Huta Adat Huta Balian

Posted 18-07-2017 16:16  » Team Tobatabo
Foto Caption: Banjar Galung, latar belakang sisi barat laut Pusuk Buhit.

Huta Balian, Desa Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir diresmikan sebagai huta atau kampung adat, Sabtu, 10 September 2016. Pengukuhan ini atas inisiatif generasi muda yang bergabung dalam Rumah Belajar Sianjur Mulamula, didukung tetua kampung. Peresmian dirangkai dengan Festival Sianjur Mulamula yang diselenggarakan hingga Senin, 12 September 2016.

Nagoes Puratus Sinaga, pendiri Rumah Belajar Sianjur Mulamula mengundang saya pada acara peresmian. Saya sangat terkesan pada anak muda 29 tahun ini. Ia juga pembina Karang Taruna Marsada Roha, salah satu kegiatannya melestarikan seni tradisional Batak termasuk Opera Batak. Di rumah belajar ini anak-anak diajari masalah budaya, lingkungan, kreativitas, dan pendalaman materi pelajaran sekolah.

Ompu Sara Sagala, tetua kampung mengatakan bahwa penamaan huta adat tidak bermaksud memisahkan diri dari bius apalagi membuat aturan atau hukum adat baru, melainkan untuk menggali kembali serta melanjutkan apa saja yang sudah diatur oleh para leluhur marga Sagala di Huta Balian, yang selama ini mulai ditinggalkan di era pemerintahan desa.

Kearifan lokal, tambah Nagoes menjadi ciri khas dalam menyelesaikan permasalahan sehari-hari. “Perangkat dan aturan adat musti dilibatkan tanpa mengecilkan peran perangkat dan pemerintahan desa”, ujarnya.

Huta Balian terdiri dari tiga perkampungan, yaitu Banjar Galung, Bagas Limbong, dan Balian Galung. Perkampungan ini masih berciri tradisional, terdiri dari rumah-rumah adat Batak ditambah beberapa rumah panggung papan sederhana. Batu-batu besar oleh para leluhur yang disusun sedemikian rupa sebagai benteng masih dipelihara. Inilah salah satu keunikan yang mendukung Huta Balian sebagai huta adat.

Festival Sianjur Mulamula didukung Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Tano Batak. Festival memperlombakan aneka lomba seperti lomba gorga atau ukiran Batak, lomba membuat miniatur rumah Batak, dan lomba tortor naposo (gerak tari remaja). Atraksi lainnya adalah peragaan busana, martonun (bertenun ulos), menganyam tikar, dan monsak (pencak silat). Selain itu juga dilakukan penanaman pohon salagundi di harbangan atau gerbang huta, dan pelayanan kesehatan gigi untuk masyarakat.

Acara peresmian dihadiri Kabid Humas Kab Samosir Lemen Manurung mewakili Bupati Samosir, Anggota DPRD Komisi II Samosir Jhoni Sagala, perantau Huta Balian Charles Sagala, Sekjen AMAN Abdon Nababan, dan tamu undangan lainnya.

Festival berlangsung sederhana. Beberapa turis asing tampak hadir sejak hari pertama. Bertepatan tengah berlangsung Festival Danau Toba di Muara, Tapanuli Utara. Ke depan, Nagoes berharap Festival Sianjur Mulamula dilaksanakan rutin dalam rangka mendukung sektor pariwisata Samosir dan Danau Toba.

Nagoes menambahkan, salah satu kegiatan Huta Balian sebagai huta adat adalah pesta panen dan gondang naposo. Diharapkan kegiatan ini dapat menyedot perharian wisatawan mengunjungi Sianjur Mulamula.

Ya, sebagai huta adat, Huta Balian akan melestarikan kearifan lokal dari para leluhur sekaligus mendapatkan manfaat ekonomis dari sektor pariwisata. Selain nilai budaya, Sianjur Mulamula juga memiliki alam yang indah dan faktor historis asal muasal suku Batak yang kini menyebar ke penjuru Nusantara bahkan ke belahan benua.

Laguboti, 15 September 2016. “Lima Menit Menyapa”

Oleh Antoni Antra Pardosi

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI