Sutopo Tewas Bersimbah Darah, Tiba-tiba Ditembak Softgun saat Duduk di Depan Rumah

Posted 05-04-2019 19:28  » Team Tobatabo
Foto Caption: Painem, ibu Sutopo menangis histeris di depan jasad anaknya.

MEDAN - Warga di seputaran Jalan Bambu II, Kelurahan Durian, Kecamatan Medan Timur, digegerkan dengan suara letusan senjata api yang terdengar berbunyi beberapa kali.

Peluru dari senjata itu, mengenai salah seorang warga sekitar atas nama Sutopo atau yang akrab disapa Komeng berusia 47 tahun.

Akibat peluru yang mengenai tubuhnya itu, Komeng langsung roboh dan terkulai lemas di atas tanah.

Menurut keterangan adik korban, 
Eko Suwarno (38) sebelum kejadian korban sedang berada duduk-duduk di depan rumah selesai salat Jumat.

"Maksudnya dia mau cari angin. Tiba-tiba dari arah simpang ada penyerangan yang dilakukan oleh beberapa orang bawa senjata soft gun, menembak membabi-buta," kata Eko di rumah duka, Jumat (5/4/2019).

"Rupanya dia kena peluru nyasar. Mereka bawa soft gun yang panjang gitu seperti senapan angin. Dia kena di bagian dan dan tembus ke jantung," ungkap Eko.

Eko menjelaskan setelah kejadian itu para pelaku langsung melarikan diri. Melihat kondisi Komeng yang terbaring di tanah bersimbah darah, mereka lalu melarikannya ke RS Imelda di Jalan Bilal.

Ilustrasi (Istimewa)

"Sampai di rumah sakit sudah nggak bisa di tolong lagi. Mereka bilang nggak sanggup lagi, karena sudah tembus ke jantung. Komeng akhirnya meninggal dunia," ujar Eko dengan raut wajah sedih.

Lebih lanjut, Eko tidak mengetahui siapa pelaku yang menembak abangnya tersebut. Terkait apa penyerangan, Eko juga tidak mengetahui. Karena di hari nahas ini, dia hanya datang untuk melihat kondisi orangtuanya. Karena selama ini dia tinggal di daerah Bangsal.

"Mereka naik kendaraan dan langsung menembak membabi-buta dan nahas kena Komeng," ucapnya.

Masih kata Eko, dia tidak mengenal siapa pelaku. Tapi menurutnya pelaku ada sekitar 6-8 orang.

Hampir sepanjang jalan di daerah dekat rumah korban, terlihat banyak bercak darah berceceran di tanah.

Para warga di lokasi, juga terlihat masih syok mendengar suara tembakan yang terdengar beberapa kali begitu menggelegar.

Suasana di rumah duka masih penuh dengan kesedihan. Para keluarga maupun sanak saudara berdatangan bersimpati dan prihatin dengan peristiwa yang dialami keluarga korban.

Terpisah, Kapolsek Medan Timur Kompol M Arifin mengatakan, akan tetap melakukan upaya otopsi.

"Walaupun keluarga tidak mau dilakukan otopsi, tapi kita tetap upayakan untuk diotopsi," ujarnya.

Ibu Menangis Histeri

Suasana haru berselimut duka melingkupi kediaman keluarga Painem. Penyebabnya adalah salah seorang anak Painem, Sutopo alias Komeng (47) meregang nyawa dengan cara menyakitkan, setelah dadanya diterjang peluru senjata laras panjang, pada Jumat (5/4/2019) sekitar pukul 14.00 WIB.

Warga di seputaran pinggiran rel Jalan Bambu II, Kelurahan Durian, Kecamatan Medan Timur, daerah rumah Komeng tampak berduka.

Tak lama setelah kejadian penembakan misterius itu, tenda biru dan bangku hijau Serikat Tolong Menolong (STM) berdiri di depan rumah korban.

Ibu korban, Painem tampak tetap tidak kuasa menahan air matanya yang terus bercucuran menangisi kepergian anaknya itu.

Berulang kali Painem mondar-mandir keluar masuk rumah dengan wajah yang dibanjiri air mata.

Sekitar pukul 16.53 WIB akhirnya jenazah Komeng tiba dari RS Imelda Medan. Setelah sebelumnya sempat dilarikan untuk mendapatkan pertolongan.

Nyawa Komeng tak bisa diselamatkan. Setelah peluru yang menembus dadanya, jebol hingga hingga ke jantung.

Kedatangan Komeng dibanjiri oleh air mata dari segenap sanak saudara. Komeng diturunkan dari Ambulans RS Imelda menggunakan Brankar dorong (ranjang pasien).

Tubuhnya ditutupi oleh kain berwarna merah. Adik korban Eko Suwarno ikut mengangkat Brankar dorong hingga sampai kedepan pintu masuk rumah.

Anak korban yang mengenakan pakaian kemeja jeans dengan rambut keriting, juga ikut menangis tidak percaya ayahnya telah tiada.

Sanak saudara maupun tetangga sekitar rumah, langsung beranjak masuk ke dalam rumah saat jenazah di baringkan di dalam rumah tersebut.

Ibu korban, Painem tak henti-hentinya terus menangis sambil memandangi wajah anaknya itu.

"Kan kau bagus tadi tidur," ucap Painem sambil berulang kali mengelus wajah Komeng dari dahi hingga ke ujung hidung.

"Kalaulah kau tadi tidur, mungkin nggak akan begini jadinya," tutur Painem sambil menangis memandangi wajah anaknya yang telah tiada.

Sementara itu, adik ipar korban perempuan bernama Asri (33) mengatakan sebenarnya abangnya baik dan tak pernah aneh-aneh.

"Dia nggak ada musuh, baiknya orangnya. Tapi kenapa begini," ujar Asri sambil menangis.

Hingga kini, belum bisa dipastikan siapa penembak misterius yang menghilangkan nyawa Komeng tersebut.

Dikutip dari Tribun Medan
MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI