Cari
 Opini
 3 bulan yang lalu

Ternyata Batak (dulu) Tidak Romantis

Foto Caption: Ilustrasi

Melihat bilik tempat tidur dan struktur Ruma di museum Batak pada umumnya, saya semakin menyadari bahwa Batak dahulu kala, sangat jauh dari kesan romantis di jenjang rumah tangga.

Sebuah dipan kayu yang terbuat dari kayu Ulin yang keras, biasanya berukuran 1-1.5x1.5 sangat jauh dari kesan mewah, nyaman, lembut, dan romantis. Kesan kaku, gothic, dan hanya beralaskan lage tiar (tikar pandan) untuk meredam hawa dingin. Bayangkan seorang Raja dan Istri-Istrinya tidur di tempat seperti itu sepanjang hidup mereka.

bilut, bilik atau dipan tradisional Batak

Bilut, bilik atau dipan tradisional suku Batak

Paling ekstrim adalah bilik kamar kayu yang saya kunjungi di Rumah Bolon Raja Purba. Posisi bilik pengawal/panglima/hulubalang raja yang persis berada di kolong dipan Raja. Dalam arti, semua aktivitas ranjang Raja, sangat gampang di monitor pengawal raja. Saya tarik kesimpulan, pengawal Raja pasti merupakan orang paling dipercaya Raja Purba tersebut. Bila tidak segala urusan pribadi, dari aktivitas ranjang sampai pembicaraan raja, rentan tersebar ke masyarakat umum.

Meski tradisi merantau (Mangaranto) serta Manjae sudah umum terjadi, namun tidak jarang dalam keluarga Batak jaman dulu tinggal dalam satu Ruma* atau Sopo**.

Dalam tradisi kuno, wilayah privasi keluarga yang tinggal satu atap, dibagi berdasarkan sudut dan tiang utama penyangga Ruma atau Sopo (umumnya berdiameter lebih dari 50cm). Dan biasanya hanya dibatasi kain yang terpasang jika ada urusan privasi saja.

ruma sopo batak

Ruma (Kiri) dan Sopo (Kanan), umum disebut Jabu, rumah tradisional Batak Toba

Maka bisa diambil kesimpulan, betapa kaku dan kikuknya aktivitas suami istri dalam kehidupan keluarga besar Batak. Tak jarang, hal-hal privasi suami istri hanya berlangsung sekedar dan sekilas saja, dipadukan dengan rasa lelah setelah bekerja di sawah dan ladang siang harinya.

Dalam kitab-kitab kesehatan dan tabib (dukun) jarang ada ditemukan tulisan atau dokumentasi yang membahas sex dan organ intim. Membicarakan hal tersebut jelas sangat tabu dalam masyarakat Batak.

keluarga batak

Keluarga Batak berfoto di depan Jabu Ruma, rumah tradisional Batak Toba

Mari kita bandingkan dengan budaya lain misalnya kamasutra dalam budaya India dan Hindu, atau tradisi Gowok dalam budaya Jawa. Atau bandingkan dengan bilik-bilik pengantin dalam budaya Melayu atau Padang, dimana para pengantin Muda akan mendapat bilik utama yang jauh lebih nyaman.

Dalam tradisi rumah Gadang Minang yang juga menganut sistem banyak keluarga dalam satu atap, pasangan muda akan mendapatkan bilik utama, dan pasangan yang berumur akan semakin dekat dengan dapur.
****
Dijaman modern para generasi muda Batak semakin banyak belajar dari perbandingan tatacara modern dipadu filosopi adat Batak, memilah mana tatacara dan perlakuan yang cocok untuk hidupan keluarga masa kini.

Menghargai pribadi suami istri sudah merupakan suatu kebutuhan utama. Tapi tak jarang masih banyak pasangan Batak yang terkesan kaku dan malu untuk mengekspresikan romantisme. Bisa karena meman pembawaan sifat pribadi. Bisa juga rasa canggung akan adat dan tradisi.

Sejauh ini secara pribadi saya termasuk tipikal orang yang canggung akan romantisme. Tapi tak jarang pula saja menyisipkan sedikit sisi romantis dalam moralitas kaku untuk menambah kesan kelembutan dalam kerasnya pribadi seorang pria.

Semoga para pasangan Muda Batak mampu menjadi keluarga yang bahagia, merebak sekat-sekat kecanggungan, menyisipkan sentuhan cinta kasih tetap kokoh dalam adat dan budaya Batak sebenarnya.

Oleh Ondo Alfry Simanjuntak

* Rumah tradisional Batak untuk para Raja (royals)

** Rumah tradisional rakyat Batak (commoners)

Tags
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah