Museum Simalungun Siantar Yang Semakin Terabaikan Oleh Waktu

Posted 04-05-2017 01:25  » Team Tobatabo
Foto Caption: Museum Simalungun Siantar Sayang Sekali Tidak Banyak yang Memperhatikan

Berapa banyak warga Siantar-Simalungun yang sudah mengunjungi Museum Simalungun? Mungkin tidak lebih dari 10% warga Siantar-Simalungun yang pernah mengunjungi museum, yang tetanggaan dengan Mapolresta Siantar ini.

Semenjak Siantar menjadi kota yang berarti secara resmi memisahkan diri dari Kabupaten Simalungun, letak Museum Simalungun ini terbilang unik. Museum Simalungun bukan terletak di Kabupaten Simalungun, tetapi di kota Siantar. Hal ini dikarenakan memang Siantar merupakan tanah Simalungun.

Berada di pusat kota, museum ini terlihat menarik bila hanya memandang sesaat dari depan. Dengan bangunan utamanya adalah rumah adat Simalungun dan kepala kerbau terletak diujung paling tinggi.

Berornamen ukiran simalungun warna khas batak yakni merah, putih dan hitam serta patung hulu balang Simalungun terletak di depan museum ini.

Tapi, ada kekurangannya, ijuk yang menjadi atap bangunan ini terlihat sudah tidak layak lagi. Sudah usang dan sangat memprihatinkan untuk bangunan sekelas museum.

Sesudah memasuki museum tersebut, atap ijuk tidak layak pakai itu hanyalah sebagian kecil dari yang sangat memprihatinkan. Memasuki kedalam, benda-benda pusaka dan bersejarah tersebut sama sekali tidak terawat. Bahkan, lemari kaca yang berfungsi untuk menyimpan benda-bendanya sudah rusak dan mulai membusuk.

Contohnya saja pustaha lak-lak, jimat, gana-gana, parlilian tulisan bambu/hari, guri-guri  dan gusi maroppa yang merupakan wadah obat serta beberapa uang kuno yang kalau dilihat sama sekali tidak menarik yang disebabkan tidak terawat. Padahal keunikan benda-benda pusaka dan bersejarah didalamnya adalah suatu penarik minat untuk mengunjung museum tersebut.

Tetapi di Museum Simalungun ini adalah kebalikannya, benda tidak terawat membuat miris. Begitu juga seperti tagan lakkitang, partijuran tempat ampas sirih, bajut hundul tempat peralatan makan sirih, samborik, londang periuk nasi, pahar piring makan raja, tombuan/tapongan tempat makanan adat yang sudah memprihatinkan dan membusuk serta dimana benda-benda yang terbuat dari besi, tembaga dan sejenisnya sudah bekarat.

Pengurus yang juga menjaga museum tersebut menuturkan bahwa bangunan bersejarah yang menyimpankan benda pusaka sudah sangat perlu perhatian dari pemerintah ataupun donatur. "Atap ijuk ini sudah berlubang. Jadi setiap hujan, airnya pasti masuk dan hal itulah yang membuat rusak lemari penyimpanan yang terbuat dari kayu. Air masuk membuat lemari menjadi membusuk dan jamuran, begitupun benda yang terbuat dari logam menjadi berkarat. Warna-warna cat di gedung itu pun sudah pudar," tutur wanita berkacamata tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa di tahun 2015 lalu dan 2016 ini sama sekali tidak ada biaya perawatan ataupun pemeliharaan. "Proposal untuk biaya perawatan sudah kami ajukan baik itu pas tahun 2015 ataupun di 2016 ini. Tapi itulah sama sekali tidak disetujui. Padahal cuma 80 jutanya. Gimana mau jadi cagar budaya atau destinasi wisata, kalau dari pemerintah setempat saja tidak peduli," tambahnya.

Gelontoran dana besar yang tiap tahun dikeluarkan pemerintah setempat untuk memajukan, membangun daerahnya seakan membuat Museum Simalungun terpinggirkan. Tidak ada sama sekali tampak perhatian padahal pengurus yang menjaga museum tersebut sudah mencoba mengajukan biaya perawatan yang besarannya tidak lebih dari 100 juta.

Patut ditunggu, siapapun yang nanti terpilih menjadi kepala daerah Siantar ataupun Simalungun apakah akan ada bentuk perhatian mereka terhadap bangunan bersejarah yang tidak "dianggap" ini.

Dikutip dari Hetanews.com
MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI