STP Sibolga Hasilkan 70 Ribu Benih Ikan

Posted 24-02-2016 12:06  » Team Tobatabo

SIBOLGA – Sibolga dan Tapanuli Tengah merupakan wilayah pesisir di Pantai Barat Sumatera yang memiliki kekayaan sumberdaya alam sangat baik, khususnya di bidang perikanan dan wisata bahari. Hal ini dibuktikan dengan jumlah produksi perikanan dari Sibolga dan Tapanuli Tengah yang mencapai 54.840,32 ton per tahun dan garis pantai sepanjang 8.192 meter yang sangat potensial sebagai kawasan wisata bahari.

Menurut ketua STPS Sibolga Dr Lucien Pahala Sitanggang, dewasa ini peran perguruan tinggi terus ditekankan pada tri darma, namun dalam realisasinya masih banyak alumni dan mahasiswa yang berorientasi  mencari lapangan pekerjaan saja. Perikanan merupakan salah satu disiplin ilmu yang memiliki keunikan dan potensi bisnis yang sangat baik.

“Karena potensi ini, dapat dikembangkan beberapa alternatif bisnis dengan melakukan perbandingan pada beberapa daerah pesisir lainnya. Di Sibolga kita harus dapat menemukan ciri khas oleh-oleh yang mampu membawa nama Sibolga sampai pada tingkat nasional. Misalnya seperti bandeng presto di semarang, kerupuk udang sidoarjo  sampai empek2 tenggiri khas Palembang.

Di Garut ada dodol khas Garut, di Malang ada apel dan di  Manado ada klaperta yang semuanya berasal dari home industry. Bahkan Saat ini Bogor dan Sukabumi sudah mulai menjajakan kerupuk ikan yang berasal dari benih ikan lele dan ikan mas. Jika semua ini kita analisa secara baik, maka besar kemungkinan dampak dari MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) akan memberikan reaksi yang positif bagi perekonomian Sibolga dan Tapanuli Tengah,” jelas Lucien.

Menurutnya saat ini STPS Sibolga dengan segala keterbatasan dana yang dimiliki telah mampu menciptakan Balai Riset Air Tawar yang berada di lokasi Tapanuli Tengah.

Hal ini tentu memberikan sebuah peluang bagi masyarakat khususnya mahasiswa dan siswa SMK untuk mendapatkan fasilitas penelitian yang baik, khusus bagi kegiatan budidaya, pengembangan ilmu endokrinologi, rekayasa genetik dan pengembangan pakan alami melalui penggunaan probiotik yang sudah mulai menjadi kajian utama mahasiswa STP Sibolga.

“Salah satu hasil adanya kegunaan balai riset air tawar. Melalui penelitian Ribka Lumban Tobing, mahasiswa STP angkatan 12, pemijahan ikan koi (cyprinus carpio) dengan fenotip yang berbeda memberikan dampak yang signifikan terhadap hatching rate (laju penetasan telur) ikan.”

Hal inilah yang menjadi tujuan bahwa kegiatan penelitian sebaiknya dijadikan sebagai pondasi utama pengembangan unit produksi atau pembenihan dan pembesaran ikan di Sibolga dan Tapanuli Tengah.
“Secara pribadi saya melihat peran pemerintah daerah khususnya pemangku kebijakan akan sangat strategis dalam membantu terciptanya ekonomi kreatif melalui bisnis perikanan di Sibolga dan Tapanuli Tengah,” tegas Lucien.

Lanjutnya, secara khusus STPS juga harus mampu memberikan hasil penelitian secara kontiniu kepada pemerintah, agar dapat menunjang rencana pemerintah dalam menentaskan kemiskinan di wilayah ini. Dengan berdirinya balai riset air tawar ini, maka penelitian di bidang perikanan, khususnya budidaya, harus terus ditingkatkan.

“STPS melalui balai riset air tawar ini dituntut harus mampu menyediakan benih ikan konsumsi dan ikan hias yang berkualitas,”jelasnya.Tercatat, kata Lucien, lebih dari 70.000 ekor benih setiap bulannya dikirim ke Nias. Ikan hias seperti koki, koi, cupang dan komet masih kurang diminati masyarakat.

Sumber metrosiantar

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI