Profil Singkat Ratna Sarumpaet: Dilahirkan Boru Hutabarat di Tarutung

Posted 08-10-2018 15:23  » Team Tobatabo
Foto Caption: Ratna Sarumpaet dari kecil hingga oplas.

Beberapa hari terakhir mungkin kebohongan atau lebih populer di sebut Hoax Ratna Sarumpaet menjadi Top Trending Topic di Tanah Air. Skenario kebohongan Ibu beranak 4 ini seakan menggemparkan seluruh Indonesia yang terkuak setelah tersebar dan menjadi konsumsi masyarakat luas.

Berdalih pada awalnya hanya ingin membohongi anak atas operasi plastik yang dilakukannya, Ratna malah menjadikan hal tersebut menjadi komoditas kubu oposisi untuk menyerang pemerintahan Jokowi dengan issu kekerasan terhadap para aktivis yang kritis terhadap pemerintah saat ini.

Untungnya gerak cepat pihak kepolisian mampu membuka fakta kebohongan massif tersebut, yang akhirnya membawa Ratna Sarumpaet ke balik jeruji besi di umurnya yang lebih dari 70 tahun. Lantas orang-orang banyak bertanya, siapa Ratna Sarumpaet? Mengapa dia selalu dielukan sebagai seniman yang bahkan dibiayai dinas pariwisata DKI untuk berangkat ke konferensi aktivis wanita di Chile? Sejak kapan dia menjadi aktivis? Dan apa saja karya dan hasil kerja beliau selama menjadi aktivis dan seniman.

Untuk menjawab rasa penasaran para pembawa setia Tobatabo, kami akan coba rangkum secara singkat profil Ratna Sarumpaet.

Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) ini memulai kariernya dari dunia drama dan teater. Ia penulis, pemain, sekaligus drama director. Temanya banyak mengambil tentang HAM, perlawanan terhadap kekerasan pada wanita, dan kebebasan berpendapat dan berkumpul.

Tak heran, Ratna Sarumpaet terlihat banyak di tengah demonstran untuk menuntut koruptor, penggusur rakyat, penindas, dan penguasa yang sewenang-wenang. Pada 10 Maret 1998, seperti ditulis dalam akun facebooknya, ia memimpin demonstrasi Alinasi Pro Demokrasi untuk menuntut Presiden Soeharto mundur. Bahkan yang terbaru, pada 2016, ia juga sering mendemo Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dianggap sering menggusur pemukiman warga.

Sikap lantang dan berani perempuan kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara, 16 Juli 1948 ini tak jauh dari orangtuanya yang dikenal sebagai politikus dan aktivis. Ratna adalah anak kelima dari sembilan bersaudara dari pasangan Saladin Sarumpaet dan Julia Hutabarat. Ratna menikah dengan Achmad Fahmy Alhady dan bercerai. Dari pernikahan mereka dikaruniai empat orang anak.

Ratna Sarumpaet dibesarkan di keluarga Batak Kristen. Lahir dari darah keturunan keluarga Batak, membuat Ratna kecil sangat dididik untuk menjadi disiplin apalagi sang ayah adalah mantan pejuang kemerdekaan dan mantan Menteri Pertanian pada masa Pemerintahan Revolusi Indonesia.

Ayahnya merupakan aktivis politik yang pernah mendirikan sebuah partai bernama Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Sang ibu juga pernah memimpin gerakan perempuan Tapanuli yang memperjuangkan kedudukan perempuan dalam tubuh Huria Kristen Batak Protestan(HKBP) yang kebanyakan adalah kaum lelaki. Ibunya adalah sahabat karib dari Mohammad Hatta dan pernah menjabat ketua Persatuan Wanita Kristen Indonesia.

Ratna kecil menganyam pendidikan SD Negeri di daerah Tarutung, setelah lulus SD, ia dan keluarga besar pindah ke Yogyakarta, dan di sana lah Ratna meneruskan pendidikannya di SMP BOPKRI. Setelah 3 tahun menetap di Yogyakarta, Ratna dan keluarga pindah untuk kedua kalinya ke Jakarta dan melanjutkan SMA nya di PSKD I.

Lulus SMA, Ratna yang berumur 19 tahun masuk ke Universitas Kristen Indonesia (UKI) mengambil jurusan arsitek, namun ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan memutuskan untuk belajar dunia seni dan teater di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Dia memilih dunia seni dan teater karena masih ada kaitannya dengan prinsip orang tuanya agar melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat. Kalau ayahnya melalui partai paolitik, Ratna melalui dunia teater.

Ratna muda nekat dan belajar teater secara otodidak dari WS Rendra, debut pertama pementasannya berjudul Rubayat Umar Khayam dan sejak itu banyak hasil karyanya dipentaskan di atas panggung teater.

Berawal dari naskahnya “Marsinah” yang ia tulis berdasarkan peristiwa terbunuhnya buruh wanita saat itu, ia turut mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari berbagai pihak dan dikenal sebagai seorang pejuang Hak Asasi Manusia. Selain berkecimpung di dunia teater, Ratna juga melibakan di dunia perjuangan HAM.

Pembunuhan Marsinah, seorang aktivis buruh, pada tahun 1993 menyebabkan Sarumpaet menjadi aktif secara politik. Dia menulis naskah pementasan orisinal pertamanya, Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah, pada tahun 1994 setelah terobsesi dengan kasus ini.

Hal ini diikuti oleh beberapa karya politik lainnya, yang beberapa diantaranya dilarang atau dibatasi oleh pemerintah. Semakin kecewa dengan tindakan otokratik Orde Baru Soeharto, selama pemilihan umum 1997 Sarumpaet dan grupnya memimpin protes pro-demokrasi.

Untuk salah satu di antaranya, pada Maret 1998, ia ditangkap dan dipenjara selama tujuh puluh hari karena menyebarkan kebencian dan menghadiri pertemuan politik “anti-revolusioner”.

Setelah dibebaskan, Sarumpaet terus berpartisipasi dalam gerakan pro-demokrasi; tindakan ini menyebabkan dia melarikan diri dari Indonesia setelah mendengar desas-desus bahwa dia akan ditangkap karena perbedaan pendapat.

Ketika dia kembali ke Indonesia, Sarumpaet terus menulis stageplays yang bermuatan politik. Ia menjadi kepala Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2003; dua tahun kemudian dia didekati oleh UNICEF dan diminta untuk menulis drama untuk meningkatkan kesadaran perdagangan anak di Asia Tenggara.

Pekerjaan yang dihasilkan berfungsi sebagai fondasi untuk debut filmnya tahun 2009, Jamila dan Sang Presiden. Film ini dikirimkan ke ajang Academy Awards ke-82 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik namun gagal masuk nominasi.

Ia banyak menangani kasus yang ia kerjakan secara suka rela untuk membantu mereka yang menuntut kebenaran yang ada. Tak heran bila Ratna sering ditemukan di antara kerumunan demonstran untuk menuntut kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat. Atas kepeduliannya terhadap orang-orang tertindas, beragam penghargaan ia raih dari dunia internasional.

KELUARGA

  • Suami : Achmad Fahmy Alhady (bercerai)
  • Anak : Mohammad Iqbal Alhady
  • Fathom Saulina
  • Ibrahim Alhady
  • Atiqah Hasiholan

PENDIDIKAN:

  • SD Medan dan Yogyakarta, 1985
  • SMP Yogyakarta BOPKRI, 1962
  • SMA Jakarta PSKD I
  • Fakultas Teknik Arsitektur UKI Jakarta (tidak tamat)
  • Fakultas Hukum UKI Jakarta (tidak tamat)

KARIER:

  • Ketua DKJ, 2003-2006
  • Editor Film bekerjasama dengan MGM, Los Angeles, 1985-1986
  • Penulis skenario dan sutradara, 1977-1987
  • Anggota/Pengurus International Women Playwright
  • Anggota Kehormatan PEN International
  • Pendiri Ratna Sarumpaet Crisis Center

FILM:

  • Jamila & Sang Presiden (Skenario & Sutradara), 2009
  • Rumah Untuk Mama (Skenario & Sutradara), 1991
  • Ballada Orang-Orang Tercinta (Skenario),1990
  • Lulu (Skenario & Sutradara), 1989
  • Sebuah Percakapan (Skenario & Sutradara), 1985

NOVEL:

  • Maluku Kobaran Cintaku, 2010

DRAMA:

  • Pelacur dan Presiden (Naskah & Sutradara), 2006
  • Anak-Anak Kegelapan (Naskah & Sutradara), 2003
  • Alia
  • Luka Serambi Mekah (Naskah & Sutradara), 2000
  • Marsinah Menggugat (Naskah & Sutradara), 1997
  • Pesta Terakhir (Naskah & Sutradara), 1996
  • Terpasung (Naskah & Sutradara), 1996
  • Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah (Naskah & Sutradara), 1994
  • Dara Muning, (Naskah & Sutradara), 1993
  • Rubayat Umar Khayam (Naskah & Sutradara), 1974

PENGHARGAAN:

  • Penulis Skenario Terbaik Festival Film Bandung, 2010
  • Youth Prize Vesoul International Film Festival, France, Film Jamila & Sang Presiden, 2010
  • Public Prize Vesoul International Film Festival, France, Film Jamila & Sang Presiden, 2010
  • Penulis Skenario Terpuji Festival Film Bandung, untuk film Jamila dan Sang Presiden, 2010
  • Film Jamila & Sang Presiden Meraih Penghargaan The Network for themotion Asian Cinema dalam Festival Film Asiatica Mediale, Roma, Italia, 2009.

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI