Boru Sinaga Lakukan Ritual Memohon Keselamatan Kepada Boru Sinenag Naga di Jembatan Kembar Parapat

Posted 29-01-2019 14:34  » Team Tobatabo
Foto Caption: Elisa Santyika Naga Laut saat memberikan Demban Tiar (Sirih) sekaligus menjadi sajen permohonan agar Namboru Si Nenag Naga tetap mengawal kita dan tidak ada korban disaat kejadian lumpur tiba dan kalau boleh mengakhiri luncuran lumpur dari puncak sana agar bencana besar tidak datang. PALAPAPOS/Jes Sihotang

SIMALUNGUN - Belum berakhirnya ‘tragedi lumpur’ yang kerap menimpa jembatan kembar di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Sibaganding-Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, justru mengundang ‘misteri’ baru dengan hadirnya Elisa Santika Sinaga (30) dari Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir di tempat kejadian longsor, Jumat (25/1/2019).

Ia hadir sekitar pukul 13.30 Wib dan membuat rempah persembahan untuk memohon kepada penghuninya ‘Namboru Boru Sinenag Naga’. Elisa ternyata masih belum menikah, sejak kecil dia jarang bersahabat sesama kawannya, bukan karena kemauannya, tetapi terkadang begitulah situasinya.

Menurut Boru Sinaga ini, dia kerap didatangi ‘Namboru Boru Sinaeng Naga’ (Mahluk Gaib) yang berhati baik, sekaligus meminta Elisa datang ke tempat kejadian di Jembatan Kembar di Lombang Siduadua untuk melakukan beberapa hal diantaranya, membuat sajanan dari buah-buahan berupa, Durian, Pisang, dan tidak lupa puluhan Pangir (jeruk purut) pilihan, berikut aek sitis-tio (air bersih)

Awak media palapapos.co.id yang kebetulan hendak mengabadikan pengerjaan pengorekan lumpur sampai dikedalaman 7 meter dengan alat berat yang didatangkan dari PT TPL, justru melihat kejadian unik sekaligus mendekai Elia br Sinaga yang menyusun sejumlah Demban (Daun Sirih) dengan berbentuk gumpalan-gumpalan besar..

sesekali mulutnya terlihat komat-kamit, dan kadang juga melirik  kita, karena mengabadikannya dengan telepon genggam. Lalu, Elia berkata, jangan takut sebab kita hanya memohon sama Namboru itu. "Saya adalah Elia Santika Nagalaut," ujarnya sambil mengunyah sirih yang juga menggumpal dimulutnya.

Selanjutnya, Santika mengajak Op Daud Sinaga yang kebetulan sebagai pemilik warung dekat TKP yang kerap dijuluki teman-teman dari Gurup Imitigasi Bencana (sebuah grup spontanitas bergabung dengan berbagai profesionalitas di Jembatan Kembar tersebut) sebagai Posko.

“Ito pun ikut ajalah, nggak apa-apa, supaya bisa juga memegang Sirih ini, karena saya sudah sediakan tiga bagian (3 Gepok) dan mari kita sama-sama memohon supaya lumpur-lumpur yang turun ini tidak mengambil korban, dan sayapun datang kesini dari Samosir sana, juga karena di suruh Namboru Sineang Naga, maka dengan demikian jikalau saya bisa disuruhnya, maka sayapun bisalah bermohon, dan ayok lah," katanya sembari menujuk Oppung Daud dan palapapos.co.id saat itu.

Ajakan itu pun kami ikuti meski bulu kudu halus dan kasar serasa berdiri dibagian tengkuk,leher dan sepanjang tangan. Para saksi yang hadi pun mendengar Elia bermohon dengan suara berat dan kecil sambil berkata “namboru/oppung unang sai muruk ho, marpanganju ma ho, sai manghorasi ma ho, unang paila au, alana hodo namarsuru au, nga huboan be napinangidomi, sosadia nian on, alai onmajo natarpatupa, sai makkorasi ma hamu da?”

Pada initinya dalam permohonan, Elia berharap agar penghuni ‘Namboru Sinenag Naga’ yang juga bisa menguasai Laut, Danau, Udara dan Langit untuk tidak marah kembali, jangan mempermalukan Elia Santika Naga Laut karena atas petunjuknyalah bentuk media sajen dari buah-buahan dan sirih serta lainnya itu disediakan disana, walau yang saya bawa tidak seberapa tetapi inilah dulu dan biarlahkanlah supaya kita semua sama-sama selamat (Horas), kira-kira demikian.

Sebelum meletakkan sajen, Elia menghentikan sejenak pengerukan dengan alat berat. "Kita biarkanlah dulu sajen kita ini diterima namboru itu, nanti kalian lanjutkan," pintanya.

Usai meletakkan sajen berbentuk Demban Tiar (Sirih), ia menceritakan mimpinya sebelum datang ke lokasi jembatan kembar. "Saya telah bermimpi, gunung ini longsor besar dan semakin besar, sayapun disuruhnya ke sini, dan tadi pagi saya datang sekaligus berbelanja di Pekan Tigaraja (Dulu Pekan Tiga Raja itu adalah Pekannya Raja-raja, dan ada Tiga raja besar disana termasuk Raja Sisinga Mangaraja)" katanya.

Demikianlah kisah yang yang diceritakan dan diharapkannya agar pengendara tidak membuang puntung rokok sembarangan disana. "Jaga kebersihan karena mereka sekali jalan ada tujuh orang dan mereka kerap beriringan dengan Namboru Sinenag Naga," terangnya.

Sementara itu, dari hasil survei warga sekitar T Sinaga (35), bahwa diatas sana retakan tanah semakin melebar, dan sebuah batu berukuran sekira 2 ton (sebesar sebuah Steleng besar) sempat berguling dan terganjal dipingang dua bukit pada aliran lumpur sekitar 250 meter dari Jembatan Siserasera.

Untuk itu, sambungnya, tetaplah waspada dan apa yang dibuat Namboru ini tadi, biarlah sebagai media sesuai dengan terawangannya tanpa mempersoalkan ‘ini dan itu’, sebab bangsa Batak inipun dulunya mengenal tradisi.

"Anggaplah sebagai melestarikan budaya dari nenek moyang kita, yang tetap mampu menggugah kita supaya tidak sombong kepada alam, dan jangan lagi berbuat murka terlebih kepada penghuninya," harap Sinaga.

Dikutip dari Palapapos
MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI