Cari
 Koran Toba
 1 tahun yang lalu

Kondisi Terkini Bayi Hydrosefalus Asal Lereng Sinabung Kian Memprihatinkan

Foto Caption: Rido, bayi penderita hydrosefalus asal desa Naman, kecamatan Naman Teran, kabupaten Karo saat dirawat di Rumah Sakit Sari Mutiara, Jalan Kapten Muslim, Medan, Selasa (29/8/2017). (Tribun Medan / Arjuna)

Putra kelima pasangan Bayudin (41) dan Wati (38) asal desa Naman, kecamatan Naman Teran, kabupaten Karo kini dirawat di Rumah Sakit Sari Mutiara, Jalan Kapten Muslim, Medan. Di rumah sakit ini Mereka menjalani perawatan sejak, Senin 28 Agustus kemarin.

Wati menjelaskan, rencananya Rido akan diambil tindakan operasi. Namun, belum dipastikan kapan iperasi akan dilakukan.

"Masih menunggu kapan akan dioperasi. Kita serahkan sajalah bagaimana penaganan dokter. Mudah-mudahan masih bisa sembuh,"kata ibunya saat ditemui di Ruang Delima, Lantai tiga Rumah Sakit Mutiara, Jalan Kaptem Muslim, Selasa (29/8/2017).

Kondisi Rido jauh berbeda dengan bayi normal lainnya. Kepalanya dua kali lebih besar dari kepala bayi seukuran dia.

Terlihat matanya berkedip-kedip, sedangkan urat syarafnya tampak memerah memusar di wajah dan batok kepalanya.

Di tangan sebelah kananya terpasang jarum infus, serta hidungnya dipasangi selang.

Menurut Wati, awalnya mulanya mengetahui bayinya tidak normal saat proses pengecekan rutin kandungan Wati. Dokter mendiagnosa bayi dalam kandungan Wati memiliki ukuran kepala yang besar.

"Rido baru berumur sebulan dan lahir pada 20 Juli 2017 lalu. Sewaktu dia dalan kandungan kami memang audah mengetahuinya dari dokter," jelasnya.

Kata seorang petugas medis Rumah Sakit Sei Mutiara yang enggan menyebut namanya, kepala Rido dipenuhi cairan.

"Di kepalanya terdapat banyak cairan. Tapi kabarnya dia akan segera dioperasi," ujar petugas yang mengenakan dinas berwarna biru ini saat ditanyai memindahkan Rido dari Ruanga NICU menuju Ruang rawat Delima, Lantai tiga.

Ia hanya didampingi ibunya di rumah sakit. Sedangkan ayahnya harus tetap menjalankan profesi sebagai buruh tani demi menghidupi keluarganya di Lereng Sinabung.

Wati yang mengenakan jilbab warna hitam ini menceritakan, mereka adalah satu dari sekian banyaknya korban Sinabung.

Baginya, selain kesulitan menghadapi erupsi Sinabung, kelahiran bayi laki-laki pertama pasangan ini menjadi tantangan auli dan menyedihkan.

Bayudin dan Wati sehari-hari menggantungkan hidup dengan bekerja sebagai burih tani di ladang orang. Dia dan suaminya hanya berpenghasilan rp 60 ribu perharinya.

"Apalagi sejak aku berhenti, dan harus merawat Rido penghasilan kami un berkurang. Sementara kakak-kakak si Rido butuh banyak biaya untuk sekolah dan keburuhan lainnya," keluhnya.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah