Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan, Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon, Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon
 
Publikasi 2013-08-15 00:26:26

Bagi masyarakat Batak Toba di Sumatra Utara, mengangkat martabat sebuah marga adalah dengan menghormati orangtua dan para leluhur. Salah satunya dengan melaksanakan ritual mangokal holi atau memindahkan tulang belulang leluhur untuk dikumpulkan di satu tempat baru.

Masyarakat Batak Toba percaya bahwa kematian bukan akhir perjalanan hidup, namun justru tahap untuk mencapai kesempurnaan. Lewat rangkaian mangokkal holi ini maka akan tercapai hasangapon, atau kemuliaan sebuah marga atau keturunan. Di sekitar Danau Toba, terdapat banyak makam atau kuburan megah (biasa disebut Tugu) yang berlomba dibangun oleh para keturunan almarhum atau almarhumah.

Tugu yang sudah siap dibangun, atau dikenal dengan istilah Tambak, siap dipestakan. Pimpinan keluarga yang melakukan ongkal holi harus mengenakan sortali, yaitu hiasan kepala yang terbuat dari emas sebagai perlambang keperkasaan dan perlindungan terhadap seisi rumah.

Seluruh keluarga dari berbagai daerah pun telah berkumpul. Mereka bersiap melakukan pesta mangukal holi atau eksumasi. Dari pihak hula hula atau dari pihak keturunan perempuan datang dengan membawa beras. Keluarga pun menyambut dengan tarian tor-tor. Setelah sesepuh dari garis keturunan ibu yang disebut hula-hula memberi restu, makam pun dibongkar.

Biasanya kerangka yang telah dikeluarkan dibersihkan oleh adik perempuan mendiang dengan menggunakan jeruk purut. Diyakini ketika kerangka disentuh cahaya matahari, itulah saat terakhir mendiang berhubungan dengan dunia sebelum dikuburkan kembali di tempat termulia bagi jiwanya yang disebut dengan tondi.

saring-saring atau kerangka yang akan di pindahkan

Upacara dilanjutkan dengan mengutus sekelompok orang ke hutan untuk mencari borotan atau kayu penambat kerbau persembahan dari kayu sari marnaek yang berasal dari pohon lalas. Setelah kayu borotan berdiri tegak, kerbau persembahan pun digiring.

Langkahnya diamati dengan seksama. Bila dapat digiring dengan mudah, pertanda kemakmuran bagi keluarga. Kerbau persembahan lalu disembelih sebagai santapan bersama.

Gotong royong menjadi kunci utama. Dari keturunan perempuan memberikan sumbangan berupa uang yang diletakkan dalam batang pohon untuk selanjutnya diberikan pada pihak keturunan Laki-laki. Biaya pesta ratusan juta rupiah pun tertutupi oleh handai taulan. Sebagai tanda ucapan syukur, prosesi mangokkal holi dilanjutkan dengan prosesi mengarak pedang pusaka yang dipercaya sebagai lambang perwakilan keturunan.

Pembangunan tugu di kawasan Tapanuli marak dilakukan pada dasawarsa 1955-1965 saat kesadaran membangun “bona pasogit” atau tanah kelahiran mulai mengemuka. Bahkan di atas-atas bukit pun beberapa tugu atau tambak berdiri kokoh menghadap ke Danau Toba. Selain di perbukitan, tugu juga banyak dijumpai di pinggir ruas jalan provinsi menuju Danau Toba. Bahkan tak jarang, makam yang terlihat justru kondisinya jauh lebih baik daripada rumah yang masih dihuni oleh kerabat yang masih hidup.

tambak na pir kuburan permanen

Ingin pendapat Anda mengenai artikel dibaca semua orang? Ketik Komentar disini