Danau Toba Bukan Tempat Sampah

Posted 29-09-2012 13:44  » Team Tobatabo
Oleh : Maretta Oktari. Upaya pelestarian kawasan ekosistem Danau Toba sebagai salah satu obyek wisata andalan Provinsi Sumatera Utara sudah sejak lama dikumandangkan. Danau Toba pernah mengalami kejayaan dengan arus kunjungan wisata sangat tinggi. Sejak krisis ekonomi melanda negeri ini, perlahan-lahan jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan ini pun semakin menurun. Masyarakat yang dulu pernah merasakan nikmatnya uang dolar masih terbuai. Akibatnya, beberpa pengusaha hotel dan penginapan di kawasan Danau Toba saat ini banyak yang gulung tikar dan menjualnya ke orang lain. Terlepas dari makin berkurangnya arus kunjungan wisatawan ke kawasan wisata Danau Toba, saat ini yang menjadi perbincangan hangat adalah perlunya revitalisasi pariwisata Danau Toba dan pentingnya tata kelola destinasi pariwisata yang menekankan pentingnya pelestarian alam, budaya, lingkungan dan ekosistem kawasan Danau Toba yang dikelilingi oleh Kabupaten Simalungun, Toba Samosir, Karo, Dairi, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan dan Samosir. Danau Toba menjadi ikon pariwisata Sumatera Utara, dimana setiap kali wisatawan memutuskan untuk datang ke Suamtera Utara, Danau Toba adalah tempat wisata yang wajib dikunjungi. Keindahan alam dan pemandangan yang ditawarkan sangat memikat. Dengan luas mencapai 1.127 kilometer persegi, Danau Toba memiliki pulau di tengah-tengahnya yang bernama Pulau Samosir dengan luas sekitar 600 kilometer persegi (selain Pulau Samosir sebenarnya masih ada pulau-pulau kecil lainnya yang membuat pemandangan di kawasan ini semakin memesona). Danau Toba adalah danau vulkanik, danau yang terbentuk akibat letusan gunung berapi, dan merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Umumnya, yang dijadikan tempat tujuan utama wisatawan untuk menikmati keindahan Danau Toba adalah Parapat (Kabupaten Simalungun) dan Tuktuk Siadong (Samosir). Untuk menyeberang ke Samosir ada beberapa jalur bisa dilalui, jalan darat melalui Tele-Pangururan-Tuktuk Siadong. Kemudian dengan kapal motor penumpang dari Parapat langsung ke Tomok atau Tuktuk Siadong, ada juga kapal feri yang bisa mengangkut mobil dan kendaraan lainnya dari Ajibata (Toba Samosir) ke Tomok (Samosir). Keunikan Danau Toba adalah memiliki panorama air, lembah, kekayaan budaya dan merupakan sebuah muara air raksasa. Di seputar danau ini bermukim penduduk dari berbagai suku, dikelililingi hutan tropis, hutan produksi dan lahan pertanian. Permasalahan yang dihadapi Tao Toba saat ini adalah makin menurunnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian kawasan ekosistem kawasan Danau Toba. Badan Pelaksana Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba (BKPEKDT) pernah melakukan penelitian dan menemukan air di Danau Toba telah tercemar, Badan Lingkungan Hidup Provinsi pun pernah merilis bahwa Danau Toba terancam pencemaran berat yang berasal dari limbah rumah tangga, restoran, hotel serta ulah manusia yang membuang sampah sembarangan ke danau. Masyarakat yang tinggal di kawasan ekosistem Danau Toba harus diedukasi secara berkesinambungan untuk tetap menjaga kebersihan danau dari sampah, kotoran dan limbah. Karena dari segi estetika, danau ini sangat indah dipandang dari sudut mana pun. Keindahannya telah memikat hati banyak wisatawan untuk datang kembali ke obyek wisata ini. Hanya saja, kalau kita masih tetap mempertahankan pola-pola lama yang meninggalkan aspek lingkungan dalam setiap gerak pembangunan di kawasan ekosistem Danau Toba, perlahan tapi pasti danau ini akan semakin rusak dan estetikanya akan hilang. semakin sadar Sebenarnya, gerakan untuk membersihkan danau dari sampah dan eceng gondok sudah sejak lama dilakukan oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat bekerjasama dengan pemerintah, masyarakat di pinggiran Danau Toba pun saat ini sudah semakin sadar akan arti pentingnya menjaga kebersihan danau dan kualitas air danau. Program Clean-up Danau Toba juga sudah dilakukan secara berkesenambungan di beberapa kabupaten/kota yang bersinggungan langsung dengan kawasan danau. Berbagai elemen saat ini sudah menaruh kepedulian terhadap pelestarian kawasan Danau Toba. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana dengan penataan kerambah ikan di kawasan danau - Pada event Pesta Danau Toba 2010 lalu, ada gagasan untuk menetapkan Haranggaol sebagai zona perikanan air tawar. Bagaimana tindak lanjut dari usulan ini - Apakah masyarakat dan pemerintah benar-benar menjamin dengan ditetapkannya zona ini tidak akan ada lagi kawasan kerambah (ternak ikan) yang muncul di luar daripada zona yang telah ditetapkan ? Ketika melihat secara langsung kawasan wisata Danau Toba, masalah kebersihan lingkungan di obyek wisata dan banyaknya eceng gondok di danau masih jadi persoalan utama yang harus diatasi. Kemudian, tingkat kepedulian masyarakat dan pengunjung dalam membuang sampah masih perlu sosialisasi secara berkesinambungan. Danau Toba adalah harta yang sangat berharga bagi Sumatera Utara, karena danau ini memiliki keindahan ketika dipandang dari sudut mana pun. Kebersihan lingkungan dan upaya pelestarian kawasan ekosistem Danau Toba perlu dijaga oleh setiap orang yang datang dan berkunjung ke objek wisata ini. Berwisata menikmati keindahan alam sekaligus menikmati perjalanan wisatanya, dan yang terpenting adalah kedatangan kita ke kawasan wisata bukan untuk membuang sampah atau menambah beban bagi upaya pelestarian lingkungan. Apabila masyarakat pelaku wisata di kawasan Danau Toba benar-benar mendukung upaya pelestarian lingkungan danau, ke depan akan memberi multiplier effect terhadap perekonomian masyarakat di kawasan Danau Toba. Kawasan ini bisa dikembangkan menjadi salah satu kawasan pariwisata kerakyatan, dimana semua kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi pro rakyat akan bersinggungan langsung dengan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada dan hadir di kawasan wisata Danau Toba. Misalnya, penjual suvenir, makanan, minuman, rumah makan serta sektor usaha lainnya. Hanya saja, semua elemen harus benar-benar memperhatikan kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, apalagi mengotori danau. Jika semua elemen ini bersinergi dengan baik dan saling menguatkan, ke depan DTW kawasan wisata Danau Toba akan dikunjungi oleh banyak wisatawan. Yang terpenting lagi adalah, masyarakat pelaku wisata di Danau Toba harus sadar wisata, sadar lingkungan dan sadar aturan yang berlaku, peningkatan arus kunjungan akan memberi dampak langsung terhadap peningkatan perekonomian masyarakat. Adanya program dan pelaksanaan pembersihan kawasan ekosistem danau Toba dari sampah maupun eceng gondok pastilah mendapat perhatian khusus dari seluruh elemen masyarakat di seluruh kawasan ekosistem Danau Toba. Masyarakat kalau dilibatkan akan merasa dihargai. Karena Danau Toba bukan hanya milik sekelompok orang, tapi milik semua masyarakat. Eceng gondok di Danau Toba perlu dibersihkan terutama pada lokasi-lokasi tempat pemandian, dermaga kapal dan alur pelayaran. Akan tetapi, untuk lokasi masuknya air limbah dari beberapa anak sungai atau parit yang mengalir langsung ke danau, keberadaan eceng gondok perlu dipertahankan sebagai filter (penyaring) guna menekan pencemaran air Danau Toba. Upaya pelestarian Danau Toba sebenarnya tidak hanya masalah sampah dan eceng gondok, penanaman kembali hutan yang gundul dan telah dieksploitasi oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab harus segera dilakukan sejalan dengan program pemerintah penanaman sejuta pohon. Keindahan alam Danau Toba telah membuat semua orang jatuh cinta untuk datang kembali mengunjunginya. Ayo, tunjukkan aksi nyatamu melestarikan kawasan ekosistem Danau Toba. Apakah itu lewat aksi kecil dengan tidak membuang sampah sembarangan atau aksi lainnya. Upaya pelestarian kawasan ekosistem danau ini tidak akan berhasil kalau aksi untuk mengkampanyekan "Danau Toba Bukan Tempat Sampah" hanya dituangkan di atas kertas. Aksi ini harus nyata dengan melibatkan semua kalangan. (Penulis adalah pemerhati masalah lingkungan) Sumber

MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI