Model Energi dan Jaringan Listrik di Sumut Dipetakan

Posted 25-01-2015 12:29  » Team Tobatabo

MEDAN, – Provinsi Sumatera Utara telah mengalami krisis energi berkepanjangan, yang menyebabkan gangguan dalam melakukan aktifitas sehari-hari dan membatasi pertumbungan ekonomi. Padahal pada saat yang sama, Sumut memiliki potensi energi bersih mencapai 1.000 MW, dengan potensi terdata mencapai 600 MW.

”Namun potensi itu belum tergarap maksimal karena sejumlah kendala. Misalnya, PLN belum memiliki pemetaan jalur distribusi energi di Sumut, lokasi pembangkit mini hydro dan biogas jauh dari jalur transmisi PLN,” kata William R. Meade, Chief of Party ICED, dalam temu pers di sela-sela Seminar ’Perencanaan Energi Sumatera Utara’ di JW Marriot Medan, Kamis (22/1/2015).

Untuk menjawab kendala ini, Pemerintah Amerika melalui salah satu program USAID yang bertajuk Indonesia Clean Energy Development (ICED) – Pembangunan Energi Bersih Indonesia, menyerahkan hasil pemodelan energi dan peta GIS (Geographic Information System) multi region kepada Pemprovsu. Model ini dibangun oleh tim yang terdiri dari staf Bappeda, Dinas Pertambangan dan Energi, serta tenaga ahli ICED.

”Sebagai model energi multi region tingkat provinsi yang pertama di Indonesia, hasil ini akan digunakan oleh Pemda untuk membuat Rencana Umum Energi Daerah (RUED) sebagaimana diwajibkan dalam Perpres no 1/2014 tentang Pedoman Rencana Umum Energi Nasional. Dengan adanya perencanaan energi yang terintegrasi, diharapkan krisis energi di provinsi Sumatera Utara dapat teratasi dengan baik,” kata Meade.

Selain pemodelan RUED, lanjutnya, ICED juga telah membantu Bappeda dalam menyusun Rencana Aksi Daerah untuk pengurangan emisi gas rumah kaca di bidang energi, dan bekerjasama dengan PLN wilayah Sumatera Utara untuk memetakan Jaringan 20 KV untuk pengembangan energi terbarukan di Sumatera Utara.

”Pengembangan energi bersih di Sumut tergantung konektivitas pembangkit dengan jalur distribusi PLN, dan bagaimana mengembangkannya ke area lain yang belum terkover,” katanya.

Untuk itu, pihaknya telah memetakan jenis alat yang diharapkan mampu menghubungkan jalur transmisi yang ada dan menghubungkannya ke masyarakat.

Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, dalam kesempatan itu mengatakan, data dari PLN per Desember 2014, defisit energi Sumut rata-rata 219 MW, dan belakangan ini turun menjadi 90 MW.

”Pemprovsu mendukung investasi energi di Sumut. Kita tidak pernah menolak pemberian izin investasi. Bahkan PLTA Asahan III pun sudah beres dalam hal izin, sayang terkendala hal pembebasan lahan. PLTU Pangkalan Susu 220 MW dan PLTU Nagan Raya 2 x 100 MW belum beroperasi maksimal. Pembangkit hydro Batangtoru Tapsel sudah kita keluarkan izinnya, tetapi izin teknisnya belum keluar dari pusat. Jadi kendalanya kebanyakan di pusat,” cetusnya.

Untuk itu, Gatot memberikan apresiasi kepada pemerintah Amerika atas kerjasamanya melalui program ICED selama beberapa tahun terakhir. Ia berharap agar kerjasama ini dapat dilanjutkan dan ditingkatkan untuk melibatkan pemangku kepentingan yang lebih banyak di provinsi Sumatera Utara.

Robert Ewing, selaku Konsul Jenderal Amerika mengatakan, Pemerintah Amerika

bangga menjadi mitra Indonesia dalam mewujudkan potensi energi bersih, tindakan mitigasi dan upaya pengembangan emisi rendah, termasuk di Sumut.

”Kadin AS di Jakarta memiliki perusahaan yang bergelut di bidang energi. Di tengah iklim investasi yang terbuka, Konsulat Amerika di Medan bersedia membantu memfasilitasi investasi di bidang energi,” katanya.

Retno Setianingsih, Energy Program Specialist, USAID Indonesia menambahkan, Sumut merupakan salah satu fokus kegiatan mereka, karena posisinya yang strategis di koridor Sumatera, serta adanya dukungan yang baik dari pemerintah daerahnya. ”USAID siap mendampingi lembaga keuangan saat mengevalusi proposal untuk proyek energi,” cetusnya. 

 

Sumber

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI