Lomba Tortor Dorong Minat Generasi Muda Belajar Tarian Budaya Batak

Posted 30-03-2017 01:47  » Team Tobatabo

Gerakan Eti Sianipar (16) bersama 10 rekannya begitu ritmis. Kaki dan tangan para siswa SMKN 2 Soposurung itu bergerak berdasarkan aba-aba Chandra Butarbutar (16) selaku ketua kelompok. Mereka tampak sudah hafal gerakan tari tortor yang mereka peragakan di pelataran Museum Batak milik TB Silalahi Center, Minggu (18/4).

”Belum lama mereka latihan. Baru empat hari lalu. Kami agak ngebut latihan karena mau ikut lomba. Kakak-kakak kelas yang sudah mahir tari tortor sedang berhalangan,” kata pelatih tari, Lao Ranto Simanulang.

Menjelang lomba, Eti dan rekannya berlatih dari pukul 09.00 sampai 14.00. Kadang berlanjut sampai menjelang maghrib.

Tortor merupakan tari etnis Batak Toba yang memiliki pakem atau urutan gerakan yang memiliki arti tertentu, bergantung pada tujuan tortor. Apakah untuk bersukacita, menghormati seseorang, atau untuk tujuan yang lebih agung, yakni menyembah Tuhan.

Tortor dilakukan dengan iringan alat musik tradisional Batak, gondang (kendang), yang dimainkan oleh pargonsi (pemain gondang). Penari tortor berpakaian khas Batak, berupa kain ulos yang dililitkan di pinggang, seperti sarung (sabe-sabe), ikat kepala atau mahkota (tali-tali), dan selendang (sampe-sampe) untuk penari pria.

Ketua kelompok harus membawa pedang dan tas sandang kecil. Adapun penari perempuan memakai atasan (hohop-hohop) yang dipadu dengan sabe-sabe dan sampe-sampe. Semua penari bertelanjang kaki.

Pemimpin tari tortor yang disebut kepala suku punya wewenang kapan gondang ditabuh dan kapan berhenti. Dia pula yang memberikan aba-aba kepada para penari untuk melakukan gerakan tertentu. Semua aba-aba disampaikan dalam bahasa Batak yang berbentuk pantun yang sarat petuah (umpasa).

Kualitas tari tortor bergantung pada keseragaman gerakan, kesesuaian antara gerakan dan bunyi kendang, serta kerapian pakaian.

Makna gerakan

Ketua Yayasan TB Silalahi Center Masrina R Silalahi mengingatkan, setiap gerakan tortor mengandung makna tersendiri. Misalnya, saat penari perempuan menengadahkan kedua tangan di atas pundak, itu melambangkan bahwa sebagai perempuan dia siap menerima segala tanggung jawab berikut risikonya atau hidup mandiri.

Dalam empat hari, Eti, Chandra, dan sembilan rekannya tidak hanya harus mengenal urutan gerakan, tapi juga memahami makna setiap gerakan. ”Latihannya memang berat. Tapi, seandainya tidak ada lomba tortor, mungkin saya tidak pernah mengenal tarian itu dan apa artinya meskipun beberapa kali pernah melihat,” kata Eti.

Eti mengaku jatuh cinta pada tari tortor. Atau, tepatnya, dengan budaya dan tradisi Batak. Empat hari latihan tari tortor membuat ia menemukan sisi lain identitas diri dan tanggung jawabnya sebagai generasi muda Batak. Hal itu adalah ikut menjaga budaya dan tradisi Batak.

Generasi tua Batak, seperti Rustina Napitupulu (56), Maningar Sitorus (41), hingga Masrina, gelisah karena generasi muda mulai meninggalkan budaya dan tradisi Batak. Anak-anak lebih suka menyanyikan lagu Barat daripada lagu tradisional Batak. Anak-anak sekolah tak kenal lagi bahasa halus Batak.

Seperti pengakuan Andrino Pardomoan Sihombing (15), siswa sebuah SMP negeri di Toba Samosir. Dua kali seminggu dia menerima pelajaran bahasa daerah Batak. Namun, dia tidak pernah diajar membaca aksara Batak. Dia pun tak mengenal tradisi mangandung (meratap), lagu-lagu nenek moyang Batak (marhasapi/hasapi), ataupun gerakan tari tortor. Marmoncak (seni bela diri asli Batak) tak pernah dilihatnya. Dia lebih kenal film dan sinetron.

Andrino adalah contoh generasi muda Batak yang mulai jauh dari budaya dan tradisi Batak.

Untuk itu, kurikulum sekolah tentang budaya dan tradisi Batak harus diperbanyak guna menanamkan rasa cinta generasi muda pada budaya dan tradisinya. Ini tentu tidak hanya berlaku pada Batak, semua daerah perlu melakukan. Globalisasi kerap membuat orang minder dengan budaya dan tradisi sendiri. Itu harus diperangi.

Eti dan Candra makin mencintai tradisi setelah empat hari belajar tortor. Jika pendekatan serupa dilakukan setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun, tumbuhlah jutaan Eti lainnya. (Mohammad Hilmi Faiq)

Dikutip dari Kompas
MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI