Cari

Jebakan Sopir Tuk-tuk, Sisi Kelam Pariwisata Bangkok

Posted 20-08-2013 12:21  » Team Tobatabo

Semua pasti setuju bahwa Thailand adalah salah satu surga wisata di Asia; per tahun negeri berpenduduk sekitar 70 juta ini mendapat kunjungan rata-rata 10 juta wisatawan. Sukses pariwisata Thailand antara lain didukung oleh masyarakatnya yang menyambut hangat wisatawan asing, dan itulah sebabnya pariwisata Thailand memboyong jargon wisata ‘the smiling country’, yang menyiratkan bahwa orang-orang di negeri ini ramah, baik hati, tidak sombong dan suka menolong. Sejumlah informasi wisata yang ditulis pihak-pihak independen di luar kepentingan orang Thailand banyak menuliskan bahwa Thailand adalah negeri yang aman untuk berwisata.

Lalu kita bertanya, benar-benar amankah berwisata di Thailand? Benar. Tapi, sebaik-baik sebuah sistem masyarakat kawasan wisata yang sudah established macam Thailand, masih tersedia sisi-sisi gelap yang menciutkan hari wisatawan. Salah satu sisi gelap yang paling kasat mata adalah jebakan supir tuk-tuk (kendaraan umum roda tiga mirip bajaj), di ibukota Thailand, Bangkok.

loading...

 

13096755291437104374

Tuk-tuk mangkal di Khaosan Road, Bangkok (Foto : Eddy Roesdiono)

 

Berkali-kali ke Thailand, saya merasakan sisi ‘smiling’ negeri ini. Namun, pada Desember 2010, karena terlalu percaya pada jargon ini, saya kena juga. Itu bermula ketika saya dan rombongan baru saja turun dari kereta layang BTS di setasiun Ratchachewi dari Chatuchak. Dari stasiun, saya dan rombongan (3 dewasa dan 2 anak) jalan kaki, berbelok ke Jalan Petchaburi untuk menuju ke kawasan pusat garmen Pratunam. Di sepanjang jalan ini, terlihat mangkal beberapa tuk-tuk dan sejumlah orang. Seorang berpenampilan agak dekil, tubuh gempal, rambut cepat menyapa saya.

“Malaysia?” Tanya dia.

“No, Indonesia!” kata saya.

“Ah, Indonesia. Sukarno! Good man!” dia bilang dan mulai sok akrab dengan bahasa Inggris patah-patah, memuji-muji Sukarno. Saya tahu orang sok akrab ini pasti punya mau terselubung; saya mencoba menghindari orang ini secepat mungkin, tapi anak-anak di rombongan saya sedang beli jajanan di pinggir jalan, jadilah orang ini menempel saya terus. Ia kemudian memanggil satu pemuda perlente, yang lebih fasih berbahasa Inggris. Si pemuda ini tanya saya dan rombongan mau ke mana, dan saya jawab mau ke Pratunam. Si pemuda bilang Pratunam belum buka dan ia bisa mengantar ke pusat garmen lain yang lebih lengkap dan sudah buka. Saya menolak, tapi dengan halus dia bilang, saya cukup bayar 20 baht (Rp 6000) per tuk-tuk, dan dia akan antar ke tempat yang ia sebutkan. 20 baht itu terlalu murah untuk sewa tuk-tuk jarak dekat sekalipun. Dan entah kenapa, ia berhasil membujuk saya. Dengan dua tuk-tuk, si cepak dan si pemuda membawa kami ke sebuah tempat di sebuah gang yang sama sekali tidak menyerupai pusat dagang garmen.

 

13096756311680102912

Pratunam, orang Indonesia suka ke sini. Awas jebakan tuk-tuk preman (Foto : Eddy Roesdiono)

 

“Kamu tadi bilang mau ke pusat garmen. Ini tempat apa?” saya protes pada pemuda itu.

loading...

“Begini,” kata pemuda itu, “minggu ini adalah rangkaian ulang tahun Raja Thailand. Kami mampir ke sini sebentar buat ambil voucher bensin gratis. Silakan masuk ke dalam,” kata pemuda itu. Dua orang sopir tuk-tuk ini menggiring kami ke sebuah toko yang ternyata adalah pusat kerajinan dan penjualan perhiasan. Kami sempat berkeliling toko dan dibuat tercengang dengan harga barang-barang perhiasan yang jelas bukan tujuan belanja kami. Saya mulai curiga, apalagi di dinding toko ada tulisan begini ‘Sopir-sopir tuk-tuk itu bukan bagian dari pemasaran kami dan bukan kami pula yang mengorganisirnya. Semua yang dilakukan sopir tuk-tuk bukan tanggungjawab kami’. Setan belang! Saya sadar kami tertipu. Dan benar, ketika kami keluar toko tanpa membeli satu barangpun, si cepak mulai mengomel. Di perjalanan balik ke Pratunam, ia marah “You no buy……I got no voucher…shit!”.Rupanya, sopir tuk-tuk dapat voucher untuk beli bensin kalau pelanggan yang diantar ke toko itu beli sesuatu. Nah, karena kami tak beli apa-apa, iapun tak dapat voucher. Walhasil, ia marah-marah. Untuk meredam kemarahan orang ini dan untuk menghindarkan hal-hal yang lebih buruk, saya bilang.

Shut up! Nanti saya bayar masing-masing tuk-tuk 100 baht (Rp 30.000)”

Rupanya praktek akal bulus seperti ini sudah berlangsung lama. Mereka juga punya variasi akal-akalan untuk memperdaya wisatawan. Selain mengarahkan turis ke toko-toko perhiasan, mereka juga biasa menebar bohon dengan kata-kata misalnya, “Wah, hari ini Grand Palace tutup. Gimana kalau saya antar ke tempat lain?” Turis yang tak biasa dengan ini biasanya akan terpedaya. Mereka dibawa ke sebuah kuil atau candi dan ditinggalkan di situ. Di candi, sudah menunggu ‘aktor’ lain yang menyaru jadi mahasiswa dengan pakaian rapi, pura-pura habis berdoa, kemudian mendekati turis dan menawarkan dengan paksa jasa-jasa wisata dari travel agent yang mematok harga lebih tinggi daripada harga normal. Aktor seperti ini juga (menurut Wikipedia) bisa memaksa Anda untuk belanja perhiasan bebas bea (duty free), yang barangnya langsung dibungkus dan dikirim ke alamat Anda di tanah air tanpa memberi Anda kesempatan untuk memeriksa barang. Nanti belakangan di tanah air Anda mendapat kiriman barang bermutu rendah yang tak sesuai harga. Inilah yang oleh kalangan internasional dikenal dengan istilah Thai Gem Scam atauBangkok Gem Scam.

 

1309675763787178707

Tuk-tuk di antara moda transportasi lain di Metro Bangkok (Foto : Eddy Roesdiono)

 

Hebatnya lagi, ‘preman-preman’ wisata dengan sarana tuk-tuk ini pandai pula menyaru seolah mereka adalah petugas resmi TAT (Tourism Authority of Thailand), Lembaga Pariwisata Thailand, lengkap dengan seragam dan name-tag lembaga resmi itu, yang ‘bekerja’ untuk agen-agen wisata fiktif. Mereka biasa beroperasi di kawasan-kawasan wisata utama Bangkok seperti the Grand Palace, Wat Po, Khao San Road, Siam Square, Petchburi Road dan Pratunam.

Kalau kebetulan Anda baru pertama kali ke Bangkok, berhati-hatilah dengan kata-kata kunci tawaran ini :

“Tuk-tuk, only 20 baht”—Modus ini yang paling banyak digunakan. Jangan mau, karena nantinya anda akan dibawa ke toko perhiasan dan dipaksa beli seperti yang saya alami.

“Tempat yang hendak Anda kunjungi sudah tutup/belum buka/sebentar lagi tutup,” –Anda akan diarahkan ke tempat lain dan di tempat itu sudah menunggu aktor sekongkol yang siap dengan aksi-aksi penipuan lanjutan .

“Taksi, 200 baht!”—Jangan mau, karena kalau pakai argometer, biasanya jatuhnya di bawah 100 baht.

Hello, mister. Silakan lihat ini,” mereka menunjukkan brosur-info wisata laminatingan, yang harganya sangat jauh dari harga sebenarnya.

“Mari saya antar pakai tuk-tuk, 100 baht keliling-keliling!”—Anda akan dibawa ke tempat-tempat yang bukan tujuan Anda, dan dipaksa beli barang-barang yang tidak Anda perlukan.

Lalu bagaimana cara menghindari preman-preman wisata ini? Pasang muka tak ramah, janga n senyum, pura-pura tidak bisa bahasa Inggris, jalan cepat, mata lurus memandang ke depan, dan bilang “Mai ow!” (Nggak mau)

Selebihnya, tak perlu Anda berkecil hati. Tak semua sopir tuk-tuk berniat jahat. Gunakan tuk-tuk hanya untuk jarak dekat. Untuk jarak jauh, taksi lebih nyaman. Dan bila Anda mau aman, mungkin cara saya ini bisa dicoba. Terakhir kali, saya dan rombongan kecil saya didekati para preman tuk-tuk seperti di atas. Lalu saya jalankan strategi yang sudah saya rencanakan dengan anggota rombongan saya, yakni pura-pura bertengkar heboh sesama anggota rombongan pakai bahasa Indonesia, tanpa menggubris para preman itu, tanpa memberi mereka kesempatan untuk menyela atau mengajak bicara. Mereka menyingkir sendiri sambil mengomel. Selepas dari situasi itu, kami para angota rombongan cekikikan sendiri mendapati para penipu itu melongo-longo menghadapi turis Indonesia yang sedang ‘perang mulut’ antar sesama anggota rombongan sehingga mereka gagal melancarkan aksinya.

Sumber Kompasiana

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah