Kutunggu kau di Sidikalang Bag 2

Posted 30-12-2014 13:44  » Team Tobatabo

Dua tahun kemudian**

Disatu terminal bus travel,rute Jakarta-Bandung “Baraya”di daerah Pasteur,Bandung.Kala itu aku hendak pulang ke Jakarta,seusai menghadiri undangan pernikahan salah satu kawan yang berdomisili di Bandung,marga Silalahi.Sebelum menaiki bus travel ber kelas eksekutif itu,aku sengaja menghabiskan sebatang rokok disebuah warung dipinggir jalan,dekat pintu masuk terminal itu,segelas kopi hideung kupesan kepada si ceu..sipemilik warung itu.

Tak lama kemudian.

“Tin..tin…tinn..!!

Suara klakson Toyota Avanza hitam yang sengaja diparkir ditepi jalan yang jaraknya sekitar lima meter dari tempatku duduk,sejenak aku melirik kearah mobil itu,namun tak kupedulikan.dan kemudian kembali kureguhan kopi hideung si ceu..yang rasanya kian manis apalagi ditambah senyuman manis. mojang parahyangan siempunya warung itu..

“Tinn..tinn…tinn.!!”

Sipengendara avanza hitam itu kembali membunyikan klakson nya,sejurus kemudia,sosok seseorang tampak menjulurkan kepalanya keluar.

“Hoi…lae…!!”

“Hoi…lae Silalahi…!!”

Teriak sipengemudi avanza ke arahku,aku langsung merespon,ketika ia menyebut”Silalahi”.kemudian ia bergegas turun dari mobil itu,ia menghampiriku dengan tergopoh gopoh.

“Lae Silalahi kan?”katanya dengan wajah kaget..

“Bah…lae Jogi..?”jawabku tak kalah kaget.

Ia langsung memelukku dengan erat.

“Kemana saja kau lae..aku mencarimu ke tempat kontrakan kita dulu,tapi ternyata kau sudah pindah,pindah kemana kau?”sergah Jogi padaku.

“Seminggu sejak kau ke pulang ke Medan(menjemput Renita) aku pindah kedaerah Cempaka putih,sepi..!!sejak tak ada kau.!.apalagi dua hari sejak kau di medan tak bisa lagi nomor hp mu kuhubungi,kenapa nomor kau tak bisa dihubungi kala itu?”tanyaku pada Jogi.

“Nantilah akan kuceritakan semua perjalanku itu secara lengkap kepadamu lae,lagi ngapain kau di Bandung,?trus ngapain lae di Baraya ini?ayo..kita kerumah saja dulu.”

kata jogi sambil menarik tanganku masuk kedalam mobil.

Sepanjang jalan didalam mobil itu,aku sengaja kembali mengorek kisah perjalanan-nya sewaktu menjemput Renita dari Sidikalang berikut lika-liku yang dihadapinya.

Namun jogi hanya tertawa dan sesekali tersenyum sungging kepadaku.

“Hahaha….nantilah,akan kuceritakan semuanya padamu lae..”

Setengah jam kemudiankami tiba dirumah Jogi,sebuah kompleks Perumahan,di daerah Bandung Utara,kompleks itu dihuni mayoritas para kelas menengah,Rumah bergaya minimalis modern,type 42.bercat cream dengan kombinasi abu-abu.Setiba didepan rumah,lampu taman sudah tampak menyala.

Sosok wanita,dengan mengenakan pakaian tidur,tiba-tiba keluar dari dalam rumah,sembari membukakan pintu.

dialah Nyonya si empunya rumah itu.

Renita Florencia.S alias nyonya Jogi.

“Lihat mah…siapa yang kubawa…”

Kata jogi kepada Renita,yang seakan memberi kejutan dan surprise kepada istrinya itu.

“Hah…bang Silalahi,?

ketemu dimana sama bang Jogi..?

gimana kabarnya bang..?

darimana saja,kok lama tak ada kabar..?”

kata Renita bertubi-tubi,melayangkan pertanyaan padaku.

“Ayo.silahkan…masuk.”kata Renita ramah sembari mempersilahkan aku masuk kedalam rumah mereka.

“Punteun..”

Kataku bak orang sunda ketika memohon izin masuk kedalam rumah.

“sok atuh,,mangga…”

jawab si empunya rumah dgn tersenyum.

Wajah Renita terlihat semakin muda dan cantik,kulit nya kian putih dan terlihat makin seksi dengan kacamatanya,penampilanya sangat berbeda dibanding dua tahun lalu,entahlah mungkin faktor cuaca yang sejuk didaerah ini.membuatnya semakin cantik,atau karena Jogi semakin rajin memberi perhatian khusus tentang penampilan istrinya itu.entahlah..!!

Usai makan malam,sambil menikmati teh hangat,kemudian kami bertiga ngobrol panjang lebar,dan sesuai janji Jogi,untuk menceritakan perjalanan-nya ketika menjemput Renita ke Sidikalang sekitar dua tahun yang lalu,secara rinci dan detail.

Sesekali Renita ikut menimpali dan mengamini,saat Jogi menuturkan bagian-bagian detil kisah perjalanan mereka berdua kala itu,bahkan ada bagian yang sangat mengharukan,yang membuat Renita tak kuasa menahan air matanya,termasuk saat mereka malam itu kabur dari Sidikalang.dan terdampar di daerah Porsea,daerah yang teramat asing bagi Jogi dan Renita,yang kala itu hanya berbekal sisa uang 125 ribu,padahal malam itu juga,harus segera berangkat menuju Jakarta.

Sementara orang tua Renita beserta,keluarga namboru-nya di sidikalang sudah kalang kabut,saat diketahui Renita kabur dari Rumah sementara pesta sudah menjelang hitungan hari.semua keluarga berpencar mencari mereka berdua.namun hasilnya nihil.nomor ponsel jogi dan renita pun sudah berganti,praktis tak bisa dihubungi oleh siapa pun,bisa dibayangkan kegemparan yang terjadi saat itu dikedua keluarga Renita dan keluarga Namboru nya par sidikalang itu.

“Itulah kenapa nomor ku saat itu tak dapat dihubungi lae..”

Kata Jogi menjelaskan kepadaku.

“ooh…..ya..ya…”

kataku sambil mengangguk.

Singkat cerita,kemudian mereka sampai di Bandung,tinggal di Jakarta sengaja dihindari,untuk menutup jejak dari kejaran abangnya yang Kolonel itu.

Kemudian dua minggu sejak mereka dibandung,ahirnya mereka menikah di sebuah Gereja beraliran Kharismatik di Bandung,dengan proses yang sangat singkat dan sederhana,hanya dihadiri sekitar puluhan orang.itupun para jemaat sidang gereja itu.

(Renita kembali menitikkan air mata saat Jogi mengisahkan bagian ini)

Pahit getir kehidupan mulai mereka jalani berdua,diawal-awal menjalani bahtera rumah tangga,status hidup dalam pelarian,hidup dalam bayang-bayang ketakutan,selalu waswas dan diliputi rasa cemas,status Jogi benar-benar menjadi Buronan Mertua.!!

Hampir satu tahun lebih,hidup dalam pelarian itu dijalani oleh Jogi dan Renita di Bandung,selama itu pula hampir tiga kali berpindah pindah tempat tinggal,untuk menghindari kejaran pihak keluarga Renita,selama itu pula,komunikasi antara Renita dengan semua keluarganya putus total..!!

Hingga pada suatu ketika

Ketua RW dan Pak RT setempat, mendatangi rumah kontrakan mereka,bersama tiga orang berbadan tegap,berpangkas cepak,mengenakan baju safari,mengaku anggota TNI AD,dari salah satu kesatuan di Bandung.

“Siapa yang suruh bapak bapak? Ada urusan apa kami dengan tentara?”kata Renita kepada ketiga anggota TNI berbadan tegap-tegap itu dengan sengit,ternyata feeling dan naluri Renita memang tak meleset,urusan dengan aparat TNI,berarti tak lain,hubungan-nya dengan abangnya di Pondok Labu itu.

Kala itu suasana serasa mencekam dan gaduh,Renita sempat histeris dan menangis dirumah,jogi juga tampak ketakutan,wajahnya pucat pasi,yang terbayang dibenaknya adalah segera dibawa kehadapan lae-nya,yang kala itu ia gambarkan sebagai tentara bengis itu.ia akan segera disidang,atau bahkan lebih parah,ia akan dipenjarakan.!

Suasana kian ramai,para tetangga sekitar berdatangan.

Pak RW dan pak RT,berusaha menenangkan serta memberikan penjelasan kepada Renita,tentang ikhwal dan maksud kedatangan ketiga orang tentara itu,demikian juga kepada Jogi.

kemudian.

Setelah melalui negosiasi yang alot,ahirnya sore itu mereka berdua bersedia dibawa oleh ketiga anggota TNI itu.yang tak lain kerumah abang nya Renita di Pondok Labu.

Tak ada lagi pilihan,selain pasrah sepanjang jalan mereka berdoa,sejak masuk pintu tol dari Bandung,perjalanan selama hampir dua jam lebih menyusuri ruas tol yang sangat panjang dan jauh itu.suasana didalam mobil jenis Toyota SUV bergardan ganda itu begitu hening,sepanjang jalan,jogi memegang tangan Renita,seakan saling menguatkan,sesekali wajah tentara yang menjemput mereka berdua melempàr senyum kepada Renita.

Hingga ahirnya mereka tiba di Pondok Labu,Jakarta.dirumah abang Renita.

Seriba disana,ternyata kedua orang tua Renita sudah menunggu,bersama kakak perempuan satu satunya Renita,yang selama ini tinggal di Surabaya,yaitu Kak Ria,serta satu lagi abang Renita yang tinggal di Halim Perdanakusuma,Jakarta Timur,yaitu Roby Marthinus,beserta keluarga abangnya yang kolonel itu.

Renita tampak kikuk dan canggung saat melangkah-kan kakinya menuju pintu rumah itu,jogi berusahà menarik tanganya istrinya itu,walau sebenarnya saat itu dilanda rasa ketakutan yang berkecamuk

Namun belum juga langkah kaki sampai didepan pintu,kak Ria langsung berlari menyongsong Renita dan langsung memeluknya,kak Ria menangis,sambil menciumi wajah adik”siampudan”mereka itu.mereka berdua menangis sejadi jadinya dan saling melepas rindu.

Jogi tampak berdiri tegang,diam dan membisu,mulutnya tertutup rapat,kepalanya tertunduk,ia belum tau apa yang bakal terjadi kepadanya,ia menggambarkan situasi saat itu,antara ketakutan dan sedikit kelegan,semua campur aduk,namun disatu sisi,ia juga merasa bak berada dalam ruangan instalasi khusus,yang sebentar lagi akan di eksekusi oleh para algojo-algojo bengis,yang sudah siap didepan-nya.

Kemudian satu persatu memeluk Renita,bahkan Ibu dan bapak-nya Renita juga terlihat menangis haru sambil memeluk Renita.

“darimana aja nya kau selama ini inang,kenapa harus begini?..huu,,,,huu,,huu,,..”

Kata ibu nya,sambil memeluk tubuh Renita dengan suara tercekat dan sesenggukan.

Suasananya terasa mengharu biru,abang nya si Kolonel itu terlihat hanya diam membisu,suasana sedikit agak mencair,saat Bapak nya Renita,yang tak lain adalah mertua nya Jogi itu menyuruhnya duduk dikursi sofa.

Singkat cerita

Ahirnya satu bulan sesudah itu.pembicaraan adat pun direncakan,dan kedua belah saling berembuk di jakarta,setelah melewati proses yang amat panjang dan alot,bahkan tarik ulur,mengenai kesepakatan besaran sinamot yang harus dibayarkan oleh pihak par anak.(pihak keluarga Jogi dari siantar)

Acara pesta adat Mangadati pun dilangsungkan disebuah gedung di daerah Jakarta Timur.

Dan sejak itu,Jogi resmi diterima oleh pihak keluarga Renita sebagai Hela atau menantu,dan Jogi resmi menyandang Ulos hela,pemberian dari kedua mertua nya itu.**

??????

Malam itu kami ngobrol hingga pukul 23:00 malam,Renita tampaknya sudah mulai terkantuk-kantuk dan beberapa kali menguap,setelah itu ia pamit untuk tidur terlebih dahulu,setelah itu,aku masih lanjut bercerita dengan Jogi hingga mendekati pukul 02:00 pagi,setelah itu kami tidur.

Malam itu aku menginap dirumah keluarga Jogi dan kemudian esok harinya,seusai sarapan pagi dengan sepotong roti bakar dan segelas susu yang sudah disipakan oleh Renita,ahirnya aku mohon pamit dan meninggalkan rumah itu.Jogi kembali mengantarku ke arah Pasteur.didalam.mobil itu,kami masih melanjutkan obrolan kami,yang serasa tiada habisnya.

“Aku tau,suatu hari nanti kau pasti akan menuliskan kisah ku ini,hehehe…”

Kata jogi penuh percaya diri.

“Hah….memangnya apa hebatnya kau?sampai-sampai kisahmu kutuliskan dalam satu catatan?macam tokoh penting atau atau sosok Negarawan di Indonesia ini saja kau pakai ditulis segala kisahmu,lagi pula siapa yang bakal tertarik membaca kisah mu ini?hahaha…”kataku meledeknya.

“Eits…nanti dulu..!!,emang dulu apa hebatnya Angelina dan si Ruth boru Sinaga itu,kok kau dulu menulis kisah mereka?padahal kisah mereka kan terkesan monoton gak terlalu menarik-menarik amat kisahnya?

Apalagi kisahnya Angelina,sampai-sampai menyerupai Novel lagi kau buat..hahaha..”

Kata jogi melanjutkan.

“Oh…itu beda kasus bro.. ada alasan tertentu dibalik tulisan itu kawan…hahaha.!!..”

kataku mencoba berkelit dan membela diri.

Jogi menyebut Angelina dan Ruth,Angelina adalah mantan kekasihku dulu,gadis asal Minahasa,Sulawesi Utara.sementara Ruth adalah mantan pacar Jogi,jauh sebelum dia mengenal Renita,beberapa tahun yang lampau,kedua wanita tersebut pernah kubuatkan catatan tentang perjalanan dan pengalaman hidupnya.**

“Tapi aku serius kok..bila kau ada waktu tuliskanlah kisahku ini,aku yakin,kau pasti sudah menemukan plot dan klimas dari kisahku ini,tulislah..pasti ada pesan positif yang nanti ditemukan oleh pembaca..”kata Jogi serius.

“Ya..akan kupertimbangkan,tapi harus kulihat dulu dari berbagai sisi dan aspek,termasuk dari sisi Komersil-nya,layak jual apa tidak?hahaha…”

“Nah…kan..?lagi-lagi ujungnya ke soal materi..hahaha…”

kata Jogi sambil terkekeh diujung percakapan kami.

Sesaat kemudian,kami pun tiba di terminal bus travel,yang tak terlalu jauh dari Pintu tol Pasteur itu,sebelum beranjak pergi,Jogi memelukku sambil menjabat tanganku dengan erat,ia faham betul,hubungan persahabatan kami yang sudah lama terjalin,bukan karena faktor kebetulan semata,kala satu kontrakan dulu,namun lebih daripada itu,faktor kedekatan secara emosional sudah tertanam sejak lama bagi kami berdua.

Biar bagaimanapun,separuh dari kisah dan perjalanan hidupnya,termasuk kisah dan lika-liku asmaranya,semuanya kuketahui.

Siang menjelang sore,ahirnya kami berpisah di terminal itu,wajah Jogi terlihat sumringah dan berseri seri,biar bagaimanapun,rasa rindu,selama dua tahun lebih tak pernah bertemu kini telah terobati.

Kemudian Jogi menghilang ditengah keramaian dan hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang diruas jalan protokol ditengah kota yang berjuluk Paris Van Java itu.**

 

Kutunggu kau di Sidikalang Bag 1

Sumber

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI