Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan, Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon, Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon
 
Publikasi 2014-03-11 10:03:11
TOBATABO.com, JAKARTA – Tersangka yang juga pasangan kekasih berusia 19 tahun, Ahmad Imam Al-Hafidz dan Assyifa Ramadhani, ternyata merupakan teman satu sekolah dengan korban yang dibunuhnya secara keji, Ade Sarah Angelina Suroto.

Mereka dulu sama-sama mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 36 Jakarta. “Ade Sarah, Hafidz dan Asyyifa itu satu SMA yakni SMA 36,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, Jumat (6/3).

Rikwanto menjelaskan, awalnya Hafidz dan Ade yang juga Mahasiswi jurusan Psikologi Universitas Bunda Mulya, itu berpacaran pada 2012 lalu. Namun, di penghujung 2012 hubungan Hafidz dan Ade kandas.

Setelah itu, Hafidz menjalin hubungan dengan Assyifa sejak 2013. Meski memacari Assyifa, Hafidz tak bisa melupakan Ade. Ia pun mencoba untuk berkali-kali mengajak bertemu dan ditolak korban.

Niat Hafidz untuk mengajak korban berpacaran lagi pun kandas. Karena dendam dan sakit hati itulah Hafidz berniat menghabisi mantan pacarnya itu. “Pelaku Hafidz ingin berpacaran lagi dengan korban sementara korban tidak mau,” kata Rikwanto.

Sedangkan Assyifa, ternyata cemburu dan khawatir jika Hafidz kembali berpacaran lagi dengan Ade. “Assyifa melakukannya karena merasa cemburu dan takut atau khawatir bila Hafidz kembali berpacaran dengan korban,” katanya.

Foto: Ade Sarah (tengah) serta pasangan kekasih yang membunuhnya, Ahmad Imam Al-Hafidz dan Assyifa Ramadhani.

Foto: Ade Sarah (tengah) serta pasangan kekasih yang membunuhnya, Ahmad Imam Al-Hafidz dan Assyifa Ramadhani.

Kronologi Pembunuhan
Berikut kronologi pembunuhan mahasiswi semester dua tersebut, bersumber dari keterangan keluarga, polisi dan teman:

Minggu, 2 Maret pukul 17.00 WIB Ade Sara Angelina Suroto pergi menonton acara Java Jazz Festival di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat. Berdasarkan akun twitternya @Adesaraa, Sara pergi menonton konser musik tersebut pukul 17.00 WIB. Kepada ibunya dia hanya pamit pergi dengan teman-temannya. Di event inilah Ade Sara diduga mendapatkan gelang karet merah bertuliskan Java Jazz.

Senin, 3 Maret
Senin sore korban berpamitan kepada keluarganya untuk pergi les Bahasa Jerman di Goethe Institute, Jl Sam Ratulangi, Jakarta Pusat. Les biasa dilakukan pada pukul 18.00 hingga pukul 21.00 WIB. Ia meninggalkan rumahnya di Kelurahan Jati, Pulo gadung, Jakarta Timur, sebelum pukul 18.00 WIB.

Pukul 18.30 WIB
Bukannya pergi ke tempat les seperti tujuan awalnya, Sara justru menemui Assyifa Ramadhani (19) di Stasiun Gondangdia. Keduanya janjian ketemuan. Teman kursus Sara sempat menelepon Sara mengapa dia tak muncul di tempat kursus. Sara menjawab bahwa dia sedang menunggu pacar dari mantan kekasihnya.

Sifa kemudian datang. Diduga tanpa diketahui Sara, rupanya di lokasi juga sudah ada tersangka lainnya yang juga mantan pacar Sara, Ahmad Imam Al Hafitd Aso (19) alias Hafitd. Sara kemudian diajak naik mobil dan berakhir dengan pembunuhan terhadapnya.

Senin malam
Keluarga Sara kebingungan karena putrinya tidak kunjung pulang. Mereka kehilangan jejak Sara.

Selasa, 4 Maret
Keluarga dan teman-teman Sara meminta bantuan operator seluler Telkomsel untuk melacak keberadaan handphone Sara. Teman Sara yang bernama Kevin menyatakan handphone Sara terdeteksi di lokasi yang berpindah-pindah yaitu di Jakarta Selatan, lalu di Jakarta Utara, lalu di Jakarta Pusat.

Rabu, 5 Maret
Rabu pagi mayat Sara ditemukan di pinggir Tol Bintara KM 49, arah Cikunir, Bekasi. Sara ditemukan dengan kondisi wajah membiru dan tidak dikenali oleh petugas derek Jasa Marga sekitar pukul 06.30 WIB.

Sara mengenakan gelang karet warna merah bertuliskan ‘Java Jazz Festival’. Tak ditemukan adanya luka senjata tajam di tubuh Sara. Hasil autopsi sementara, Sara tewas karena tenggorokannya disumpal dengan kertas. Selanjutnya jenazah korban dibawa ke RSCM. Berdasar sidik jari di e-KTP, polisi mengetahui identitas jenazah yang memiliki alamat di Jl Layur, Rawamangun, Jakarta Timur. Polisi kemudian meminta keterangan keluarga Sara dan teman-temannya.

Kamis, 6 Maret
Identitas Sara diberitakan oleh media. Sifa dan Hafitd lewat media sosial menyampaikan belasungkawa.

Namun berdasar penyelidikan polisi, Sifa dan Hafitd adalah pelaku pembunuhan keji itu. Keduanya ditangkap petugas kepolisian saat melayat Sara di rumah duka RSCM, Jakarta Pusat. Namun versi lainnya menyebut Hafitd diciduk di rumah duka RSCM, sedang Sifa di kampusnya, Kalbis Institute, Pulomas. Kini keduanya masih diperiksa di Polres Kota Bekasi. Keduanya sudah mengakui sebagai pembunuh Sara.

Jumat, 7 Maret
Jenazah Sara diberangkatkan dari RSCM pukul 11.00 WIB untuk dimakamkan di TPU Pondok Kelapa.

Sumber METROSIANTAR.com

Ingin pendapat Anda mengenai artikel dibaca semua orang? Ketik Komentar disini