Tradisi Mardemban atau Mardaunbari dalam Suku Batak

Posted 08-01-2015 12:03  » Team Tobatabo

Siapa diantara kita yang sudah pernah mencoba untuk mardemban atau mardaunbari? Buat para pemula, atau yang baru pertama sekali mencoba tradisi nyirih atau mardemban, tentu tidak enak rasanya, bukan?

Rasa pedas, sepat, dan juga ada rasa kelat di lidah saat mengunyah demban atau sirih. Mardemban atau sering juga disebut mardaunbari adalah salah satu tradisi suku Batak yang sudah dilakukan sejak lama, bukan hanya untuk komsumsi sehari-hari namun juga digunakan untuk upacara adat Batak.

Campuran demban atau sirih terdiri dari, demban (sirih), pining (pinang), hapur (kapur sirih), gambir, serta timbaho (serat tembakau). Tentunya dengan komposisi yang pas agar jangan tarhapur atau mangurbak pamangan (luka atau iritasi di rongga mulut bagian mulut). Biasanya:

  • 2 lembar daun sirih 
  • 2 lembar gambir 
  • 4 iris pining 
  • hapur (kapur sirih) secukupnya 
  • serta timbaho.

Timbaho ini biasa digunakan untuk membersihkan gigi saat mardemban (memakan sirih) yang disebut juga marsungkil. Sebenarnya banyak sekali manfaat dari mardemban ini.

Selain sebagai tradisi dan kebiasan, mardemban juga mempunyai banyak manfaat lainnya, antara lain:

  • Menyehatkan dan menguatkan gigi, kadungan air sirih mampu membunuh bakteri dalam rongga mulut.
  • Menyehatkan Badan dan Darah, air sirih juga memiliki kemampuan sebagai antioksidan buat tubuh.
  • Pengharum aroma tubuh, air sirih mampu sebagai deodorant buat tuhuh sehingga tercium wangi dan segar.
  • Higienis, air perasan sirih mampu menghilangkan keputihan dan membuat organ kewanitaan lebih sehat.

Apakah diantara kita bisa memberikan masukan apakah sebenarnya manfaat dari mardemban tersebut diatas? Jangan sungkan untuk menambahkannya dalam kolom komentar dibawah.

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI