Cari
 Batak
 5 tahun yang lalu

Kisah Legenda Namboru Boru Saroding Penghuni Tao Palipi

Foto Caption: Foto Sopo Partonunan Boru Saroding Pandiangan Boru Raja Parhutala Pandiangan Di Huta Godang Pandiangan Palipi Urat Samosir.

Legenda Namboru Boru Saroding dituturkan dalam bahasa Indonesia, agar penyampaian informasi yang bertujuan mudah dibaca dan diketahui oleh Pecinta Seni Budaya Sejarah Tanah Air, terkhusus Anak Cucu Keturunan Toga Pandiangan.

Saya melakukan edit terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia tanpa mengurangi atau mengubah fakta dan tujuan dari Legenda Namboru Boru Saroding.

Untuk itu, terlebih dahulu saya memohon Maaf yang sebesar-besarnya, kepada Namboru Boru Saroding, Amangboru, dan kepada keluarga besar saya, TOGA PANDIANGAN, jika terdapat kesalahan disana-sini dalam penulisan cerita ini.

Saya dengan segenap hati saya, slalu menerima kritikan dan saran yang membangun demi meluruskan kisah Namboru kita ini.

Suatu hari menjelang siang, Namboru Boru Saroding pergi ke Danau Toba untuk mandi sekaligus mencuci pakaian, tepatnya di tepi danau tempat tinggal orang tuanya yang terletak di antara Palipi-Mogang (Kecamatan Palipi Kab.Samosir) yang bersebelahan dengan Rassang Bosi dan Dolok Martahan.

Boru Saroding terkenal dengan kecantikannya, konon pada jaman itu Boru Saroding diklaim sebagai Putri tercantik dari seluruh Putri/Boru Pandiangan. Karena kecantikannya, banyak Pemuda yang datang dari kampung lain bahkan dari seberang Danau Toba untuk merayunya (Manandangi) akan tetapi tak satupun yang mampu menaklukkan hatinya baik yang kaya ataupun yang tampan.

Pemuda yang datang, pulang tanpa hasil. Namun pemuda-pemuda tersebut juga tidak merasa sakit hati karena Boru Saroding menyambut mereka dengan sopan dan ramah.

Boru Saroding yang dikenal pendiam, sopan, taat akan orang tua dan baik hati terhadap teman-temannya, pandai membuat Ulos Batak. Dia sangat ulet dalam pekerjaannya.

Keuletannya itu membuat orang tuanya cukup heran sekaligus bangga terhadap putrinya. Boru Saroding yang dalam adat Batak, mempunyai sifat dan sikap yang sangat baik, merupakan calon menantu idaman yang sangat dicari oleh putra raja.

Ketika Boru Saroding sedang mandi dan membilas rambutnya yang panjang dan indah di tepi Danau Toba, tiba-tiba sebuah sampan yang ditumpangi seorang pemuda tampan dan berwibawa yang berdiri di atas sampan datang menghampiri Boru Saroding.

Melihat pemuda yang mengenakan Ulos Batak dan melihat tampangnya, Boru Saroding berpikir bahwa pemuda tersebut bukanlah seorang nelayan biasa seperti yang sering dilihat disekitar pantai Danau Toba.

Ketika Pemuda bersampan tersebut semakin dekat ke tempat dimana Boru Saroding berkeramas jeruk purut (Anggir dlm Bahasa Batak) hati Boru Saroding berdebar dan bertanya-tanya dalam hati, “Siapakah pemuda ini?” seraya bergegas dengan cepat membersihkan rambutnya, karena merasa malu dipandangi seroang pemuda sedang mandi.

Dengan tergesa-gesa Boru Saroding pun selesai mandi dan beranjak dari pantai menuju kediaman orang tuanya. Akan tetapi ketika Boru Saroding hendak melangkah, sang Pemuda pun berkata kepada Boru Saroding,

“Putri Raja.. kenapa tergesa-gesa pulang??” tanya pemuda tersebut kepada Boru Saroding.

Seketika langkah Boru Saroding pun terhenti karena terkejut dan seraya melirik ke arah Pemuda yang memanggil nya.

“Pemuda ini tampan dan berwibawa ya” penilaian Boru Saroding dalam hati.

“Kebetulan masih banyak pekerjaan saya yang harus saya selesaikan di rumah kami” dalih Boru Saroding kepada Pemuda tersebut.

Si Pemuda Tampan dan Berwibawa tersebut pun menghampiri Boru Saroding seraya memperkenalkan diri. Tempat asalnya dari Rassang Bosi (Desa Sabulan Kec.Sitio tio) yang disebut Ulu Darat kepada Boru Saroding.

Dengan hormat Sang Pemuda pun menyampaikan maksud dan tujuannya menemui Boru Saroding sekaligus berniat agar Boru Saroding mau memperkenalkan pemuda tersebut kepada kedua orang tua Boru Saroding.

Karena dari awal Boru Saroding melihat pemuda tersebut sudah terkesan dengan Ketampanan dan Kewibawaan sang pemuda, Boru Saroding pun merasa senang dan menyetujui permohonan sang pemuda, merekapun bergegas berjalan bersama menuju rumah Boru Saroding.

Ketika Boru Saroding dan Pemuda tersebut tiba di rumahnya, seketika Orangtua dan saudara-saudarinya merasa kagum akan tampang dan cara bicara sang pemuda yang datang bersama Boru Saroding, mereka serasa disulap melihat sang pemuda tersebut yang berbadan kekar tersebut.

Singkat cerita, Sang Pemuda tersebutpun menyampaikan niat baiknya yang ingin mempersunting Boru Saroding sebagai istrinya kepada Kedua Orang Tua dan Saudara-Saudari Boru Saroding.

Guru Solandason (Ayah dari Boru Saroding) meminta tanggapan dari putrinya Boru Saroding, apakah putrinya Boru Saroding menyukai pemuda tersebut, Boru Saroding pun menyatakan bahwa putrinya suka dan mau menjadi istri Pemuda tersebut.

Tak lama kemudian, Guru Solandason memberitahukan kepada Sanak saudaranya.

Dan selanjutnya Pemuda tersebut dan Boru Saroding pun mendapat restu dari kedua orangtua Boru Saroding.

Kemudian Upacara Adat Pernikahanpun segera dilaksanakan di tempat tinggal Boru Saroding. Setelah acara adat selesai merekapun diberangkatkan menuju tempat dimana Suami Boru Saroding tinggal.

Merekapun naik sampan menuju Rassang Bosi, akan tetapi Boru Saroding sangat terkejut dikarenakan mereka begitu cepat sampai disana.

Boru Saroding pun semakin heran karena suaminya menceritakan tempat tinggalnya di atas gunung di tengah hutan, Tombak Ulu Darat.

Namun Boru Saroding tidak terlalu kawatir karena ketika mereka berjalan melewati jurang yang dalam dan terjal ditambah hutan yang begitu liar, Sang Suami menuntun langkahnya, memegang tangan Boru Saroding sehingga Boru Saroding tak sedikitpun merasa lelah bahkan suaminya terlihat kuat tanpa keringat melewati daerah yang cukup melelahkan untuk di lalui.

Tidak berapa lama kemudian, Boru Saroding dan Suaminya tiba di rumah Suaminya. Merekapun istirahat hingga tertidur pulas sampai keesokan harinya ketika menjelang pagi Boru Saroding pun terbangun namun Boru Saroding tidak melihat Suaminya sehingga Boru Saroding melihat ke samping rumah dan ke belakang rumah.

Kemudian ketika Boru Saroding hendak melihat suaminya ke depan rumah, Boru Saroding pun tersentak karena terkejut melihat seekor ular berukuran sangat besar melintas di halaman depan rumah suaminya.

Tiba-tiba dengan sangat tergesa-gesa Boru Saroding menutup pintu rumah karena merasa sangat terkejut dimana Boru Saroding sebelumnya tidak pernah melihat ular yang ukurannya sangat besar dan memiliki kepala yang tidak seperti kepala ular pada umumnya.

Dengan rasa takut yang luar biasa dan rasa heran, Boru Saroding pun duduk diam terpaku di dalam rumah. Tak lama kemudian, Boru Saroding pun mendengar suara Suaminya memanggil namanya.

Sehingga Boru Saroding dengan segera bergegas membukakan pintu rumah untuk suaminya dan langsung mengatakan “Tadi saya melihat seekor ular besar dengan kepala yang aneh melintas dari halaman rumah kita menuju pohon besar di hutan” kata Boru Saroding kepada Suaminya.

Kemudian Suaminya menjawab pertanyaan Boru Saroding “Tidak usah takut, ular itu ular yang baik dan tidak mengganggu”.

Mereka menjalani dan melalui hari ke hari dengan kebahagian karena Suami Boru Saroding selalu memenuhi kebutuhan mereka tanpa kekurangan bahkan Suami Boru Saroding cukup pintar menghibur Boru Saroding dengan canda dan tawa, serta memiliki perhatian dan kasih sayang yang begitu besar kepada Boru Saroding.

Dia berusaha mencarikan buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang mampu membuat kecantikan Boru Saroding terawat. Semua hal tersebut dilakukan dan dipenuhi Suaminya dengan sangat sangat mudah tanpa ada keluhan apapun sehingga mereka hidup dalam kebahagian melalui hari-hari rumahtangga mereka.

Akan tetapi semakin lama Boru Saroding pun merasa heran yang dari hari ke hari semakin bertambah kecurigaanya terhadap cara hidup Suaminya yang penuh kemudahan hingga pada suatu saat tanpa sengaja Boru Saroding melihat Suaminya di bagian atas rumah (Para-Para dlm Bahasa Batak) sedang berubah wujud menjadi seekor ular berukuran sangat besar persis seperti ular yang pernah Boru Saroding lihat sebelumnya.

Namun Boru Saroding berura-pura tidak melihat kejadian tersebut karena merasa takut Ular tersebut marah kepada Boru Saroding.

Kemudian ular tersebut melintas keluar dari rumah menuju hutan hingga Boru Saroding tinggal sendirian di dalam rumah.

Boru Saroding merasa sangat terpukul dan merasa menyesal yang begitu mendalam karena tanpa berpikir panjang dan tanpa mengenal lebih jauh siapa laki-laki tersebut hingga menerima permintaannya menadi istrinya karena Boru Saroding telah mengetahui bahwa Suaminya bukan manusia biasa.

Menjelang sore, suaminyapun kembali dari hutan membawa bekal berupa buah-buahan, daging Rusa, Burung. Kemudian Boru Saroding pun bergegas menyambut suaminya membawa hasil yang dibawa suaminya ke dapur untuk dimasak dan dijadikan untuk makan malam.

Setelah Boru Saroding selesai menyiapkan makan malam, merekapun makan malam bersama di rumah yang berada di tengah hutan rimba tersebut dimana selama ini suaminya tinggal.

Setelah usai makan malam, merekapun berbincang-bincang dan dengan jujur Suaminya memberitahukan siapa dia sebenarnya kepada istrinya Boru Saroding,

“Saya sebenarnya adalah Penguasa Ulu Darat, yang bisa berubah-ubah wujud dari manusia menjadi ular dan dari ular menjadi manusia” tegas Suaminya kepada Boru Saroding.

Akan tetapi Boru Saroding cukup pintar menyembunyikan rasa takut dan penyesalannya yang sangat dalam kepada suaminya. Boru Saroding hanya tersenyum kepada Suaminya, sehingga suaminya merasa senang karena melihat istrinya Boru Saroding tidak terkejut atas pengakuannya yang jujur kepada Boru Saroding.

Hingga suatu ketika, kedua saudara Boru Saroding datang berkunjung ke rumah Boru Saroding yang berada di antara pegunungan di tengah-tengah hutan yang dinamai Tombak Ulu Darat.

Karena kedua saudaranya sudah sangat merindukan Boru Saroding yang merupakan saudari perempuan tersayang mereka. Boru Saroding pun merasa sangat bahagia karena sudah dikunjugi oleh saudaranya sehingga dengan sangat gembira.

Boru Saroding pun menyajikan berbagai aneka makanan dan buah-buahan kepada kedua saudaranya tersebut. Sembari menikmati makanan yang banyak, mereka bercerita dan berbincang-bincang hingga rasa rindu mereka terobati hingga waktu tidak terasa sudah berlalu lama.

Senja pun tiba, seperti biasanya Boru Saroding tahu jika Suaminya akan segera kembali dari hutan dan dengan tergesa-gesa Boru Saroding berusaha mengajak kedua saudaranya untuk bersembunyi di bagian atas rumah di bawah atap karena Boru Saroding sudah mendengar suara-suara pertanda suaminya akan datang.

Karena Boru Saroding merasa ketakutan dimana Boru Saroding tahu bahwa ular tersebut mau memakan manusia, kedua saudaranya pun bersembunyi agar tidak terlihat oleh Suami Boru Saroding.

Suami Boru Saroding pun tiba di rumah, tiba-tiba suaminya tampak heran dan sepertinya mencium sesuatu yang lain dari yang lain dan bertanya “Sepertinya saya mencium darah manusia lain di rumah ini” kepada isterinya Boru Saroding.

Dengan tergesa-gesa Boru Saroding berupaya mengalihkan pembicaraan dengan cepat menghidangkan makan malam suaminya.

Kemudian Suami Boru Saroding selesai makan malam, selanjutnya Boru Saroding mengajak Suaminya untuk beristirahat. Ketika mereka hendak beristirahat, sesekali dengan tampak yang penuh curiga.

Suami Boru Saroding bertanya, “Saya mencium ada orang lain di rumah ini?” tanya suaminya kepada Boru Saroding.

“Ah… sudahlah, itu hanya perasaanmu saja, tidak ada orang lain di rumah ini” jawab Boru Saroding dengan rasa takut yang luar biasa kepada Suaminya.

“Ini sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat saja” ajak Boru Saroding kepada suaminya yang masih tetap bertingkah aneh penuh curiga.

Karena tidak tahan lagi Boru Saroding menyembunyikan rasa takutnya kepada suaminya, kemudian Boru Saroding pun memberitahukan keberadaan kedua saudaranya kepada Suaminya,

“Ampuni .. saya suamiku, karena aku telah membohongimu” kata Boru Saroding kepada Suaminya.

“Benar di rumah ini ada orang lain selain kita, karena saya beripikir engkau akan marah jika engkau tahu saudara-saudaraku datang mengunjungi kita ke tempat ini” aku Boru Saroding dihantui rasa takut yang sangat besar kepada Suaminya.

“Mereka datang karena sudah sangat rindu kepada kita” kata Boru Saroding sambil memohon dan membujuk Suaminya.

Kemudian Suami Boru Saroding meminta agar kedua saudara Boru Saroding dipanggil untuk datang menghadap suaminya.

Dengan perasaan yang masih dihantui ketakutan, Boru Saroding pun memanggil kedua saudaranya keluar dari tempat persembunyian mereka di bagian atas rumah di bawah atap rumah (Dalam Bahasa Batak disebut Bukkulan Ni Ruma).

Kemudian kedua saudara Boru Saroding menghampiri Suami Boru Saroding seraya saling bersalaman dan tidak seperti ketakutan yang dibayangkan oleh Boru Saroding, justru kedua saudara Boru Saroding tampak gembira bercerita dengan suaminya hingga saking asiknya pembicaraan mereka (Suami dan Saudara Boru Saroding) tidak terasa waktupun sudah menjelang pagi.

Setelah pagi hari tiba, kedua saudara Boru Saroding berniat untuk kembali ke Samosir, sehingga kedua saudaranya memberitahu kepada Boru Saroding bahwa mereka akan kembali ke Samosir pagi ini.

Boru Saroding pun mengajak kedua saudaranya untuk mohon pamit kepada Suaminya.

Ketika hendak berpamitan, salah satu saudara Boru Saroding berkata “Lae, kami akan segera pulang ke Samosir, Lae kasih apa sama kami untuk kami bawa pulang ke Samosir?” tanya saudara Boru Saroding kepada suami Boru Saroding.

“Trimakasih Lae karena telah datang berkunjung kesini” jawab Suami Boru Saroding kepada kedua saudaranya sambil memberikan 2 (dua) buah bingkisan yang di balut kain dan diikat dengan tali kepada Pandiangan (Kedua Saudara Boru Saroding), seraya berpesan : “Hanya saja ada syarat yang harus dipenuhi oleh Lae” kata Suami Boru Saroding.

“Apa saja syaratnya Lae?” tanya kedua saudara Boru Saroding kepada suami saudarinya itu.

“Sesampainya di Samosir, bingkisan ini jangan dibuka akan tetapi lae harus menunggu hingga 7 (tujuh) hari lamanya baru Lae Pandiangan bisa membuka bungkusan ini” pesan suami Boru Saroding kepada kedua saudara Boru Saroding.

Kedua Saudara Boru Saroding menjawab “Ia Lae, akan kami penuhi pesan lae”.

Kemudian Pandiangan (Kedua saudara Boru Saroding) pun pamit dan beranjak pulang melewati hutan yang cukup mengerikan, melalui lembah dan jurang-jurang yang terjal hingga kedua saudara Boru Saroding pun tiba di tepi pantai Desa Sabulan.

Selanjutnya mereka menaiki sampan untuk menyebrang ke Pulau Samosir.

Setelah mereka tiba di rumah masing-masing dimana pada saat itu kedua saudara Boru Saroding (Pandiangan) sudah menikah dan tinggal dirumah bersama isteri masing-masing, mereka menceritakan perjalanan yang ditempuh kepada isteri mereka masing masing, mereka menunjukkan bingkisan (Gajut) yang mereka bawa kepada isterinya.

Salah satu dari Pandiangan (Saudara Boru Saroding) bersungut-sungut karena merasa kesal dengan hanya menerima bingkisan (Gajut) kecil dari Laenya yang sudah bersusah paya mengunjungi Lae dan saudarinya di tengah hutan diatas gunung Ulu Darat tersebut.

“Masa jauh-jauh dari Samosir ke Ulu Darat hanya dikasih bungkusan kecil kek gini, itupun pake syarat pula itu” kata salah satu saudara Boru Saroding kepada istrinya.

Pendek cerita, karena tidak sabar menunggu hari yang telah dipesankan oleh Laenya ditambah rasa penasaran yang cukup besar, maka Pandiangan (Sudara Boru Saroding) membuka bungkusan tersebut.

Karena tidak sesuai dengan pesan Suami Boru Saroding, maka bungkusan yang dibuka salah satu saudara Boru Saroding tersebutpun hanya berisikan: Tanah, Kunyit, Potongan Kayu kecil dan ulat-ulat.

Merasa dihina, Pandiangan (salah satu saudara Boru Saroding yang membuka bungkusan tersebut) pun marah dan mengucapkan makian terhadap suami Boru Saroding,

“Kurang ajar,,, masa kek gini cara dia menghargai saya selaku saudara laki-laki Boru Saroding. Tidak tahu sopan terhadap keluarga istrinya..!!!” kata salah satu saudara Boru Saroding lalu membuang bungkusan yang dibuka tersebut sebelum waktunya.

Kemudian Pandiangan membujuk dan mengajak adiknya Pandiangan paling bungsu untuk turut membuka bungkusan yang diberikan oleh Laenya tersebut, “Buka aja dik bungkusannya, mungkin isinya sama saja seperti yang telah abang buka tadi” kata Pandiangan yang tadi kepada saudaranya.

Akan tetapi Pandiangan paling bungsu tetap tidak mau membuka bungkusan tersebut dan bertahan memenuhi pesan yang telah disampaikan oleh Laenya (Suami Boru Saroding).

Setelah hari ke 7 (tujuh) tiba, sesuai dengan pesan Laenya, maka Pandiangan paling bungsu pun membuka bungkusan tersebut dan ketika bungkusan tersebut dibuka, tiba-tiba keluar ulat-ulat yang jumlahnya sangat banyak dari bungkusan akan tetapi dalam hitungan beberapa detik, ulat-ulat yang tadinya keluar dari bungkusan tersebut berubah menjadi kerbau dan sapi dengan jumlah yang sangat banyak juga.

Saking banyaknya jumlah sapi dan kerbau tersebut, hingga lokasi pekarangan perkampungan tersebut terlihat padat. Sementara kunyit yang keluar dari bungkusan tersebut berubah menjadi emas dengan jumlah yang cukup banyak dan potongan kayu kecil pun berubah menjadi batang pohon yang memadati lokasi perkampungan Pandiangan paling bungsu.

Beberapa bulan kemudian, ternak sapi dan kerbau yang dimiliki Pandiangan paling bungsu semakin lama semakin bertambah banyak jumlahnya sementara hasil pertanian dan pohon yang dimilikinya ikut bertambah banyak sehingga Pandiangan paling bungsu semakin terkenal sebagai warga paling kaya di daerah tersebut.

Setelah hampir ½ tahun kemudian, karena sudah sangat rindu akan kampung halamannya, terlebih-lebih kepada Orangtua dan saudara-saudaranya di Samosir, maka Boru Saroding pun meminta ijin kepada suaminya untuk diberikan kesempatan pulang ke kampung halaman guna mengobati rasa rindunya tersebut.

“Suamiku… saya sudah rindu akan kampung halaman, saudara-saudaraku dan terlebih lebih orang tuaku di Samosir, ijinkan saya menjenguk mereka, saya tidak akan lama lama disana” Kata Boru Saroding kepada Suaminya.

Dengan berat hati Suami Boru Saroding menjawab : “Sepertinya saya punya firasat buruk jika aku ijinkan engkau berkunjung ke Samosir, sepertinya engkau tak akan kembali lagi ke tempat kita ini (Ulu Darat)”

Boru Saroding pun tidak putus asa dan tetap berupaya membujuk suaminya agar Boru Saroding diberi ijin seraya berusaha memberikan kepercayaan kepada Suaminya.

“Suamiku… saya janji jika engkau ijinkan saya ke Samosir, saya akan pulang karena saya tidak mungkin meninggalkan suamiku sendiri yang telah memberikan saya kebahagian dan telah memberikan aku kasih sayang.

Saya hanya sebentar di Samosir setelah itu saya akan pulang ke sini (Ulu Darat)” jelas Boru Saroding kepada Suaminya.

Karena Boru Saroding sudah memohon dan memberikan penjelasan yang cukup meyakinkan suaminya, maka suami Boru Saroding pun mengijinkan Boru Saroding untuk bertamu ke Samosir tempat tinggal mertuanya, sehingga suaminya mengantarkan Boru Saroding ke tepi pantai Danau Toba untuk menyeberangkan istrinya ke Samosir.

Dengan penuh keajaiban, suami Boru Saroding memetik sepucuk daun pohon kemudian meletakkannya di tepi Danau dan tiba-tiba daun tersebut berubah menjadi sebuah sampan.

Setelah itu suami Boru Saroding mempersilahkan Boru Saroding memasuki sampan tersebut. Kemudain Suami Boru Saroding berkata : “Boru Saroding istriku yang baik hati, engkau adalah putri raja yang telah menjadi istrik. Engkau berjanji akan cepat kembali dari Samosir karena kita saling mencintai dan saling menyayangi.

Jadi kumohon dengan sangat, agar engkau penuhi janjimu dan cepat pulang ya isteriku, saya juga percaya akan apa yang telah engkau janjikan kepadaku..” kata suaminya kepada Boru Saroding.

Boru Saroding pun mengangguk seraya meng-ia kan perkataan suaminya dan berkata “Baik Suamiku, percayalah… saya akan cepat pulang dari Samosir, engkau boleh membuat sumpah” kata Boru Saroding kepada suaminya dengan usaha untuk tetap menyakinkan suaminya agar rencananya dapat berjalan lancar.

Lalu Suami Boru Saroding pun mengucapkan sebuah sumpah :

“Dekke Ni Sabulan Tu Tonggina Tu Tabona, Manang ise si ose padan..Turipurna tu magona” (Dalam bahasa Indonesia diartikan bahwa : Setiap Orang yang Ingkar Janji/Sumpah maka Ia akan menanggung akibat buruk).

Dengan perasaan sedih yang mendalam di hati Suami Boru Saroding mendorong sampan.

“Berangkatlah istriku Boru Saroding” kata Suaminya kepada Boru Saroding sambil melepas sampan yang dinaiki Boru Saroding ke arah Danau Toba yang saat itu situasi tampak damai tanpa angin dan tanpa gelombang.

Bahkan saat itu, cuaca di langit tampak begitu cerah. Setelah Boru Saroding mendayung sampannya sekitar 5 (lima) meter dari bibir pantai, Boru Saroding pun berkata dengan pelan seperti berbisik “Beughhh…bursik ma ho….…., kupikir engkau manusia…ternyata engkau hanya seekor ular dan hanya hantu berwajah manusia.

Kau kira saya akan kembali lagi ke Ulu Darat, tempat yang mengerikan itu? Dasar hantu berwajah manusia, berbadan ular.” Kata Boru Saroding dengan pelan sambil tergesa-gesa mendayung sampannya yang dibarengi rasa kecewa serta ketakutan.

Tiba tiba, cuaca di langit berubah menjadi gelap, angin putting beliung, hujan dan suara petir datang sehingga ombak besar mulai muncul di Danau Toba dimana Boru Saroding sedang melintas dengan sampannya.

Melihat situasi yang tiba-tiba berubah, Boru Saroding pun menjerit-jerit ketakutan, dengan sekuat tenaga.

Boru Saroding pun berupaya mengendalikan sampannya. Tiba-tiba muncullah ombak yang sangat besar menuju Boru Saroding sehingga Boru Saroding pun tak mampu mengendalikan sampan yang ditumpanginya.

Boru Saroding dan sampannyapun ikut terseret gelombang besar tersebut. Tak lama kemudian Boru Saroding pun hanyut dibawa arus air ke dasar Danau Toba.

Semenjak kejadian itu hingga sekarang, Boru Saroding tidak dapat ditemukan dan menurut keyakinan Orang Batak, khususnya warga Pulau Samosir, menyakini bahwa Boru Saroding menjadi arwah penjaga Danau Toba sampai saat ini.

Banyak warga yang masih meyakini hal tersebut bahkan sesuai dengan kesaksian beberapa keturunan Pandiangan masih meyakini kalau arwah Boru Saroding konon dikatakan jika ada sebuah kapal yang sedang melintas di perairan

Danau Toba dengan kondisi cuaca buruk dan gelombang/ombak besar maka salah satu penumpang kapal yang merupakan keturunan Pandiangan atau masih keluarga dari marga Pandiangan dapat meminta pertolongan melalui doa kepada Boru Saroding agar ombak besar dan angin kencang yang sedang menghalau kapal tersebut dihentikan oleh Arwah Boru Saroding.

Akan tetapi hal ini ternyata benar-benar terbukti karena hanya dengan memakan Sirih lalu berdoa memohon bantuan Arwah Boru Saroding, maka kendala apapun yang sedang dialami oleh kapal tersebut, akan dihentikan.

Hingga kini sebagian besar warga Samosir masih meyakini legenda serta keberadaan Arwah Boru Saroding.

Dan warga menyebutnya Namboru Boru Saroding Penunggu Danau Toba wilayah Rassang Bosi, Dolok Martahan, Palipi, Mogang, Sabulan Janji Raja, Tamba, Simbolon, dan Hatoguan.

Dan dipesankan kepada seluruh warga yang berkunjung dan melewati daerah tersebut diminta agar tidak membuang ludah/sampah ke Danau serta tidak boleh berbicara kotor karena konon katanya orang yang tidak memenuhi pesan tersebut akan mengalami suatu hal yang cukup mengerikan dan kemungkinan besar kapal yang ditumpangi akan mengalami musibah besar.

Sementara Suami dari Boru Saroding dipanggil warga dengan sebutan “Amangboru Saroding” yang diyakini dan disaksikan sebagian warga Pandiangan, sering melihat suami Boru Saroding turun dari Ulu Darat menuju Danau tempat Ia mengantarkan istrinya, Namboru Boru Saroding.

Penampakan dari suami Boru Saroding berwujud Ular Besar dan Panjang berbadan manusia berenang di sekitar tempat Boru Saroding tenggelam bersama sampan yang ditumpanginya.

Sementara di Kaki Gunung Ulu darat tepatnya di perkampungan Pandiangan, Desa Sabulan Kecamatan Sitiotio terdapat sebuah Permandian Namboru Boru Saroding yang diyakini sebagai tempat Boru Saroding mandi dan keramas dengan jeruk purut.

tao palipi

Tempat tersebut diberi nama “Par-Anggiran Ni Namboru Boru Saroding” di tempat permandian Boru Saroding tersebut terdapat pohon besar dimana pada dahan dan ranting pohon tersebut ditumpangi pohon Jeruk Purut.

Akan tetapi buah dari Jeruk Purut yang menumpang ke Pohon besar tersebut tidak boleh diambil sembarang orang.

Kisah atau Legenda ini menjadi salah satu Objek Wisata di Kabupaten Samosir. Situs Budaya yang mengisahkan Legenda Perjalanan Boru Saroding dan kemudian tempat tersebut di beri nama “Par Anggiran Ni Namboru Boru Saroding” yang berlokasi di Desa Sabulan, Kecamatan Sitiotio Kab.Samosir.

Atau jika kita berkunjung ke tempat bersejarah tersebut, hanya sekitar ½ jam dengan menggunakan kapal dari Pelabuhan Mogang Kec.Palipi.

Tempat ini seiring dikunjungi oleh Keluarga Pandiangan atau Si Raja Sonang bahkan turis lokal maupun mancanegara mengunjugi tempat ini dengan tujuan berjiarah sekaligus mengenang Perjalanan Namboru Boru Saroding Pandiangan.

Hingga saat ini, kisah nyata serta kesaksian tentang keberadaan Arwah Namboru Boru Saroding masih banyak dikisahkan oleh warga Samosir khususnya warga yang sedang melintas di Daerah tersebut.

Sejarah Legenda Namboru Boru Saroding yang saya posting ini tentu saja masih belum sempurna bahkan mungkin jika sebelumnya pembaca pernah membaca atau mengetahui legenda ini dari sumber lain dan terdapat ada perbedaan, maka mohon untuk disampaikan komentar, agar kedepannya dapat dilakukan perbaikan-perbaikan…
Horas…!!! Mauliate….!!!

SUMBER

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah