Cari
 Narasi
 Diposting 13-07-2018 15:32

Malam Ini Mereka Berangkat

Foto Caption: Tim Musik Horja Bius

Ini foto kemarin sore. Usai persiapan terakhir di Rumah Bolon Toba, Anjungan Sumut TMII, kami menyempatkan berpotret bersama di bawah rambatan gorga.

Malam ini mereka menuju Amsterdam, untuk berkonser besok di Rotterdam World Music Fusion Festival, dan pada sebuah sesion akan berkolaborasi dengan Nita Aartsen. Lalu manggung lagi di Brussel, Paris, dan beberapa kota. Memainkan sejumlah repertoar, a.l.: Mulajadi Part II, Haminjon, Tonggo Negeri Bakkara, dan Tonggo Si Raja Batak, yang mereka eksplorasi dari harta karun, kekayaan mitologi Batak dan syair-syair kuno di buku lak-lak, lewat riset yang cukup panjang.

Tonggo-tonggo, sebagai esensi, yang menghantarkan pesan spiritual yang kental, mengisi bebunyian yang mengalir deras lewat dentum taganing, denting hasapi, alunan sulim dan sarune, tabuhan gong, dan beberapa alat musik lainnya, yang malam ini mereka gotong ke Eropa.

Kolaborasi dengan Nita Aartsen akan menjadi peristiwa menarik, mengingat namanya yang kerap kali disandingkan dengan musisi jazz kenamaan seperti Bubby Chen atau Idang Rasjidi. Disebut pula sebagai virtuoso latin-jazz, yang acap mengisi pelbagai perhelatan jazz internasional.

Pianis yang sebagian waktunya dihabiskan di Belanda ini adalah lulusan Moscow Conservatory, dengan beasiswa. Di akademi ini ia mempelajari musik jazz kontemporer selama tiga tahun. Kedakhsyatannya tak hanya itu. Nita, yang kelahiran Jakarta dan sudah belajar piano di usia lima tahun ini, selama 17 tahun menjadi pianis tetap Negara, dan pernah tampil untuk Presiden Bill Clinton, Pangeran Bernard, serta tamu-tamu negara terhormat lainnya. Tapi, sebelum itu ia juga pernah diutus, bermain piano di barak-barak tentara yang sedang berperang di Timor Timur dan Aceh, pada masa konflik dulu!

Ada pun Horja Bius, yang dibentuk pada 21 Februari 2014, di tengah perayaan Hari Bahasa Ibu se-Dunia, merupakan kelompok musik yang menawarkan corak yang tidak biasa; bertolak dari semangat lokalitas, dicitakan mewarnai ruang universal. Menggali segala macam 'artefak' untuk kemudian dikemas dengan idealisme yang kuat, sambil menimbang secara kritis dimensi kekinian. Meski, barangkali, mereka akan lebih banyak berada di jalan sunyi. Jauh dari hiruk-pikuk pasar dan pabrik.

Kata 'bius' dikenal dalam budaya masyarakat Batak sebagai hukum adat tertinggi dalam persekutuan beberapa marga yang hidup dalam suatu huta atau wilayah. Bius sangat dihormati sebagai perekat persatuan antara marga-marga Sipungka Huta, dengan marga-marga pendatang. Praktik budaya yang sarat kearifan, yang dilakukan antar marga tersebut, kemudian membuahkan gagasan membentuk “Horja Bius” sebagai kelompok musik yang berkonsentrasi pada butir-butir filosofi dan kebudayaan Batak.

Tak banyak yang dapat saya bantu untuk mereka. Tapi bisa menyimak spirit yang mengalir dari Rumah Bolon Toba di Anjungan Sumut, saban kali mereka berkumpul: Mogan Pasaribu, Newin Siahaan, Denie Siregar, Rudi Silitonga, Hendrikus Wisnugroho, dkk., yang khusuk menyusun komposisi dan harmoni, ekspresi kreatif yang tak bisa dibilang sederhana, guna menegaskan sebuah 'keberadaan', tidak saja di negeri sendiri, tapi juga nun jauh di luar sana, sudah cukup bagi saya untuk berbahagia.

Kita doakan, semoga perjalanan mereka tak ada aral apa pun. Dan Horja Bius bisa tegak dengan khidmat, seperti Pusuk Buhit dengan deru angin, gelombang halimun, dan seribu cerita yang mewarnainya.

Oleh Tatan Daniel

Tags
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah