Cari
 Opini
 5 bulan yang lalu

Masyarakat Batak Dan Ancaman Anomie Budaya

ADA hal menarik dari kunjungan beberapa hari Presiden Joko Widodo di Tano Batak, Agustus 2016. Banyak orang mengkritisi tali-tali (ikat kepala) yang dikenakan Presiden ketika mengikuti karnaval budaya di Balige. Tali-tali itu terasa aneh dan tidak ada dalam tata-busana adat Batak. Dan itu jadi perdebatan pro-kontra yang seru di media sosial.

Kebetulan, belum lama terjadi kontroversi yang sama mengenai ulos. Dalam satu diskusi di Medan, kolektor ulos Torang Sitorus menyebut ulos yang dipakai orang Batak sekarang, yang berwarna meriah merah-merah keemasan, adalah “sampah”. Banyak orang yang marah bahkan memaki Torang karena komentar itu.

Padahal, Torang benar. Ulos Batak itu banyak jenis. Masing-masing dibuat dengan nama, filosofi, dan fungsi-fungsi adat tertentu. Ulos ragi hotang, mangiring, sibolang, sadum, dan lain sebagainya dibuat dengan cara, warna, gatip dan jungkit (motif) tertentu. Ada pakem-pakemnya. Diluar pakem-pakem itu, tidak layak disebut ulos. Tapi kain bermotif ulos, atau biasa disebut sekka. Ulos sekka-sekka tidak punya fungsi makna dan adat.

Tapi, sesungguhnya bukan hanya tali-tali dan ulos, banyak unsur budaya Batak terutama yang berkaitan dengan pelaksaan adat kini mengalami perubahan fundamental dan mendapat kritik keras. Contohnya dalam hal gondang dan tortor (tari).

Kini, dalam pelaksanaan pesta-pesta adat, perkawinan misalnya, orang manortor dengan iringan keyboard dan alat-alat musik campur-aduk, bukan dengan gondang, dengan lagu suka-suka, bahkan lagu bernada saru yang bermakna murahan. Terasa aneh, dalam pesta-pesta adat Batak, dari Jakarta hingga di kampung-kampung, kini lagu “Maumere” menjadi lagu super-favorit. Dengan cara manortor yang suka-suka pula.

Padahal tortor dan gondang itu juga ada filosofinya. Ada jenis-jenis gondang dan cara manortor. Tektek mula ni gondang, serser mula ni tortor. Gondang dan tortor itu ada mula, ada sejarah, dan aturan-aturannya.

Bagaimana bisa, orang Batak yang terkenal sebagai masyarakat adat kini melaksanakan pesta adat dengan muatan dan cara-cara yang tidak sesuai dengan nilai budaya dan adatnya? Mengenakan ulos yang bukan ulos Batak, dan manortor dengan cara manortor dan pengiring yang bukan khas adat Batak? What’s hell it is?

Anomie Budaya
Mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat Batak kini, di kota maupun di bonapasogit, memang telah dilanda gejala-gejala anomali sikap budaya. Gejala-gejala anomali yang menurut konsep sosiolog Emile Durkheim disebut anomie. Anomie dari bahasa Yunani: a = tidak; nomos = hukum.

Konsep anomie Durkheim ini secara sederhana diartikan ketiadaan norma atau nilai sosial yang bisa menjadi referensi bagi individu-individu dalam bertindak. Secara sosiologis individu umumnya bertindak dan mengambil sikap berdasarkan norma-norma atau nilai sosial yang berlaku di masyarakatnya. Nilai-nilai sosial itu menjadi referensi atau pedoman baginya.

Namun, dalam masyarakat yang mengalami perubahan dengan gencar (dalam konteks penelitian Durkheim industrialisasi di Eropa tahun 1800-an) terjadi juga perubahan nilai-nilai dan norma-norma dengan cepat, sehingga nilai-nilai lama mengalami erosi dan kehilangan kemampuan untuk mengikat masyarakat. Akibatnya adalah, tidak ada referensi bagi individu dalam bertindak. Individu akhirnya bertindak sendiri-sendiri, dengan caranya sendiri, sesuai dengan karakter dan mentalitasnya sendiri. Itulah anomie.

Dalam keterasingan yang tanpa norma ini, menurut Durkheim, sangat memungkinkan terjadi social disorder, kekacauan sosial, terutama dalam hal nilai, karena tidak ada lagi nilai pengikat bersama.

Filsuf Habermas menyebut anomie seperti yang dialami masyarakat Batak saat ini sebagai contoh dari patologi masyarakat modern. Patologi atau penyakit sosial ini, menurut 
Habermas, terjadi karena kolonisasi dunia kehidupan oleh dunia sistem.

Dunia kehidupan adalah dunia kultural, dunia kekerabatan, dunia asli suatu komunitas (dalam konteks ini masyarakat Batak). Hubungan adat-istiadat, parmargaon, kekerabatan dalihan na tolu, kekeluargaan satu ompu, parsahatuaon, agama, termasuk dalam dunia ini. Orientasi tindakan di dunia bukan untuk hasil-hasil pragmatis atau kepentingan individu, tapi pemahaman, harmoni dan solidaritas bersama. Nilai-nilai kebudayaan bersama, moral dan etika dihayati, dipelihara, dikembangkan dan diwariskan bersama.

Sementara dunia sistem berprinsip pragmatis, berorientasi hasil dan untung rugi. Persoalan terjadi ketika dunia sistem menjajah dunia kehidupan. Dunia kehidupan yang tadinya berprinsip harmoni, kelestarianan tradisi, dan pengutamaan nilai-nilai kultural itu menjadi diatur oleh prinsip-prinsip dunia sistem yang egois dan berorientasi sukses. Semua diatur dan diukur berdasarkan sukses, materi, dan kemegahan lain. Akibat dari keterjajahan dunia kehidupan ini dapat terlihat jelas dalam tiga bidang: bidang kebudayaan, individu dan sosial.

Akibat dari penjajahan dunia sistem atas dunia kehidupan ini, kata Habermas, rusaknya tatanan nilai-nilai sosio-kultural masyarakat. Dalam bidang kebudayaan hilangnya atau tumpulnya nilai sebagai pegangan dalam bertindak. Hilangnya penghargaan terhadap tradisi, karena dianggap tidak berfungsi lagi. Terjadi krisis orientasi, karena tidak ada lagi pegangan nilai dalam bertindak. Orang menjadi aneh-aneh.

Contohnya pesta-pesta adat Batak yang tidak jelas lagi didasarkan atas prinsip atau nilai apa. Sekalipun hingga tingkat tertentu masyarakat Batak masih hidup secara tradisional sebagai masyarakat adat, tapi dari segi nilai, mereka hidup dalam dunia dengan nilai-nilai modern yang tidak sesuai dengan adat tersebut. Contohnya ulos yang bukan ulos, gondang yang bukan gondang, dan tortor yang bukan tortor tadi.

Bagaimana mengatasi hal ini? Menurut Habermas, komunitas itu sendiri harus sungguh-sungguh menyadari krisis yang sedang terjadi dan lalu secara komunikatif, bersama-sama dan tanpa bermaksud untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri, membicarakan cara bagaimana membendung penjajahan dunia sistem atas dunia kehidupan tersebut.

Mungkinkah? Saya pribadi pesimis. Karena anomie budaya Batak sudah merasuk dari kota hingga kampung-kampung di bonapasogit. Bukti lain, kontroversi pro-kontra yang begitu sengit soal tali-tali dan ulos tadi. Sikap, pandangan orang Batak tentang nilai Habatahon ternyata sudah begitu beragam dan cenderung ekstrim.

Lebih dari itu, karena motor dari ideologi egois dan suka-suka ini adalah orang Batak sendiri, terutama kaum elite berpangkat dan berada. Status mereka membuat tokoh-tokoh adat Batak, para tetua marga dan raja adat tak berdaya. Mereka tak mampu membendung, dan akhirnya membenarkan dan menonton saja perubahan yang salah tersebut. Ketidakmampuan itu akhirnya menghancurkan nilai-nilai budaya dan adat Batak sendiri.

Ancaman dan Jalan Pulang
Ada hal yang sangat berbahaya dalam anomie budaya ini. Pada akhirnya, ketidakpedulian ini akan merembet ke hukum-hukum adat yang lain yang lebih krusial, misalnya hukum adat dalam pertanahan.

Hampir semua tanah di Tano Batak merupakan tanah adat, yang diperolah turun-temurun dari induk marga, anak marga, raja, ompu, sampai keluarga-keluarga. Huta (kampung), parjumaan (perladangan), harangan (hutan), jampalan atau jalangan (penggembalaan ternah), adalah ripe-ripe (milik bersama). Ada tanah yang sudah menjadi milik keluarga (pangumpolan), seperti sawah, kebun, pertapakan rumah, tapi tidak bisa diperjual-belikan ke pihak lain. Ini sudah menjadi hukum positif tenurial (pertanahan) dalam masyarakat Batak.

Tapi, dengan terjadinya anomie budaya suka-suka, serta penjajahan dunia sistem yang pragmatis terhadap harmoni dunia kehidupan, hukum masyarakat adat Batak ini bisa terancam buyar. Karena naiknya nilai tanah, membuat orang Batak membagi-bagi tanah adat dan membuat sertifikat, misalnya.

Jika itu terjadi, masyarakat dan adat Batak, yang termasuk masyarakat adat yang tua dan berbudaya tinggi di Nusantara terancam punah. Karena bisa jadi kelak orang akan berani kawin semarga, tidak lagi menghormati hula-hula, dan menabrak sisa-sisa hukum adat yang lain. Bagaimana bisa, orang mengaku jadi orang Batak, dengan entitas budaya yang bukan Batak? Batak akan habis... dengan ironis. *

* Esei budaya ini dimuat di PRAKARSA, media bulanan terbitan KSPPM

Oleh Nestor Rico Tambunan

Dikutip dari Facebook Post
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah