Menapaki Wujud Asli Alam Tongging Memalui Perjalanan Sehari

Posted 07-06-2012 11:44  » Team Tobatabo

Menikmati liburan akhir pekan di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Kabupaten Karo, memiliki daya tarik tersendiri. Desa yang berlokasi di sebelah ujung utara Danau Toba ini, ternyata menyimpan beragam potensi wisata alam. Tongging, nama sebuah desa yang terletak sekira 41 Km dari Berastagi, desa ini terdapat di sebelah utara Danau Toba.

Meskipun terletak di pinggir Danau Toba, namun wilayahnya masuk kawasan Kecamatan Merek di dataran tinggi Karo. Memang panorama indah di kawasan sekitar desa yang mayoritas dihuni tiga suku ini (Karo, Batak Toba, dan Pak-pak), belum banyak diketahui wisatawan, khususnya turis domestik. Sebelumnya, desa yang berjarak sekitar 42 Km dari kota Berastagi (patokan jarak wisata Karo) tersebut, hanya dikenal dengan panorama kawasan Danau Tobanya.

Namun sejak dua tahun belakangan sudah mulai dimasuki pecinta wisata Dirgantara (udara) dan Tirta (air). Untuk menuju kawasan Tongging bukanlah merupakan hal yang sulit, khususnya bagi wisatawan lokal Sumatera Utara sekitarnya. Bila hendak pergi berlibur, wisatawan yang tidak memiliki kenderaan pribadi, dapat memilih beberapa angkutan AKDP di Terminal Pinang Baris atau kawasan Padang Bulan, Medan yang menuju Berastagi/Kabanjahe, dengan ongkos Rp8.000 (Berastagi-Medan) dan Rp10 ribu (Kabanjahe). Tiba di Berastagi, turis menyambung angkot LIN Tongging di kawasan terminal, dengan ongkos Rp10 ribu per orang. Apabila via Kabanjahe, wisatawan dapat memilih angkutan ke Tongging dari dua tempat. Satu di kawasan Kabanjahe Plaza dan di kawasan Zentrum, dengan ongkos Rp8.000.

Sebelum tiba di Desa Tongging, wisatawan terlebih dahulu ditawarkan panorama kawasan Danau Toba dan pemandangan air terjun Sipiso-piso (7 Km sebelum Tongging). Umumnya, sebelum menuju desa yang saat ini banyak dipenuhi keramba ikan nila dan mas (ternak warga) sehingga sangat mengesankan. Masuk kawasan Panorama air terjun dan desa Tongging merupakan satu paket perjalanan. Wisatawan per orangnya hanya dikenakan tarif seribu lima ratus rupiah (Rp1.500).

Jangan khawatir jika menempuh perjalanan dari luar kota karena di kawasan desa itu sudah banyak penginapan. Harga per malamnya juga cukup terjangkau. Sesuai penuturan Reception, Wisma Sibayak Tongging, Edi Sinaga, pihaknya hanya mengenakan tarif per malam Rp75 ribu bagi kamar standart, ukuran 5X5 meter, dan Rp100 ribu untuk kamar yang lebih luas (7X5meter). “Fasilitas tidak jauh berbeda, hanya ukuran luasnya saja,” ujar Edi. Jika turis tidak berminat tinggal di kamar penginapan, pihak wisama juga menyediakan areal camping ground.

Soal makanan, wisatawan tidak perlu khawatir. Sejumlah rumah makan dengan sajian label halal, ada hadir di pinggir bibir pantai dengan sajian ikan mas dan nila panggang. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karo, Dinasti Sitepu, SSos kepada Sumut Pos mengatakan, jumlah pengunjung ke kawasan Tongging sebanyak 89.845 orang (tahun 2007), 102.200 orang (tahun 2008), 116.042 orang (tahun 2009), dan 57.475 (hingga Mei 2010).

“Jumlah wisatawan di Desa Tongging semakin bertambah tiap tahunnya,” ujar dia. Sedangkan pelaku wisata setempat, Dikson Pelawi mengatakan, sejumlah pelaku wisata Tanah Karo bertekad menjadikan kawasan Tongging sebagai lokasi bagi pecinta olah raga para layang. Hal itu menjadi target dikarenakan letak geografis Tongging yang dianggap cukup potensial. “Pekan lalu kami menggelar Kejuraan Para Layang Sitopsi Open I (Sipiso-piso, Tongging, Paropo, Sobolangit), diramaikan oleh 81 orang penerjun.

Inilah langkah awal kemajuan dunia dirgantara kepariwisataan Tanah Karo ke depannya,” kata dia. Jika dijadikan lokasi pecinta Para Layang sangat bagus karena posisi take off penerbang yang terdiri dari tiga lokasi, 1540 DPL, 1300 DPL dan 1300 DPL, membuat penerjun lebih lama di udara dan disuguhi pemandangan indah kawasan perbukitan dan Danau Toba.

Sumber

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI