Ternyata Halak Batak Sudah 100 Tahun Melewati Fase Hidup Sejak Zaman Prasejarah

Posted 02-06-2017 10:35  » Team Tobatabo
Foto Caption: Masyarakat Batak Manortor

Jujur saja, ini buku bagus. Bagus banget! Pertama kali melihatnya di toko buku jaringan nasional di Jakarta aku langsung jatuh hati.

Mau beli, harganya “mahal banget” … Memang masih masuk dalam anggaran bulananku untuk beli buku, namun saat itu masih ada beberapa buku yang sudah aku pegang yang sudah membuatku jatuh hati terlebih dahulu.

Ketika menimbang-nimbang dan akan memutuskan untuk membeli, ketika membuka halaman demi halamannya lebih perlahan … aku ketemu halaman 164 yang langsung membuatku kehilangan semangat untuk membelinya saat itu.

“Sabar saja, nanti pasti ada saatnya. Beli yang paling penting saja dulu …”, kata mak Auli isteriku menyabarkanku karena melihatku penuh pertimbangan saat itu.

“Tapi aku belum pernah melihat buku ini dijual di Bandung“, kataku mencoba mempertimbangkan untuk membeli. Namun, hasilnya tetap tidak membeli. Sampai beberapa lama, bahkan ketika sudah kembali ke Bandung, aku masih mengidamkan buku bagus tersebut.

Bukunya bagus dari luar dan sangat tebal. Isinya meneceritakan fase-fase kehidupan orang Batak sejak zaman prasejarah sampai dengan masa terkini.

Juga dilengkapi pengetahuan tentang asal muasal Danau Toba sebagai “sentral” kehidupan masyarakat Batak. Bagi yang menyukai sejarah (seperti aku ini) pasti akan terpuaskan, apalagi dilengkapi penuh dengan gambar-gambar.

Aku sangat menyukai gambar-gambar orang Batak zaman dahulu. Di antara kesukaan pada gambar-gambar tersebut, aku melihat ada satu hal yang memprihatinkan: tidak satupun foto zaman baheula yang masih hitam putih tersebut menampilkan orang-orang Batak yang tersenyum.

Selain bersedih, yang menonjol adalah tampilan kekerasan hidup yang tergambar di wajah mereka. Dan sangat kontras dengan orang-orang bule di sebelahnya. Lihatlah salah satu contohnya di bawah ini :

Sayang sekali … Semoga tidak membuat orang-orang mengurungkan niat untuk membelinya karena kesalahan “kecil” ini.

Rugi juga sih sebenarnya kalau sampai tidak mengoleksi buku yang bagus seperti ini. “Gangguan” foto-foto berwarna yang lumayan banyak menyita isi buku yang menampilkan “keluarga-keluarga yang belum tentu dikenal oleh banyak orang” .

Tanpa penjelasan yang memadai menjelang akhir buku, dan urutan yang kadangkala tidak ‘nyambung, masih bisalah tergantikan dengan hal-hal yang bagus lainnya di halaman-halaman sebelumnya …

Horas ma halak hita! Nunga saratus taon hape hita on, bo …!

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI