yang tiba di dalam pesawat segera mengecek kondisi DL Sitorus. Namun, petugas kesehatan menyatakan bahwa penumpang yang bersangkutan telah meninggal dunia.

"Ketika dicek, sudah meninggal. Prosesnya cepat," kata Ikhsan.

Petugas kemudian menurunkan jenazah DL Sitorus. Proses ini membuat pesawat Garuda Indonesia tersebut mengalami penundaan penerbangan selama 65 menit.

DL Sitorus Wafat di Pesawat Garuda

DL Sitorus adalah pengusaha sukses, yang dijuluki Si Raja Perkebunan asal Sumut. Selain memiliki perkebunan kelapa sawit dengan luas puluhan ribu hektare, DL Sitorus juga memiliki yayasan pendidikan dan rumah sakit.

Konglomerat ini juga memiliki gedung-gedung untuk resepsi pernikahan suku Batak yang diberi nama Rumah Gorga dan tersebar di Jakarta dan Bekasi. DL Sitorus lahir di Parsambilan, Kecamatan Silaen, Toba Samosir, Sumut.

Ia kemudian pindah dan besar di Siantar. DL Sitorus menikah dengan Boru Siagian dan dikaruniai lima anak, dua perempuan dan tiga laki-laki. Sebagai putra daerah yang paling sukses di perantauan dan selalu memberikan perhatian untuk membangun kampung halaman (Bona Pasogit), nama DL Sitorus diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Bupati Toba Samosir Monang Sitorus beberapa waktu lalu, meresmikan nama Jalan DR Sutan Raja DL Sitorus.

Jalan sekitar 12 km itu terbentang mulai dari simpang Sibisa di Aek Natolu Kecamatan Lumban Julu sampai simpang Kantor Kelurahan Parsaoran Ajibata melintasi Sibisa, Bandara Sibisa, Simarata dan Motung Kecamatan Ajibata, Toba Samosir, Sumut.

Kesuksesan DL Sitorus di bisnis kelapa sawit ternyata membawanya ke panggung politik. Pada 20 Januari 2006, DL Sitorus mendeklarasikan Partai Peduli Rakyat Nasional, di mana dia menjadi tokoh utama pendiri partai ini.

Di dunia pendidikan, DL Sitorus yang memiliki perhatian lebih di dunia pendidikan menjabat sebagai Ketua Yayasan Abdi Karya (Yadika) yang berdiri sejak tahun 1976. Yadika secara bertahap telah menyelenggarakan semua strata pendidikan tingkat TK, SD, SMP, SMU, SMEA, STM, LPK dan BLK.

Tahun 1989, DL Sitorus semakin menancapkan bisnisnya di dunia pendidikan tinggi. Pada tahun itu, DL Sitorus membuka Universitas Satya Negara Indonesia (USNI), yang merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah