Bukit Kerang Kawal Darat situs Kota Batak atau Benteng Batak

Posted 22-05-2017 22:45  » Team Tobatabo
Foto Caption: Jejak Kaki Manusia Purba

Manusia purba pernah hidup di pulau Bintan. Ini dapat dilihat adanya gundungan bekas sisa makanan berupa kulit kerang peninggalan manusia purba zaman Mesolitikum (zaman batu pertengahan). Mereka kemungkinan nenek moyang ras melayu lama.

Gundukan tanah berupa kerang (moluska) itu adalah dari sisa makanan manusia purba yang hidup sekira 3.000 tahun sebelum Masehi (SM). Kerang tersebut merupakan sisa makanan hasil dari berburu dan mengumpulkan kerang dilakukan manusia purba yang hidup 3.000 tahun sebelum masehi.

Lokasi gundukan kerang terdapat di Kawal Darat, Kecamatan Gunung Kijang. Lokasinya memang cukup mencolok ke dalam dari pantai Kawal, yang merupakan bagian pantai Trikora Bintan. Pantai ini memang banyak terdapat kerang.

Untuk menuju lokasi sisa makanan manusia purba dapat ditempuh dengan sepeda motor dan kendaraan roda empat. Perjalanan ke lokasi jika dari jembatan Kawal menempuh waktu sekitar 30 menit.

Jalan menuju ketempat gundukan kerang tersebut belum sepenuhnya beraspal, ketika menggunakan sepeda motor perlu berhati-hati. Karena banyak kendaraan pekerja kelapa sawat berlalu lalang di lokasi peninggalan prasejarah tersebut.

Memang tidak begitu sulit untuk mencari tempat zaman manusia purba di Bintan  karena sudah ada penunjuk arah jalan menuju ke tempat gundukan kerang setinggi empat meter.

Gundukan kerang di Kawal Darat ini juga dapat diitempuh melewati jalan laut, menggunakan pompong. Kalau menyewa hanya dikenakan Rp 70 ribu.

Saat ini, gundakan kerang tersebut sudah diberi pagar dan menjadi benda cagar budaya Bintan. Dipuncak gundukan kerang itu terdapat lubang sekitar satu meter, kemungkinan lobang itu digali oleh para peneliti.

Bukit Kerang Kawal Darat oleh penduduk sekitar disebut juga dengan nama lain situs Kota Batak atau Benteng Batak, terkadang dipanggil Benteng Lanun (Benteng Bajak Laut).  Kosa kata ‘batak’ tidak ada kaitannya dengan etnis Batak di Sumatera Utara.

"Istilah “batak” terdapat pada kosa kata bahasa Melayu lama yang maknanya sama dengan istilah pembatak yang dipergunakan dalam cerita tradisonal “Makyong” di Mantang Arang dan Kampung Keke Kijang, Bintan," kata Jono warga Kawal Kecamatan Gunung Kijang.

Pembantak dalam cerita teater tradisonal itu diartikan sebagai orang jahat dan menurut masyarakat itu dibangun oleh nenek moyang mereka ratusan tahun yang lalu untuk berlindung dari serangan ‘pembatak’ atau orang jahat yang selalu menjarah penduduk di pantai utara Pulau Bintan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbu) Luki Zaiman Prawira menyebut, Situs Bukit Kerang di Kawal, Bintan merupakan bagian dari mata rantai sebaran situs Bukit Kerang di pesisir Timur Pulau Sumatera.

"Di Indonesia, sisa kebuadayaan Mesolitikum ini pertama kali diketahui di sekitar Pantai Timur Sumatera. Membentang di antara Sumatera Timur hingga daerah Langsa di Nanggro Aceh Darussalam," katanya.

Laporan pertama keberadaan situs prasejarah Bukit Kerang di Pantai Timur Sumatera dipublikasikan tahun 1907, menyusul penemuan situs pertama di daerah Sungai Tamiang dekat Seruai.

Pada 1924, ditemukan situs serupa di daerah Batu Kenong, Aceh oleh JH Neuman. Selanjutnya, pada 1927 LC Heyting melaporkan pula temuan lainnya di daerah Serdang Hilir Pantai Timur Sumatera.

Beberapa waktu lalu, kata Luki, para peneliti dari Balai Arkeologi (BALAR) Medan pada 2009 meneliti Bukit Kerang Kawal Darat dan mereka pula menemukan tiga bukit kerang yang mirip di tiga lokasi.

Selain di Sungai Kawal juga ditemukan sebuah bukit kerang lebih kecil terletak di kebun penduduk berhampiran kebun sawit milik swasta, juga situs ketiga yang lebih kecil lagi terletak di areal kebun milik penduduk yang lokasinya berhampiran dengan lokasi situs kedua.

Sayangnya karena ketidaktahuan dua situs terakhir sudah rusak karena alih fungsi lahan untuk perkebunan.

Dari penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi (BALAR) menyimpulkan bahwa di pulau Bintan pernah hidup manusia zaman prasejarah yang mirip di Sumatera.

Manusia prasejarah inilah yang menghasilkan bukit kerang karena mereka tinggal di sekitar pantai dan muara sungai pada rumah-rumah bertonggak (rumah panggung).

Manusia ini  hidup  berkelompok dengan mengumpulkan bahan makanan berupa kerang (moluska) dalam berbagai jenis yang mudah ditemukan di sekitar tempat tinggal mereka.

"Sisa-sisa kulit kerang yang mereka buang selama bertahun-tahun dan bahkan ribuan tahun itulah yang akhirnya menumpuk dan lambat laun menjadi sebuah bukit yang tingginya sekira empat meter," sebut Luki.

Keberadaan Situs Bukit Kerang dilindungi Undang-undang Benda Cagar Budaya dan berada di bawah pengawasan Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Bintan.

Selain dilakukan penelitian, Bukit Kerang Kawal Darat juga akan dijadikan tujuan wisata di Pulau Bintan yang dirangkai dengan wisata hutan bakau di Bintan.

"Namun demikian, untuk kepentingan penelitian, keberadaan situs ini dijaga mengingat pentingnya sebagai bukti sejarah peninggalan manusia pendukung budaya Bacsonian yang berkembang dari Semenanjung Asia, Utara Sumatera, dan Pulau Bintan," ujar Luki.

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI