Cari

Mengapa Festival Masakan Babi di Semarang Diributkan?

Posted 05-02-2016 21:06  » Team Tobatabo

SEMARANG - Festival masakan babi yang sedang digelar di Kota Semarang, Jawa Tengah, mengundang perhatian publik di kota itu. Ada yang tidak setuju dengan acara itu meributkan dan meminta agar kegiatan tersebut dibatalkan. 

“Jadi, polemik saat ini karena ada ketidakpahaman atau kesengajaan kelompok masyarakat yang tidak mengonsumsi daging babi,” kata budayawan Kota Semarang, Tubagus P Svarajati, Jumat (5/2/2016).

Menurut dia, makanan babi telah ada sejak sejak lama. Masyarakat di Indonesia (Nusantara) juga telah lama melakukan budidaya babi.

Masyarakat yang mengelola, ujar Tubagus, telah ada di dalam masyarakat Bali, Batak, Nusa Tenggara Timur, Papua, hingga Manado. 

Olahan masakan babi di masyarakat Nusantara juga tidak pernah ditolak. Terlebih di kawasan budidaya babi, olahan menu masakan babi menjadi menu masakan utama.

“Di kalangan masyarakat Tionghoa di Nusantara, masakan babi pastilah berasal dari budaya kuliner di Tiongkok daratan yang dibawa oleh nenek moyang mereka ke Nusantara,” kata Tubagus. 

“Jadi, secara kultural, masyarakat Nusantara sudah mengenal masakan babi,” kata dia lagi. 

Dia pun berharap agar masyarakat bisa lebih dewasa untuk menghindari sikap intoleransi.

Menurut dia, gelaran festival adalah hak masyarakat untuk mengadakan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kultur hidup yang melingkupinya.

“Berkegiatan asal tidak merugikan kelompok masyarakat lain. Dalam posisi seperti ini, maka penyelenggara festival itu bisa dibenarkan,” kata dia. 

Panitia festival makanan pun membuat pengumuman yang melarang bagi umat Muslim untuk masuk dan mencicipi aneka hidangan babi. 

“Yang diperlukan ialah sikap bertenggang rasa dari masyarakat mayoritas terhadap kultur masyarakat minoritas, itu jika kita ingin menegakkan NKRI yang berbineka itu,” imbuh dia.

Sumber Kompas.com

loading...

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah