Cari

Benarkah Etnis Suku Batak Jaman Dahulu Bersifat Kanibal? Baca Faktanya!

Posted 15-02-2019 18:25  » Team Tobatabo
Foto Caption: Suku Batak

Suku Batak dikenal sebagai etnis paling modern di Indonesia.

Mereka sudah bisa berbaur dengan peradapan modern dan tetap mempertahankan tradisi yang ada sebagai bagian dari adat istiadat.

Keunikan dari suku yang ada di Provinsi Sumatera Utara ini yang membuat banyak wisatawan tak pernah bosan mengunjunginya.

Suaranya yang besar dan sikapnya yang blak-blakan menjadi identitas dari Suku Batak.

Mereka juga dikenal akan keramahannya.

Pemandangan ini tentu berbanding terbalik dengan yang ada ratusan tahun silam.

Dimana suku ini dikenal suka paling suka berperang.

Tak cuma garang, kenyataan mengejutkan membuat suku termasuk yang paling ditakuti pada masanya.

Dilansir TribunTravel.com dari laman mytripjournal.com, suku Batak dikenal sebagai suku yang paling suka berperang dan bermusuhan selama berabad-abad.

Dulu mereka membuat pemukiman pertama di sekitar Danau Toba dimana gunung menjadi penghalang mereka dari musuh.

(Pinterest)

Akibatnya kehidupan masyarakat Batak sempat terisolasi.

Tak cuma suka berperang, mereka juga melakukan praktek kanibalisme memakan daging manusia.

Praktek ini biasanya diberlakukan bagi musuh yang terbunuh, tahanan perang, pezina, pencuri dan pelanggar hukum adat.

Kanibalisme diketahui dilakukan sampai 1816.

Praktek ini dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat tendi atau penyembuhan roh.

Secara khusus bagian darah, jantung, telapak tangan dan telapak kaki dianggap kaya akan Tendi.

Cerita tentang kanibalisme suku Batak diketahui pertama kali dari catatan Marco Polo yang tinggal di pantai Timur Sumatera mulai April sampai September 1292.

(wikimedia.org)

Dia menyebutkan bertemu dengan bukit rakyat yang dia sebut sebagai pemakan manusia.

Dari sumber-sumber sekunder, Marco Polo mencatat cerita tentang ritual kanibalisme yang dilakukan "Battas".

Saat itu Marco Polo memang tinggal di wilayah pesisir dan dia tidak pernah berkelana ke pedalaman untuk memverifikasi klaimnya.

Meski tak melihatnya secara langsung dia mendengar cerita itu dari pesisiran.

Dimana mereka menyebutkan ada seorang pria yang dicekik dan kemudian dimasak.

Marco bercerita secara detil bagaimana cara orang itu dimakan.

(Net)

Catatan lain tentang kanibalisme suku Batak juga dikeluarkan Sir Thomas Stamford Raffles pada 1820 an ketika mempelajari Batak, ritual, dan hukum mereka tentang konsumsi daging manusia.

Dia menuliskan secara detail tentang pelanggaran yang dibenarkan serta metode pembantaian.

Raffles mengatakan, sudah biasa bagi orang-orang Batakmemakan orang tua mereka ketika terlalu tua untuk bekerja.

Kanibalisme juga diberlakukan bagi penjahat yang melakukan kejahatan tertentu.

Tubuh mereka dimakan mentah atau dipanggang menggunakan kapur, garam dan sedikit nasi.

Dokter dan ahli geografi asal Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn pernah mengunjungi tanah Batak pada 1840 sampai 1841.

Junghuhn mengatakan tentang kanibalisme di antara orang Batak (yang ia sebut "Battaer"): “mereka menjual daging manusia di pasar, dan mereka membantai orang-orang tua mereka segera setelah mereka tidak layak untuk bekerja ... mereka makan daging manusia hanya dalam masa perang, ketika mereka marah, dan dalam kasus hukum tertentu," begitu isi catatan Junghuhn.

Junghuhn bercerita bagaimana setelah penerbangan yang berbahaya dan dia yang kelaparan tiba di sebuah desa yang ramah, dan makanan yang ditawarkan oleh penghuni desa adalah daging dua tahanan yang telah disembelih sehari sebelumnya.

Oscar von Kessel mengunjungi Silindung 1840 sampai 1844.

Dia mungkin menjadi orang Eropa pertama yang mengamati ritual kanibalisme Batak di mana pezina dihukum dan dimakan hidup-hidup.

Von Kessel menyatakan jika kanibalisme dianggap oleh orang Batak dianggap sebagai tindakan peradilan dan aplikasinya dibatasi untuk pelanggaran hukum termasuk pencurian, perzinahan, mata-mata atau pengkhianatan.

Garam, merica merah dan lemon harus diberikan oleh keluarga korban sebagai tanda bahwa mereka menerima putusan masyarakat dan tidak memikirkan balas dendam.

Meski tergolong kejam, praktek ini berhenti sejak ajaran agama masuk ke dalam suku Batak.

Masa Penjajahan Belanda juga melarang praktek kanibalisme di tanah jajahan mereka.

Dikutip dari TribunNews
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah