Bertemu Tobasa God Father

Posted 19-07-2017 20:11  » Team Tobatabo
Foto Caption: Ilustrasi Don Corleone dalam film The God Father
Dengan sedikit menggerutu, kupacu mobilku melewati jalan rusak dan berlobang di sepanjang jalan lintas kabupaten Batubara sekitar Simpang Dolok. Sesekali sumpah serapah keluar dari mulutku, tatakala usahaku menghindari aspal berlobang malah berbuah goncangan hebat yang berpotensi merusak bodi mobil.

Sebenarnya hal ini merupakan buah rasa frustasiku yang harus mengejar tengat waktu berkunjung ke LP Labuhan Ruku. Ditengah perjalan kami sempat berdebat apakah lewat jalinsum Kisaran atau via Simpang Dolok. Tapi mengalah kepada Istri yang lebih menyarankan lewat Simpang Dolok dengan maksud mempercepat waktu, malah harus bergerak melambat akibat jalan rusak parah.

Di dalam mobil, turut sebuah bungkusan makanan titipan keluarga harus aku hantarkan tepat waktu sebelum waktu kunjungan di LP ditutup menjelang sore hari.

Tepat beberapa menit sebelum waktu berkunjung usai, kami sampai di depan sebuah Lembaga Pemasyarakatan yang juga pernah menjadi top hits pemberitaan media nusantara akibat kericuhan dan larinya beberapa tahanan dari lapas tersebut.

Hampir setahun lebih ramai dengan pemberitaan, kini lapas Labuhan Ruku tampak berbenah dan kelihatan lebih megah dari sebelumnya.

Sedikit berlari, kami minta izin dan masuk menemui narapidana yang akan kami temui. Saat itu pintu jeruji terbuka, tampak sebuah sosok tua setengah baya harap-harap cemas menunggu kedatangan kami.

Pria tersebut menjabat tangan kami satu persatu, dan seiring langkah kami menuju ruang tamu. Setelah sedikit basa-basi kami menyerahkan bingkisan, sembari memperkenalkan diri serta menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan kami yang tak lebih sekedar silahturahmi.

Tidak lupa sedikit "bertarombo" sebagai kebiasaan suku Batak, dengan melalukan pendekatan personal secara silsilah keluarga "namardongan tubu".

Tapi dibalik pertemuan tersebut secara detail aku pandangani mencoba menilai, dan merekam seluruh data di dalam memori otakku. Sebuah sosok yang begitu berpengaruh di jamannya, begitu fenomenal di Tobasa dan sempat juga menggemparkan Kabupaten Toba Samosir dengan sepak terjangnya sebagai tokoh dan aktor politik yang kerap mendapat pemberitaan negatif sebagai mafia dan koruptor di banyak media massa lokal.

Tidak jarang aku tangkap dari ekspresi dan keluh kesahnya terlempar rasa penyesalan harus mendengkam di jeruji besi justru disaat umur sudah mulai uzur.

Jujur sampai saat ini, tokoh politik yang satu ini masih banyak memiliki pengikut dan loyalis yang masih menyebar di banyak daerah, dari mereka aku serap informasi dan cara pandang mereka, bahwa banyak diantara mereka yang merasa bersyukur dan berterimakasih atas kebaikan tokoh yang satu ini.

Disisi lain, para oposisi, lawan politik dan mayoritas masyarakat Tobasa mengutuk "rezim" sebelumnya yang sarat dengan aksi dan modus KKN. Layaknya seperti aksi Don Corleone di film "The God Father" yang keras dalam dunia hitam, tetapi tetap memiliki sisi putih di komunitas imigran Italia.

Bahkan secara pribadi, saya termasuk dalam salah satu aktivis yang sangat menentang kebijakan dan gaya pemerintahan beliau dikala masih aktif sebagai pemimpin. Melihat kondisi beliau saat itu yang ibarat langit dan bumi, ibarat maling yang digebuki dan dihakimi massa, sedikit rasa iba masih terlintas di dalam hati.

Tapi apalah arti semuanya, semua hal itu hanyalah adalah hasil perbuatan semata yang sadar akan perbuatan melanggar hukum, yang jelas menyusahkan masyarakat banyak dan negara.

Pengalamanku bertemu dengan "The God Father" juga semakin menyadarkanku, bahwa harta kekayaan tidak akan membahagiakanmu jika memang kondisi tidak mengijinkanmu untuk menikmatinya. Apalah arti usaha dirinya selama ini menghianati hati nurani dan orang banyak, jika memang akhirnya tidak berbuah kebahagiaan sedikitpun.

Kembali aku teringat nasib Sutan Batugana tokoh elit politik di jaman SBY, yang harus meregang nyawa dengan kondisi memprihatinkan, seakan mengingatkan mereka para koruptor bahwa korupsi itu ngeri-ngeri sedap seperti ucapan yang sudah menjadi trademark-nya.

Ngerinya kalo ketangkap, sedapnya kalau berhasil dan sempat menikmatinya...

Singapura, 19 Juli 2017
Oleh Ondo Alfry Simanjuntak
Publikasi Tobatabo.com

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI