Cari
 Batak
 Diposting 03-07-2017 19:53

Cerita marga Pardosi dan Siagian

Foto Caption: Tugu Siagian

Ada turi turian (CERITA ORANGTUA-Dongeng) yang menjelaskan asal usul dari Marga Pardosi Siagian tuan dibangarna, Pardosi adalah salah satu keturunan dari tuan Raja Siagian.

Salah satu ank dari Raja Siagian ini sudah terkenal kemampuannya dalam membuat GORGA ni SOPO (Corak lukisan pada Rumah Adat Batak).

Designed SOPO ini sangat luar biasa karena sangat Dinamis dan kokoh tanpa ada PAKU SATU PUN, dan kalaupun diikat tali pengikatnya terbuat dari IJUK ni BAGOT ( sejenis serat yang diperoleh dari Pohon nira dan dipilin), SOPO(Rumah adat Batak) ini penuh dengan beberapa Filosofi yang bisa dipergunakan dalam hidup kermasyarakat(EDISI berikutnya akan di jelaskan oleh penulis). dan untuk membangun SOPO ini biasanya diperlukan waktu yang sangat lam bisa bertahun tahun lamanya.

Salah satu anak dari Raja Siagian ini mempunyai keahlian yang sangat luar biasa dalam membuat GORGA (ukiran-Red) bahkan sudah terdengar sampai kepenjuru kerjaan Batak yang ada di Toba, sehingga Anak dari Raja Siagian ini di utus untuk memimpin satu pembangunan sebuah Sopo di TOBA dan dilengkapi peralatannya oleh Raja Siagian termasuk TUHIL (Pahat) yang menjadi peralatan utama dalam mengukir GORGA.

Setalah SOPO yang dibangun hampir selesai lebih cepat 7 bulan dari yang diperhitungkan, karena dikerjakan hampir siang dan malam oleh Raja Siagian yang ditunjuk, sehingga suatu hari, Anak Raja Siagian ini tanpa disengaja membuat TUHIL (Pahat) yang dipergunakan terjatuh dan hilang/tidak ditemukan karena sudah malam hari dan Gelap.

Keesokan harinya, Raja Siagian yang mengutus anaknya untuk mengerjakan SOPO melakukan kunjungan sambil mengecek pekerjaan Pembangunan SOPO, namun Raja tidak menemukan Anaknya di SOPO itu dan tidak sedang mengerjakan GORGA, sampai dengan amarahnya Raja Siagian menyuruh para pasukan mencari anaknya sampai ketemu, akhirnya Raja Siagian sendiri menemukan Anaknya sedang MANOMPA BOSI (Menempa TUHIL di Pandai Besi).

Karena amarhnya Raja Siagian Memarahi anaknya, dan mengusirnya dari kerajaannya dengan mengucapkan:

"Husuru ho Mambaen Gorga!!!! Hape Manoma bosi do di Ula ho!!! atik na PARBOSI do ho???"

Karena merasa pekerjaannya tidak dimengerti oleh Orang tuanya, meskipun kakak kakak kandungnya berusaha untuk menyakinkan Adiknya agar SABAR dan mengerti atas emosi orang tuanya, akhirnya Anaknya merasa kecewa dan benar benar merantau dari kerajaan itu dan menuju dareah HABINSARAN yang saat ini terkenal dengan nama PARSOBURAN (Ibu kota Kec-HABINSARAN).

Sampai akhirnya dia mengaku sebagai Marga PARDOSI dan menemukan jodohnya di sana dan selanjutnya memiliki keturunan yang Banyak.

Di Parsoburan HABINSARAN hampir 60% marga yang ada disana terdiri dari Marga Pardosi dan mayoritas bermukin di dua tempat disana yakni HUTA GORAT dan HUTA GINJANG.

Demikianlah sampai seterusnya keturunan dari raja SIAGIAN PARBOSI ini mengaku menjadi Marga Pardosi, dan HAHANA/Kakaknya/BAPATUANA/Bapak TUanya/UDANYA/BApak Udanya sebenarnya tetap sayang pada ADIK/KAKAK mereka yang sudah merantau, sehingga sampai saat ini di Perantauan Pardosi selalu masuk menjadi Siagian dan sekaligus sebagai Raja di Tuandibangarna.

 Catatan :

Cerita ini adalah cerita mulut kemulut dan turun temurun dari orang tua kita yang kebenarannya masih belum di dokumentasikan, dan turi turian ini adalah salah satu dari banyak turi turian yang ada hingga saaat ini.

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah