Cari
Foto Caption: Wanita Batak jaman dahulu, sumber Internet (Tidak disebut tahun dan pemotret serta lokasi pemotretan)
 Batak
 4 bulan yang lalu

Makna Sebutan “Namarbaju”, “Buha Baju”, Serta Peran Ulos Di Tengah Masyarakat Batak

Jangan tanggapi foto perempuan-perempuan Batak tempo doeloe ini sebagai pornografi. Jangan pula komentari berdasarkan pendekatan doktrin atau dogma agama-agama Samawi. Ini potret tradisi atau pola berpakaian masyarakat Batak sebelum era modernitas. Batak yg telah memiliki tata aturan, kebudayaan dan adat, yg membentuk sistem sosial berikut orientasi hidup serta nilai-nilai.

Begini, tradisi perempuan Batak pra kekristenan, menggolongkan perempuan ke beberapa status: "dakdanak" (anak-anak), "namarbaju" (anak gadis), dan "ina" (ibu, telah bersuami).

Namarbaju sering juga disebut "anakboru" dan bila baru mendapat menstruasi disebut "bajarbajar." Bila masih bajarbajar atau anakboru, maka wajib menutupi payudara, makanya disebut "namarbaju" (berpakaian penuh). Tetapi bila telah memiliki anak dan mulai menyusui anak, wilayah bagian dada boleh dibuka (buha baju). Buha artinya buka, baju artinya pakaian. 

foto jaman dahulu wanita batak

Karena itulah anak pertama disebut "anak buha baju" atau "siangkangan" atau "sihahaan"; anak tersebutlah yang pertama kali "membuka" baju ibunya (bukan pengertian harafiah) karena harus menyusu ke payudara ibunya. Tetapi, tradisi membuka badan bagian dada bukan suatu keharusan, terserah si ibu.

Ada maksud atau makna bila seorang perempuan membuka bagian dada, pria yang melihat akan tahu bahwa wanita tersebut telah menikah, karenanya tidak boleh lagi digoda atau didekati untuk dijadikan istri--kecuali "namabalu" atau janda ditinggal mati.

Pakaian atau baju manusia Batak zaman doeloe adalah ulos, hasil tenunan tiap perempuan. Menenun merupakan kegiatan utama perempuan--selain mengerjakan yang lain. Aneka ulos ditenun, bahannya semua mereka ciptakan, diambil dari alam, termasuk pewarnaan.

Tiap ulos memiliki nama, ada banyak, pula berkelas-kelas atau "derajat". Tak setiap ulos dengan motif yang memberi nama pada suatu ulos, boleh dipakai sehari-hari. Selain ulos, juga ada "sengkasengka," tak panjang, sejenis selendang dan bisa dipakai sehari-hari. 

Hasil pertanyaan-pertanyaan saya dulu (semasa lajang dan bila ke kampung) pada orangtua, tetua adat, kerabat maupun tetangga, masyarakat Batak--setidaknya penghuni Samosir--mengenal banyak jenis ulos dan kelas masing-masing--terutama aturan penggunaan.

Di antara banyak jenis ulos, yang menempati derajat tertinggi ialah "ragi idup," kemudian "ragi hotang," kemudian "sibolang." Entahlah pada masyarakat Batak lain. (Saya tidak memperdalam ulos, hanya sekadar tahu; jadi jangan tanya saya detilnya, ya).

Warna ulos zaman doeloe hanya tiga: hitam, putih, merah, Ulos-ulos yg kemudian bervariasi warna, itu produk perobahan sosial atau mengikuti zaman dan akulturasi budaya. Semua bahan pewarna diambil dari tanaman endemik Tano Batak, tak berbahan kimia, dan hasil tenun tangan selama berpekan-pekan.

Ulos memiliki guna tidak saja untuk menghangatkan tubuh, juga "tondi" (ruh). Masyarakat Batak dahulu mengenal sumber kehangatan dari: matahari, api, dan ulos.

Kehangatan (jangan diartikan harafiah) merupakan hal yg amat penting bagi masyarakat Batak masa lampau. Hangat adalah pula simbolisme atas cinta-kasih ("holong") dan untuk "manggonggom" (mengayomi atau melindungi seseorang). Juga tumpuan harapan dan keinginan, misal, memiliki jodoh, keturunan, mata pencaharian yg baik, kesehatan, umur panjang, dsb.

Karena itulah ulos diberikan pihak "hulahula", orangtua, dan Tulang (saudara lelaki dari garis ibu) saat anak lahir, menikah, memasuki rumah baru, dan ketika meninggal dunia. Lazimnya, dahulu, hanya pihak-pihak yang disebut di ataslah yang memberi ulos. Jadi, guna dan makna ulos bukan hanya untuk fisik (baju, pakaian, aksesoris). Ia memiliki makna yang dalam.

Nah, bagi orang Batak yang mengharamkan ulos, sila renungkan dalam-dalam. Bayangkan para leluhur dulu tanpa ulos, akan kedinginan sementara masa itu dunia manusia Batak belum terbuka ke dunia luar--yang menghasilkan tekstil. Bisa mati menggigil, bukan?

Maknai pula betapa luhur pikiran dan jiwa mereka (leluhur orang Batak itu), ulos bukan sekadar sandang atau pelapis tubuh. Pula bermakna spiritual. 

Bagi saya itu mengagumkan.

Maka, bagi yang anti ulos, berhentilah menghina karya dan budaya leluhur, jangan nilai dari perspektif kini atau ajaran agamawan sempit pandangan, karena itu tak adil selain kejam. Bila tak menganggap ulos penting, abaikan saja, tak perlu membuat judgment karena itu memalukan, juga pathetic.*** 

Ditulis oleh Suhunan Situmorang

Judul Asli: "Namarbaju", "Buha Baju", & Ulos

fb.com/suhunan.situmorang

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah