Kesaksian Penyelam Profesional Final Sinaga: Pencarian Korban Sinar Bangun Susah Kali, Gelap, Dingin

Posted 25-06-2018 15:22  » Team Tobatabo
Foto Caption: Final Sinaga (berkaca mata), penyelam yang menemukan korban hilang KM Ramos Risma Marisi. Final satu di antara penyelam pada tim gabungan pencarian korban hilang KM Sinar Bangun.

Final Sinaga baru saja kembali dari perairan Danau Toba, menyelam dan mencari korban hilang KM Ramos Risma Marisi, Sabtu (23/6/2018) sore. 

Pria berambut gondrong inilah yang menemukan jasad korban KM Ramos Risma Marisi, Rahmat Dani (28), pertama kali.

Ia menemukan jasad Rahmat di perairan Danau Toba, dalam posisi tertelungkup di dasar danau pada kedalaman sekitar 10 meter.

Sebelumnya, ia ikut terus dalam tim penyelam pencari korban hilang penumpang KM Sinar Bangun sejak hari kedua hingga hari kelima pencarian.

Pria satu anak ini diutus oleh perusahaannya, PT Aquafarm Nusantara, menjadi salah satu relawan penyelam membantu Basarnas. Pada hari keenam, yakni Sabtu (23/6/2018), ia tak lagi ikut mencari.

Final merupakan lelaki kelahiran Tigaraja, Parapat, Kabupaten Simalungun. Ayahnya marga sinaga dan ibunya boru Silaen. Sejak kecil, ia terbiasa menyelam di seputar Danau Toba.

Ditemui Tribun-Medan.com di salah satu warung dekat dermaga Pelabuhan Nainggolan, Sabtu (23/6/2018), Final menuturkan suka dan duka selama mencari korban hilang KM Sinar Bangun. Ia rela kurang tidur, terlambat makan, dan tak bertemu dengan anaknya yang masih berusia satu tahun demi mencari korban hilang KM Sinar Bangun.

Namun, tak berhasil mendapatkan satu pun korban selama empat hari berturut-turut mencari membuatnya merasa kecewa sekaligus malu pada dirinya sendiri.

"Baru semalam (kemarin) berhenti. Disuruh istirahat sama kantor. Rupanya malam pas aku di rumah, ada kejadian lagi. Disuruh lah pagi tadi sama kantor untuk ikut mencari korban hilang KM Ramos Risma Marisi," tuturnya.

Ia mengaku, selama ini, belum pernah gagal saat menjalankan misi menyelam mencari korban.

"Sebelum kejadian ini (KM Sinar Bangun), kalau ikut aku mencari korban tenggelam, pasti selalu dapat (korbannya). Kali ini enggak. Susah kali. Terlalu dalam, gelap, dan dingin. Pas hari kedua, saya menyelam sampai kedalaman 45 meter lebih itu. Enggak nampak apa-apa. Gelap semua," ungkapnya.

Pria 37 tahun ini mengaku, selalu dipanggil oleh Pos SAR Parapat ketika ada peristiwa tenggelam di Danau Toba. Namun, untuk pencarian korban KM Sinar Bangun merupakan inisiatif dari perusahaan tempatnya bekerja, PT Aquafarm Nusantara, untuk turut ambil bagian dalam misi kemanusiaan.

Dikatakannya, kedalaman menyelam yang sanggup dilakukan normalnya hingga kedalaman 50 meter. Di titik itu, anggota tubuh sudah terasa berat untuk digerakkan. Begitu pula dengan tarikan nafas, juga menjadi lebih cepat.

Oleh sebab itu, ia dan sejumlah penyelam lain tak ada yang mampu melewati batas 50 meter.

"Enggak berani lah. Kita pun mesti safety juga. Tabung gas oksigen ukuran isi 200 bar hanya 15 menit saja habisnya di kedalaman 50 meter, turun dan naik," ujarnya.

Jika permintaan menyelam datang dari Pos SAR, dia diberi honor Rp150 ribu per hari, sedangkan untuk misi kemanusiaan dari perusahaannya, ia tidak dibayar.

"Paling disediakan makan, minum, dan fasilitas lain," pungkas Final.

Dikutip dari Tribun Medan
MUNGKIN INGIN ANDA BACA LAGI