Pameran Tunggal Moses Tarigan, Buka Tabir Lukisan Piso Surit Tentang Cerita Sedih Pengorbanan Hidup

Posted 19-02-2019 19:51  » Team Tobatabo
Foto Caption: Moses Katanasah Tarigan menggelar pameran tunggal di Taman Budaya Sumatera Utara Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, mulai 18 sampai 27 Februari 2019 mendatang (Tribun Medan)

MEDAN - Sebanyak 30 karya dua dimensi dan tiga dimensi milik Moses Katanasah Tarigan dipamerkan dalam pameran tunggalnya yang berjudul Simerawana di Taman Budaya Sumatera Utara Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, mulai 18 sampai 27 Februari 2019 mendatang.

Semua lukisan yang dipamerkan disini punya arti tersendiri bagi Moses.

Satu lukisan yang paling mengena dihati Moses adalah Piso Surit. Lukisan Piso Surit yang diselesaikannya dalam waktu empat bulan ini terletak di tembok sebelah kiri gedung pameran dan terbagi menjadi tiga bagian.

"Piso surit itu adalah kicauan burung. Dimana burung ini tidak bisa mengerami telurnya. Ketika dia akan bertelur, burung ini akan mencari sangkar lain yang sedang dalam proses pengeraman juga. Ketika dia telah menemukan sangkar tersebut disitu dia akan bertelur," kata Moses.

Moses melanjutkan ketika proses pengeraman burung tersebut akan memantau perkembangan buah hatinya itu dari jauh dan menjaganya dari jangkauan hewan buas. Setelah telur itu menetas si empunya sangkar kaget karena yang ditetaskannya bukanlah anaknya.

"Si empunya sangkar kemudian meninggalkan bayi burung malang itu. Saat itulah si induk mempunyai kesempatan untuk berjumpa dengan anaknya. Tetapi ada satu pantangan yang membuat si induk tak bisa berjumpa dengan anaknya. Jadi hanya ada dua pilihan kalau dia ingin bertahan hidup maka dia tak boleh berjumpa dengan anaknya. Namun kalau ia ingin berjumpa dengan anaknya, dia pasti akan mati," sambungnya.

Namun hal itu tak membatasi keinginan si induk untuk bertemu dengan anaknya. Ia pun mengorbankan nyawanya untuk bertemu dengan anaknya itu. Tak berapa lama setelah melihat anaknya, burung tersebut terkapar jatuh ke tanah dan mati.

"Jadi selama dua minggu si anak burung itu bertahan hidup hanya dengan memakan embun pagi yang ada di sekitaran sangkar. Setelah dua minggu si anak burung ini kemudian belajar terbang tapi dia belum cukup kuat mengepakkan sayapnya lalu dia terjatuh tepat disekitaran bangkai sang induknya," ujar Moses.

Saat terkapar di tanah, anak burung ini kelaparan. Karena ia tak tahu bahwa bangkai itu adalah bangkai induknya, ia memakan bangkai itu untuk mempertahankan hidupnya.

"Ketika ia terkapar di tanah ia berkicau sriiitt srrittt. Kicauan itulah yang diambil menjadi nama Piso Surit," ujarnya.

Selain lukisan Piso Surit ini ada banyak lukisan yang indah di dalamnya. Setiap lukisan pun memiliki judulnya masing-masing. Kata Moses lukisan yang ia pamerkan merupakan karyanya empat tahun terakhir. Sedangkan patung yang ia pamerkan ini merupakan karyanya sejak masih SMK.

"Hampir seluruh lukisan ini adalah buah dari pikiran saya sendiri. Artinya ini murni dari imajinasi saya sendiri. Walaupun mungkin ada yang meniru misalnya wajah atau posisi tapi saya akan selalu memodifikasi atau menambahkan apa yang tidak ada di model aslinya," pungkasnya.

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI