Louis C Welsink, Si 'Pembuat' Pulau Samosir

Posted 08-06-2017 14:49  » Team Tobatabo
Foto Caption: Louis C Welsink

Mempelajari Danau Toba, dengan Pulau Samosir di tengahnya, tidak akan lengkap tanpa mendapat informasi mengenai Louise C Welsink.

Dialah yang menggali kanal di Pangururan, yang membuat Samosir terpisah dari daratan Sumatera dan menjadi pulau.

Welsink diangkat sebagai asisten residen dan menetap di Tarutung tahun 1898. Ia pengemudi yang hebat, kerap berkeliling wilayah kerja, dan membuatnya dekat dengan masyarakat Batak.

Catatan pemerintah Hindia-Belanda menyebutkan Welsink adalah pribadi yang mampu berkomunikasi dengan baik dengan siapa pun.

Ia menguasi bahasa masyarakat lokal, karena menikah dengan seorang wanita Batak dan dikaruniai sembilan anak laki-laki dan perempuan.

Rekan-rekan kerja sesama orang Belanda menyebut Welsink sebagai orang pandai berunding. Ini diperlihatkan ketika dia mengerahkan ribuan orang Batak untuk menggali kanal di Pangururan, yang membuat Samosir berstatus pulau.

Pemerintah Hindia-Belanda menghargai jasanya dengan penganugerahan de Militaire Willemsorde dan de Nederlandsche Leeuw. Ia dianggap berjasa membina hubungan pribumi dengan pemerintah Hindia-Belanda.

Namun ketika pemerintah Hindia-Belanda di Batavia membebani kenaikan target pajak, Welsink menolak. Welsink mengatakan kenaikan pajak hanya akan membuat pribumi di wilayah kekuasaannya semakin miskin.

Welsink dibujuk agar menerima target ini. Ia tetap menolak, dan menolak tawaran apa pun. Penolakan ini berakibat pada pemecatan dirinya. Welsink tidak menyesali sikap kerasnya.

Pemerintah Hindia-Belanda menginstruksikan Welsink meninggalkan Tarutung, karena tidak ada lagi yang dikerjakan di tempat itu. Ia tidak ingin pergi, tapi harus pergi. Ia ingin meninggalkan tanah Batak dengan baik-baik dan diam-diam.

Tahun 1908, saat itu usianya 57 tahun, ia terjatuh dan meninggal dunia. Tiga putrinya membawa jenazah Welsink ke Padang untuk dimakamkan.

Hampir 30 tahun setelah kematiannya Sumatera Post menuliskan kisah hidupnya. Menurut koran berbahasa Belanda itu, Welsink dikenal penduduk lokal sebagai figur rendah hati.

Ia menolak setiap aksi militer, kendati tidak jarang mengancam penduduk dengan ujung bayonet.

Ketika guru-guru desa tidak bisa masuk ke pedalaman akibat ancaman pemberontak, Welsink mengundang pemberontak untuk berbicara.

Ia menggunakan cara persuasif untuk mendinginkan kerusuhan, bukan kekerasan.

Di Sibolga, sebuah monumen dibangun untuk mengenang Louis C Welsink, si 'Pembuat' Pulau Samosir.

Dikutip dari Sportourism.id
MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI