Koor Parari Kamis HKBP Lebih Dari Sekedar Grup Nyanyi Para Janda Tua

Posted 29-05-2017 14:04  » Team Tobatabo
Foto Caption: Koor Ina HKBP

Artikel ini sengaja saya buat, untuk mengkoreksi, maksud parari kamis, yang ditulis oleh abang felix tani.

Bukan maksud mengguri, atau bukan pula menghujat artikelnya. Dengan segala rasa hormatku pada abang felix tani, maka aku menulis ini.

Saya adalah orang batak, dan saya juga bangga akan darah batak yang mengalir di tubuh saya. Kedua orang tuaku batak, begitu pula seterusnya bila ditarik sampai ke garis puncak moyang keluargaku.

Saya sendiri batak, namun tak jago bernyanyi, tapi kalau marende bisalah sedikit-sedikit walau tak merdu. Terlebih lagi, kalau marende lagu buku ende, atau kidung jemaat, saya sangat senang.

Kembali ke topik utama judul ini, bahwa artikel ini sengaja saya tulis untuk menanggapi mengenai par ari kamis yang telah ditulis oleh abang felix tani.

Dalam artikel abang felix yang berjudul Orang Batak Itu Suku Penyanyi_pada paragraf ke 11 disebutkan demikian, Maka gereja HKBP kemudian dikenal sebagai “Gereja Bernyanyi” (The Singing Church).

Selain umat bernyanyi bersama, ada pula nyanian kelompok-kelompok koor. Kalau ikut kebaktian Minggu di gereja HKBP, maka kita akan disuguhi sajian nyanyian oleh Koor Ina (Ibu), Koor Ama (Bapak), Koor Naposobulung (Pemuda-Pemudi), Koor Pararikamis (para janda yang rutin kumpul tiap Kamis), Koor Parhalado (Majelis Gereja), dan lain-lain.

Seperti sedang festival koor layaknya. Dalam artikel tersebut bahwa tertulis, koor parari kamis adalah koor para janda yang rutin kumpul di hari kamis.

Saya sendiri sebenarnya tak keberatan atas artikel tersebut. Demikian juga dengan pengertian koor parari kamis.

Namun melalui artikel ini ijinkan saya, melengkapi artikel tersebut. Saya ingin menambahi maksud pengertian dari koor parari kamis. Apa urgensi saya untuk menanggapi ini? Sebenarnya tak penting memikirkan apa urgensi saya.

Di tobatabo ini saya lihat, bahwa penggunanya bukan hanya anak muda. Banyak juga orang tua yang berumur diatas 50 tahun menggunakan media kompasiana ini. Demi menjaga perasaan orang tua tersebut, saya menulis ini.

Terlebih lagi, orang di luar batak, jangan sampai ada yang salah persepsi. Maksudnya?? ya maksud saya, jangan kalian artikan secara sepotong, maksud artikel abang felix tani, yang membahas kaum janda berkumpul itu (Parari Kamis).

Melalui artikel ini, saya mencoba untuk mengartikan maksud Parari kamis lebih sederhana.
Parari Kamis artinya bila dilihat secara kata-kata, maksudnya adalah orang yang berkumpul di hari kamis. Ada imbuhan -PAR sebelum kata ARI.

Imbuhan -PAR banyak dijumpai dalam kamus bahasa batak. Semisal Siagian Benedikt itu Parhuta-huta. Maksudnya Siagian Benedikt itu berasal dari kampung.

Parhuta-huta dalam kalimat tersebut diartikan sebagai orang kampung atau orang yang berasal dari kampung. Sama seperti Parari Kamis maka diartikan sebagai Orang yang melakukan rutinitas kumpul di hari kamis.

Lalu mengenai janda yang dimaksud oleh abang felix tani, bisa saya artikan sebagai ibu-ibu yang sudah berumur tua, yang telah ditinggal mati oleh suaminya. Lalu apa bedanya dengan janda. Ya memang secara bahasa indonesia itu bisa diartikan sama.

Dalam batak itu bisa berarti berbeda. Mengapa?? Sedari kecil orang batak diajarkan sopan santun, terlebih lagi kepada yang lebih tua.

Begitulah kami diajarkan oleh orang tua kami. Dan tentunya bila saya membicarakan atau berkata janda ketika ibu-ibu ini bernyanyi, tentunya orang yang mendengar akan menegur saya.

Bila mamakku mendengar ini pastilah ia berkata"Pantang, gak boleh kek gitu." (Pantang dalam batak diartikan tabu).

Artikel ini sengaja saya buat, untuk mengkoreksi, maksud parari kamis, yang ditulis oleh abang felix tani. Bukan maksud mengguri, atau bukan pula menghujat artikelnya. Dengan segala rasa hormatku pada abang felix tani, maka aku menulis ini.

Saya adalah orang batak, dan saya juga bangga akan darah batak yang mengalir di tubuh saya. Kedua orang tuaku batak, begitu pula seterusnya bila ditarik sampai ke garis puncak moyang keluargaku. Saya sendiri batak, namun tak jago bernyanyi, tapi kalau marende bisalah sedikit-sedikit walau tak merdu. Terlebih lagi, kalau marende lagu buku ende, atau kidung jemaat, saya sangat senang.

Kembali ke topik utama judul ini, bahwa artikel ini sengaja saya tulis untuk menanggapi mengenai par ari kamis yang telah ditulis oleh abang felix tani.

Dalam artikel abang felix yang berjudul Orang Batak Itu Suku Penyanyi_pada paragraf ke 11 disebutkan demikian, Maka gereja HKBP kemudian dikenal sebagai “Gereja Bernyanyi” (The Singing Church).

Selain umat bernyanyi bersama, ada pula nyanian kelompok-kelompok koor. Kalau ikut kebaktian Minggu di gereja HKBP, maka kita akan disuguhi sajian nyanyian oleh Koor Ina (Ibu), Koor Ama (Bapak), Koor Naposobulung (Pemuda-Pemudi), Koor Pararikamis (para janda yang rutin kumpul tiap Kamis), Koor Parhalado (Majelis Gereja), dan lain-lain. Seperti sedang festival koor layaknya.

Dalam artikel tersebut bahwa tertulis, koor parari kamis adalah koor para janda yang rutin kumpul di hari kamis. Saya sendiri sebenarnya tak keberatan atas artikel tersebut. Demikian juga dengan pengertian koor parari kamis.

Namun melalui artikel ini ijinkan saya, melengkapi artikel tersebut. Saya ingin menambahi maksud pengertian dari koor parari kamis. Apa urgensi saya untuk menanggapi ini? Sebenarnya tak penting memikirkan apa urgensi saya.

Di tobatabo ini saya lihat, bahwa penggunanya bukan hanya anak muda. Banyak juga orang tua yang berumur diatas 50 tahun menggunakan media tobatabo ini. Demi menjaga perasaan orang tua tersebut, saya menulis ini. Terlebih lagi, orang di luar batak, jangan sampai ada yang salah persepsi.

Maksudnya?? ya maksud saya, jangan kalian artikan secara sepotong, maksud artikel abang felix tani, yang membahas kaum janda berkumpul itu (Parari Kamis). Melalui artikel ini, saya mencoba untuk mengartikan maksud Parari kamis lebih sederhana.

Dikutip dari kompasiana.com
MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI