Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan, Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon, Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon
 
Publikasi 2012-11-01 16:52:07

Waktu masih di Sekolah Dasar (SD Bonagung II), guru saya pernah mengajarkan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Dalam mata pelajaran itu diceritakan bahwa Indonesia itu memiliki banyak danau, baik danau alam maupun buatan atau waduk. Danau yang pernah diajarkan waktu SD dan pernah saya kunjungi adalah Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Dan hari Sabtu (18 Okt ’08) kemarin berkesempatan untuk menjamah danau yang dahulu pernah diceritakan melalui peta Indonesia oleh guru SD, yaitu danau Toba yang ditengahnya terdapat pulau Samosir.

Sabtu (18 Okt) pagi pukul 08.45 bersama dengan teman saya meluncur ke Parapat Danau Toba. Awalnya kami berencana berangkat pukul 07.00. Karena cuaca hari itu sedikit gelap, bahkan pagi harinya sempat hujan maka keberangkatan tertunda sampai hampir dua jam. Kurang tahu kebiasaan cuaca disini sebenarnya, tapi waktu disini kok hampir tiap hari (padahal masih pagi juga tetap) hujan yah?

Dengan memakai kereta (sepeda motor-red) sewaan kami meluncur ke tempat tujuan. Perjalanan dari Pematang Siantar ditempuh dalam waktu satu jam dengan kecepatan 60-80 km/jam. Sepanjang perjalanan rupanya tidak jauh berbeda jika kita berjalan ke arah kantor bupati Simalungun yang baru, semuanya masih serba hutan yang masih jarang penduduknya. Perkebunan kelapa sawit yang cukup luas pun juga kami jumpai ditengah perjalanan. Dengan jalan yang basah dan naik turun serta berkelak-kelok, sangat hati-hati kami berjalan. Sebab ini merupakan perjalanan kami yang pertama di derah ini yang medannya belum pernah diketahui sebelumnya.

Luar biasa, begitulah kesan yang kami dapat ketika menginjakkan kaki di kota Parapat. Pemandangan yang indah sepanjang perjalanan, cuaca yang sejuk dan pemandangan danau yang bagus membuat kami seolah-olah ingin berlama-lama disini. Karena kebelet, kami akhirnya singgah sebentar di Masjid Raya Taqwa parapat (loh, masjid kan tempat sholat, kok …. ??? :D ). Kemudian kami lanjutkan dengan berputar-putar mengelilingi kota Parapat yang tidak begitu besar namun cukup ramai seperti di Pematang Siantar.

Karena pagi hanya sarapan sedikit ditambah capek yang menghinggapi kami selama berputar-putar, kami pun berhenti dan makan disebuah tempat yang pemandangannya juga lumayan bagus. Untuk memperoleh informasi bagaimana cara menyeberang ke pulau Samosir, kami pun ngobrol dengan penjualnya. Sampai akhirnya diperoleh lah tempat penyeberangan menuju pulau Samosir yang sekarang telah mekar menjadi sebuah kabupaten Samosir.

Pukul 12 an kami meluncur ke pelabuhan Tomok, Samosir dari pelabuhan Ajibata, Parapat yang kami tempuh sekitar setengah jam lebih. Wah, tambah luar biasa pemandangan yang terlihat ketika diatas kapal. Danau Toba yang mengelilingi pulau Samosir, pegunungan yang hijau berselimut kabut tipis serta suasana yang cukup sejuk meski siang hari, semakin menambah gairah kami untuk semakin cinta dengan salah satu objek wisata terkenal di Sumatera Utara ini. Bahkan diatas kapal juga dilantunkan lagu daerah yang indah, meski tidak tahu arti syairnya :D .

Sampai di Samosir kami langsung meluncur ke Tuk-Tuk, karena menurut seorang anak SMA yang kami temui di kapal penyeberangan tadi, daerah inilah yang paling bagus di pulau Samosir. Tidak lama berjalan sampailah kami di daerah Tuk-Tuk, tapi ternyata kami kurang beruntung karena tidak menemukan obyek wisata Tuk-Tuk yang dimaksud. Padahal bule-bule disitu banyak. Dan akhirnya kami menemukan peta petunjuk pulau Samosir tentang obyek wisata didaerah itu. Dari peta terdapat petunjuk tentang objek wisata alam dan museum Hutam Bolon di daerah Simanindo, diujung paling utara pulau Samosir kalau dilihat dari peta Simalungun. Meluncurlah kami ke daerah itu.

Cukup lama kami berjalan diatas kereta (sepeda motor-red), sampai rasanya bokong ini terpanggang oleh lamanya kami duduk. Untuk menghilangkan rasa capek dan menunaikan kewajiban sholat dhuhur, kami mencoba mencari sebuah masjid. Namun sepanjang jalan yang kami lewati, tidak satupun masjid yang kami jumpai. Hanya gereja dan makam yang diatasnya berbentuk kubah yang kami jumpai. Hampir-hampir kami meluncur ke makam berbentuk kubah yang mirip masjid untuk sholat. Tidak tahunya ketika didekati malah kuburan :( . Dan akhirnya pun kami mampir di SMP Simanindo untuk sholat. Sialnya lagi, ternyata tempat wisata alam yang terdapat dipeta itu juga tidak kami temui, hanya museum Hutam Bolon kecil saja yang kami dapat, itu pun tidak ada yang jaga :( .

Karena waktu yang sudah agak sore, akhirnya kami putuskan saja untuk kembali ke pelabuhan Ajibata, Parapat, Simalungun. Syukurlah cuaca sore itu tidak hujan, meski di pulau samosir sempat hujan sebentar namun tidak membuat kami basah karena kami memakai jas hujan. Pukul 17.00 akhirnya kami tiba kembali ke Parapat dan siap melanjutkan perjalanan pulang ke Pematang Siantar.

Alhamdulillah meski cuma sebentar, kami cukup terkesan dengan keindahan dan keramahan penduduk dikota Parapat maupun Samosir. Walaupun tidak menemukan tempat wisata yang cukup bagus di Samosir, namun sepanjang perjalanan yang kami lalui baik di Parapat maupun Samosir sendiri sudah cukup kami anggap sebagai objek wisata. Dan kami tetap bersyukur bahwa kami telah bisa menjamah danau Toba dan pulau Samosir seperti yang diceritakan oleh guru-guru saya waktu SD, karena kesempatan ini belum tentu beberapa tahun lagi bisa ketempat ini. Namun jika bisa kesini lagi juga semakin senang :D .

SUMBER

Ingin pendapat Anda mengenai artikel dibaca semua orang? Ketik Komentar disini