Cari

Gotong dan Pakaian Adat adalah Simbol Maruah Batak Simalungun

Posted 29-04-2017 22:21  » Team Tobatabo
Foto Caption: Pria Simalungun Mengunakan Gotong Dalam Keseharian (via Instagram)

Penutup kepala orang Simalungun, untuk kaum pria dinamakan gotong dan untuk wanita dinamakan bulang. Terlihat keseragaman bentuk dan bentuk gotong yang digunakan sekarang adalah hasil modifikasi baru atas prakarsa Alm. Tuan Bandar Alam Purba Tambak (Raja Dolog Silou terakhir) sedang motif batiknya sudah dikenal sejak dulu.

Tujuannya agar penutup kepala orang Simalungun seragam, sebab pada zaman dahulu di setiap daerah di Simalungun bentuk gotong yang digunakan oleh kaum pria berbeda-beda, terutama kalangan bangsawan. Rakyat biasa yang dalam masyarakat Simalungun dikenal dengan sebutan Parhauma atau Paruma (petani) hanya menggunakan penutup kepala biasa yang berbeda dengan golongan bangsawan.

loading...

Pada zaman dahulu terdapat beragam bentuk penutup kepala Simalungun dan juga motifnya, sebelum proklamasi 17 Agustus 1945 dan meletusnya revolusi sosial 3 Maret 1946 sedikitnya ada 7 Kerajaan di Simalungun yang disahkan oleh pihak Belanda, masing-masing kerajaan tersebut memiliki budaya dan bahasa yang sedikit banyak memiliki variasi baik dalam budaya maupun bahasa termasuk penggunaan penutup kepala (destar) untuk kaum pria (gotong) dan wanita (bulang).

Setelah semua kerajaan tersebut bersatu dalam nama Simalungun, oleh Partuha Maujana Simalungun melalui gagasan Raja Dolog Silou terakhir Tuan Bandar Alam Purba Tambak disepakati sebuah bentuk penutup kepala baru yang terinspirasi dengan penutup kepala suku Melayu seperti yang kita kenal sekarang ini.

Dari hasil penyelidikan saya, adapun sejarah penutup kepala bercorak batik pada suku Simalungun berawal dari persahabatan antara Kerajaan Nagur dan Mataram yang berpusat di Jawa Timur (Dinasti Isana) sekitar abad 11 masehi, persahabatan ini kemudian dipererat dengan jalinan pernikahan antara putera mahkota Raja Nagur dengan puteri Raja Mataram.

Usai acara pernikahan, puteri Mataram yang cantik jelita dan aduhai ini kemudian digotong ke Kerajaan Nagur, dari sinilah awal lahirnya penyebutan gotong dan juga motif batik yang dinamakan Soribaya yang berarti Surabaya, hadiah dari Raja Mataram kepada menantunya putera Raja Nagur bermarga Damanik yang keren, ganteng, dan gagah perkasa.

Dan corak batik ini hanya ada di Jawa Timur, tidak ada di Jawa Tengah meski banyak para penenun batik di Jawa Tengah. Sama halnya dengan suku Karo, penutup kepala suku Karo yang ada saat ini juga mengalami perubahan baik yang digunakan kaum pria maupun wanita, bahkan warna yang digunakan untuk penutup kepala pria berwarna merah, diawali hadiah dari Sultan Aceh.

Demikian juga penutup kepala suku Toba, yang digunakan dewasa ini adalah hasil kreasi baru yang tidak jelas dasarnya dan salah satu bentuknya meniru penutup kepala suku Pakpak. Dalam perjalanan hidup manusia sebuah perubahan takkan bisa dielakkan, karena bumi terus berputar dan generasi manusia terus berganti seiring perjalanan waktu.

Pada saat ini muncul kembali polemik masalah penutup kepala, apakah menggunakan corak hiou atau batik, saya pribadi menyarankan agar kembali saja ke bentuk lama sesuai dengan yang digunakan raja-raja Simalungun di masa lalu mewakili masing-masing daerah dan kerajaan, perbedaan itu menunjukkan kekayaan budaya Simalungun. Ini sekadar saran, kalau dirasa cocok silakan dipertimbangkan dan diterapkan, kalau tidak cocok silakan dibantah dengan argumentasi yang tepat dan logis. Diatei tupa ma.

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah