Dinas Perkebunan Sumut Belum Pastikan Dapat Dana Pengembangan Kakao

Posted 04-06-2015 15:44  » Team Tobatabo

Foto Seorang petani di Kelurahan Pematangmarihat, Siantar Marimbun, Pematangsiantar, sedang mengobati kakaonya yang terserang hama pembusuk buah, Senin

MEDAN - Dengan adanya kebijakan pemerintah untuk menggelontorkan dana pengembangan produksi kakao sebesar Rp1,8 Triliun, pastinya bagus untuk potensi pengembangan bagi petani kakao. Untuk Sumut sendiri, kakao masih masuk dalam komoditas unggul. Setelah, sawit, karet, kelapa dan kopi.

Kepala Dinas Perkebunan Sumut, Herawati mengatakan, mengenai anggaran tersebut, Sumut belum bisa memastikan mendapatkan dana bantuan tersebut. Sebab, belum ada informasi dari kementerian kepada Dinas Perkebunan Sumut.

"Kita belum dapat informasi dari pusat, kalau untuk dapat atau tidaknya bantuan tersebut, kita belum tahu. Soalnya, kita kan butuh data untuk memastikannya. Nanti saya bilang tidak, rupanya dapat. Saya bilang dapat, rupanya tidak dapat. Kita tunggu aja," ujarnya, Senin (1/6/2015).

Herawati menjelaskan, untuk pengembangan kakao di Sumut, sepertinya mustahil untuk dilakukan. Karena, terkendala dengan lahan. Ia mengatakan, lahan perkebunan Sumut sudah didominasi oleh tanaman sawit.

"Sentra perkebunan kakao itu di Sulawesi. Kalau kita tidak lagi, karena sudah banyak yang beralih ke Sawit," jelasnya.

Untuk potensi perkebunan kakao, meskipun masih masuk dalam lima komoditas perkebunan unggul, seperti karet, sawit, kopi dan kelapa. Potensi kakao tidak lagi tinggi, karena banyak petani yang beralih ke sawit.

"Bantuan pemerintah untuk pengembangan perkebunan, sebenarnya tidak hanya pada kakao. Kita juga dapat bantuan dari pemerintah untuk tebu. Namun, lahan tebu kita juga sedikit. Pengembangan jadi terkendala dengan lahan," ungkapnya.

Sebelumnya, Herawati sempat menjelaskan, kesulitan dalam pembudidayaan kakao lah yang membuat sebagian petani beralih ke komoditas lain. Selain itu, ongkos produksi juga tergolong cukup memberatkan.

"Faktor yang paling menentukan ialah rentannya kakao pada serangan hama. Selain itu, dibandingkan dengan karet maupun sawit, ia jauh lebih rumit," ungkapnya.

Berdasarkan data Surat Keterangan Asal (SKA) Sumut, nilai ekspor kakao asal Sumut hingga April, masih sulit naik. Gangguan hama membuat produksi turun,ditambah lagi, negara penghasil kakao, seperti Pantai Gading dan Ghana sedang panen raya. Hal ini semakin menurunkan permintaan kakao dari Sumut.

Nilai ekspor kakao Sumut, dari periode Januari-April 2015 turun 73,11 persen. Dari USD14,71 juta dengan volume 3.058 ton pada periode yang sama tahun lalu menjadi USD 3,95 juta dengan volume sebesar 3.972 ton pada tahun ini.

Sumber Tribun Medan

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI