Antitesis Karo Bukan Batak: 1. Pandangan akan Karo

Posted 21-11-2014 11:18  » Team Tobatabo

Pandangan marga pendatang dari Toba yang 5 generasi Ompung (kakek) saya sudah tinggal di Simalungun dan Saya lahir di Tanah Karo dan Besar di Perkampungan Karo di Tanah Deli.

Dalam tulisan ini dengan mengedepankan Moto Portal ini: Setara-Serasa-Selaras maka saat saya akan memulai tulisan dari Karo. Mengutip pepatah dari Toba: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul yang artinya: “Jenek nge ersenina si jeneken dengga nge sada kuta” yang artinya: “meski dekat saudara semarga masihlah lebih dekan saudara Sekampung (Tetangga)”.

Yang saya tahu Karo adalah adalah kumpulan masyarakat heterogen yang Berdasarkan Keputusan Kongres Kebudayaan Karo. 3 Desember 1995 di Sibayak International Hotel Berastagi, di kelompokkan pada Lima Marga Induk (Marga Silima), adapun Marga (Karo= Merga, selanjutnya kita sebut Merga – karena tulisan ini tentang Karo) adalah:

1. Perangin-angin

2. Karo-karo

3. Ginting

4.Sembiring

5. Tarigan

Wajar Karo punya bakat Pecatur-Pecatur Hebat, karena sejak lama Catur Sudah Dimainkan di Tanah Karo Simalem (photo milik Bhtrg, dikutip dari kompasiana.com)

Dan marga-marga tersebut bukan hanya ada di Kabupaten Karo, tetapi menyebar sampai pada daerah Langkat, Deli, Serdang. Dan tentunya Karo ini tidak akan lepas pengaruhnya pada daerah sekelilingnya yaitu: Goyo, Kluet, Alas, Pakpak, Simalungun dan Toba.

Mungkin ada yang bertanya kenapa Toba ada tertulis tentunya secara Geografis sangat berhubungan yaitu karena Tongging yang di tepi danau Toba itu adalah Kabupaten Karo (meski danau Toba belum berhasil benar-benar menyatukan Puak sekelilingnya).

Nah kembali ke Topik, dari Marga Silima (Lima Marga di atas) masih mempunyai Sub Marga yang masing masing lebih dari 15 belas Marga. Fakta yang ditemukan adalah ikatan Marga Karo dalam Merga Silima (Lima Marga) sebagai kelompok terbesarnya bukanlah Satu Garis keturunan langsung akan tetapi penyederhanaan yang dilakukan oleh sistem pendekatan dari semua Marga yang ada sehingga yang memang atau kebetulan ada kedekatan sehingga penggerucukan marga ini tahun 1995 tidak menimbulkan polemik besar dan malah menjadi “trademark” dan kebanggaan “Suku Karo” saat ini.

Fakta dalam bentuk dokumentasi tertua yang saya dapatkan tentang Karo ini adalah buku John Anderson berjudul: Mission To The East Coast of Sumatra yang diterbikan tahun 1826, menggambarkan  “Suku Karo” (di Menulis Batak Karau-Karau), yang saya rangkum seperti berikut ini:

Hal. 60 Masyarakat Klumpang (tertulils “Kulumpang”) adalah Batta Karau-Karau

Hal 69 ditulis “Karau Tribe” (“Suku Karo”), tidak mengulangi kata Karau sebanyak dua kali

Hal 235 menyebutkan Karau-Karau Battas (Batak Karo) ada di pedalaman Deli dan Langkat.

Hal. 251 Raja dari “Suku Karo” yang utama adalah: Raja Nagasaribu dan Tuan Si Purba

Hal 266 Batak di Bulu Cina adalah karau-karau digambarkan sebagai berkulit Gelap (tertulis “the dark ill featured race),

Hal. 297 Batak Karau-Karau menulis di hadapan saya (John Andersen) dari kiri ke kanan di atas kertas dengan pena

Hal. 306 Batak Karo disebut tidak kanibal

Dari yang saya telusuri maka “Karau Tribe” (lihat item 2 diatas) itu hanya sekali dan Penulisan  Karau Karau (dengan atau tanpa Batak) ada sebanyak 13 Kali.

Dan beberapa buku tulisan pengamat barat juga mengutip buku John Anderson ini.

Saya tidak tahu kenapa disebut Karau Karau,

Ada bebarapa pihak menghubungkan Karo dengan Kerajaan Aru, meski saya pribadi belum menemukan bukti kuat tentang ini dan pihak yang mengait-ngaitkan Karo dengan Aru juga belumlah bisa menyajikan data yang kuat.

Sementara catatan Tengku Lukman Sinar sendiri secara tersirat mengindikasikan melayu yang di Deli itu umumnya adalah Batak yang Turun Gunung.

Dan Letak Kerajaan Aru juga masih dalam perdebatan para Ahli. Dalam catatannya, Pires menyebutkan bahwa Raja Aru tinggal di pedalaman dan dia menyebutkan daerah Aru meliputi sebagian Minangkabau, dan di sana mereka memiliki sungai sangat besar  sepanjang pedalaman pulau Sumatera dan dapat dilalui kapal, dan dari tempat-tempat mereka mendapatkan kain untuk pakaian mereka dan kebutuhan lainnya, dan ditempatnya banyak sekali sungai.

Hal ini dikuatkan oleh William Marsden dalam The history of Sumatra mengindikasikan Aru sebagai tanah Rao.

Tapi sulit menafikan kekuasaan aru di Perairan Selat Malaka dari Riau ke Sumatra Utara saat ini, karena seperti di tulis Pires Kerajaan Batak tidak mempunyai kehidupan dipantai, hanya beberapa kapal berpatroli, sementara letak kerajaan Batak itu menurutnya ada diantara Pase dan Aru.

Dan  Raja Batak ada ikatan Persaudaraan dengan Raja Aru, melalui Raja Tomjuan (Tamiang) yang merupakan Menantu dari Raja Aru (Pires Hal 147) tapi apakah Raja Tamiang ini adalah Raja Batak? Atau bagian dari Kelajaan Batak? Pires tidak menyebutkan jika Raja Tamiang ini adalah Raja Batak, tetapi dia mengatakan kebiasaan Raja Tamiang ini sama dengan kebiasan Raja Batak.

Besar Kemungkinan Aru tidak berseteru dengan Batak (pengecualian pada menantunya Raja Tamiang yang suka cari keributan), meski Aru juga tidak termasuk Pasukan Koalisi Batak dalam menyerang Aceh yang melibatkan Pinto.

Nah kalau masalah Bahasa para ahli menyatakan bahwa Bahasa Karo adalah termasuk Rumpun Bahasa Batak. Tepatnya Rumpun Bahasa Batak Utara (termasuk Pakpak-Dairi dan Alas-Kluet). Karena perbedaan yang ada maka itulah dasar pengakuan akan adanya bahasa Karo.

Lengkapnya: Austronesia, Malayo-Polynesian, Northwest Sumatra-Barrier Islands, Batak, Northern, Karo.

Dan menuruf Prof. Uli Kozok dalam sebuah diskusi, jika dilihat dari Aksara maka Aksara Karo juga termasuk Aksara Batak yang paling Muda.

Sekian untuk saat ini dan tulisan ini akan berlanjut.

 

Editor Leinjer S Tampubolon

Sumber:

kutipan dipersembahan Google Book:

1. The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East, from the Red Sea to China yang di pubilkasi oleh Asian Education Service Delhi (India): 2005

2. The voyages and adventures of Fernand Mendez Pinto, yang dialih bahasa ke bahasa Ingris oleh H.C Gent yang diterbitkan tahun 1653,

3. Mission to the east coast of Sumatra: in M.DCCC.XXIII, John Anderson, William Blackwood, Edinburgh: And T. Cadell, Strand, London, 1826

4. The history of Sumatra: containing an account of the government, laws, customs and Manner, Oleh William Marsden, sold by Thomas Payne and Son; 1784.

 

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI