Mangokkal Holi dalam Budaya Adat Batak Karo

Posted 14-05-2017 01:34  » Team Tobatabo
Foto Caption: Pembersihan Tulang Belolang Dalam Adat Karo

Orang Karo sangat beradat dan menghargai leluhur sehingga secara khusus memilki kebudayaan mengumpulkan kembali tulang-tulang leluhur yang telah lama meningal dunia.

Cara ini dikenal dengan Nampeken Tulan-tulan (Nampeken = mengambil dalam arti mengumpulkan kembali , Tulan-tulan = Tulang/ skeletons).

Dalam bahasa sederhananya dikatakan Muat Tulan-tulan (Muat= Mengumpulkan). Muat tulan-tulan merupakan satu dari sekian banyak upacara adat karo,sebagai wujut penghormatan kepada orang tua dan leluhur.

Biasanya acara seperti ini dilakukan di Jambur. Jambur adalah Rumah tempat penyelengaraan kegiatan adat suku Karo yang lebih besar dari sebuah pesta perkawinan.

Bayangkan saja sejumlah anak beranak empat hingga lima keturunan berkumpul bersama untuk mengujutkan acara ini.

Dalam sebuah kesempatan:  Ade Fani Ketaren, menyampaikan pengalamannya dalam kegiatan adat budaya Karo ini.

Yang bertugas mengali kuburan adalah anakberu,semua tulang2 yang di ambil lalu di cuci bersih,lalu di mandikan dengan lau penguras (air yang dibuat khusus untuk acara ini) yang  dibuat dari ramuan jeruk purut, air kelapa muda dan beberapa rempah lain.

Lalu setelah bersih dan di mandikan dengan lau penguras, maka tulang belulang di susun sedamikina rupa dan dibacakan doa-doa.

Kemudian di bungkus dengan dagangen (kain putih) lalu di sumpitken (dibungkus sedemikian rupa). Kemudian tulang-tulang tersebut di bawa kerumah sambil menunggu prosesi saudara yang lain selesai.

Namun belakangan ini  yg bertugas mengali kuburan sekarang sudah mengunakan aron/pekerja yang diminta khusus dan dibayar.

Anak Beru “bayaran” istilahnya setelah semua tulang belulang sodara2 yang lain terkumpul, maka tulang belulang di masukkan dalam peti kecil dan masing-masing peti di buat nama yang bersangkutan, lalu di adakan acara adat namanya ngampeken tulan-tulan yang biasanya di adakan di jambur.

Acara ini biasanya di hadiri oleh seluruh keluarga yang bersangkutan,dan biasanya yang hadir sangat banyak lebih banyak dari pesta perkawinan dan adat kematian.

Setelah prosesi adat selesai maka tulan-tulan tadi semua dimasukkan ke dalam satu bangunan yang di sebut Geriten (bangunan khusus yang digunakan sebagai tempat mengumpulkan tulang-tulang tersebut).

Kegiatan ini masih terkait dengan keyakinan lama orang Karo dan masih terjaga dengan baik hingga saat ini walaupun acaranya sudah diubah dengan kegiatan yang menggunakan religi yang modern sesuai perkembangan  keyakinan.

Kegiatan ini tentunya membutuhkan kerjasama, kesepakatan dan dana yang cukup besar, sehingga ini dapat menjadi salah satu indikator bahwa orang Karo telah memiliki budaya yang tinggi dan menjaga nilai kemanusiaan hingga ke leluhurnya yang telah meninggal dunia.

 

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI