Cari

Kristina Sihombing, Gadis Batak Pejuang Literasi di Papua

Posted 10-07-2017 10:36  » Team Tobatabo
Foto Caption: Kristina dengan murid- muridnya (foto: dok Kristina)

Kristina Susiana Sihombing, gadis berdarah Batak berusia 30 tahun sungguh layak diapresaiasi. Melihat sangat minimnya fasilitas bacaan di Kabupaten Intan Jaya, Papua, ia pun berjuang menyebarkan virus literasi di Medan yang berbukit guna mencerdaskan anak-anak di sana. Seperti apa kiprahnya? Berikut catatannya untuk Indonesia.

Lajang yang sehari-harinya tinggal di Desa Bilai, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya, sebenarnya belum lama menginjakkan kakinya di tanah Papua. Tahun 2014 lalu, dirinya memasuki kawasan kaya sumber daya alam itu sebagai guru kontrak di sekolah unggulan Tiom, Kabupaten Lanny Jaya." Baru bulan Desember 2015, saya pindah ke Kabupaten Intan Jaya," ungkapnya dalam komunikasi jarak jauh, Selasa (20/6) siang.

loading...

Melihat kondisi anak-anak Kabupaten Intan Jaya yang dahaga buku bacaan, karena memang tak memiliki perpustakaan daerah, Kristiana merasa trenyuh. Bagaimana tidak? Situasi di sini ibarat bumi dengan langit dibandingkan kabupaten atau kota lain di tanah Jawa, khususnya perihal literasinya. Bahkan, di sekolah-sekolah juga minim buku bacaan.

Anak- anak Papua menyimak beragam bacaan (foto: dok Kristina)
Anak- anak Papua menyimak beragam bacaan (foto: dok Kristina)

Mungkin ada yang bertanya, di zaman teknologi informasi yang sedemikian pesat, kan bisa bisa belajar tentang berbagai hal melalui internet? Ya, itu mungkin pertanyaan yang terlontar dari orang-orang yang belum mengerti kondisi Kabupaten Intan Jaya. Sekadar diketahui, kabupaten ini baru berdiri tanggal 29 Oktober 2008. Sebelumnya merupakan wilayah Kabupaten Paniai, hingga berbekal Undang-Undang nomor 54 tahun 2008 terbentuklah sebuah kabupaten yang memiliki topografi ekstrem, yakni perbukitan dan lembah curam.

Di sini, yang namanya sinyal internet adalah barang mewah, sinyal hanya berlaku untuk komunikasi telepon dan pesan singkat. Itu pun, bila ada hujan serta kabut maka semua perangkat teknologi komunikasi tak berdaya. "Kalau pada hari biasa, dari pukul 6.00 sampai pukul 14.00, selanjutnya nyala lagi pukul 17.00 sampai pukul 21.00, selanjutnya istirahat," kata Kristina serius.

Anita dan Uli sukarelawan OPIJ (foto: dok Kristina)
Anita dan Uli sukarelawan OPIJ (foto: dok Kristina)

Begitu pun dengan media informasi lainnya seperti surat kabar, radio, hingga pesawat televisi bisa dikata tidak ada. Implikasinya, tingkat kecerdasan anak-anak usia SD maupun SMP dalam urusan baca tulis jadi tersendat. Tentunya, hal itu menimbulkan duka tersendiri bagi Kristina yang memang gila membaca berbagai buku.

Topografi yang ekstrem juga memiliki andil besar dalam sulitnya transportasi darat, sarana paling mudah didapat adalah ojek. Tarifnya gila-gilaan. Sedangkan untuk menuju ibu kota Provinsi Jayapura, warga harus menggunakan pesawat perintis yang memakan waktu 1,5 jam, transit dulu di Kabupaten Nabire. Yang pasti, secara keseluruhan kabupaten ini sangat ketinggalan di semua lini.

Kristina mengunjungi salah satu SD (foto: dok Kristina)
Kristina mengunjungi salah satu SD (foto: dok Kristina)

Berjuang Bersama Dua Relawan

Dengan kondisi alam yang sedemikian, tak pelak, istilah literasi menjadi kosakata yang nyaris terhapus dari kamur bahasa. Hal itulah yang membuat Kristina teramat sangat prihatin. Ia yang begitu mencintai tanah Papua, dirinya yang menyayangi anak-anak berambut keriting dan berkulit hitam, berupaya berjuang menularkan virus literasi. Kendati begitu, ada kebingungan karena pada dasarnya Kristina awam literasi.

Kristina awalnya agak gamang, harus memulai dari mana. Hingga akhirnya, ia bertemu pentolan Pustaka Bergerak Indonesia, Irwan Arsuka. "Orang gila" literasi ini, memberikan support terhadap Kristina. Menurutnya, terisolasi bukan berarti akan menghambat literasi." Banyak saran dan petunjuk yang saya dapatkan dari Bapak Nirwan sehingga saya semakin bergairah mendirikan perpustakaan bagi anak- anak di sini," jelas Kristina.

Kristina dan relawannya berjalan kaki menembus bukit (foto: dok Kristina)
Kristina dan relawannya berjalan kaki menembus bukit (foto: dok Kristina)

Pascapertemuan dengan Nirwan Arsuka inilah yang membuat "syahwat" mendirikan perpustakaan semakin bergolak. Secara perlahan, dikumpulkanlah beragam buku miliknya maupun sumbangan dari berbagai sahabat, termasuk Nirwan Arsuka. Akhirnya, sejak tanggal 24 Agustus 2016 berdirilah Ombo Pustaka Intan Jaya (OPIJ). "Ombo adalah noken, atau tas tradisional Papua," kata Kristina menjelaskan arti Ombo.

Kenapa ada embel-embel Ombo di depannya? Jawabnya sederhana, Kristina dibantu dua relawan, yakni Anita siswi kelas 7 di SMP YPPK Satap Bilai dan Uli siswi kelas 4 di SD YPPK Satap Bilai setiap minggu mereka bertiga naik-turun bukit menuju perkampungan sembari membawa buku yang tersimpan di noken. Jarak terdekat 1 kilometer serta terjauh 5 kilometer, ini jarak yang relatif mudah dijangkau bila melalui jalan aspal. Sedangkan jalan yang dilalui Kristina, Anita bersama Uli adalah medan terjal penuh tebing curam.

Murid SD dan SMP berada di OPIJ (foto: dok Kristina)
Murid SD dan SMP berada di OPIJ (foto: dok Kristina)

Perjuangan Kristina dibantu Anita dan Uli mungkin masih mudah dilalui versi mereka bertiga, namun, ketika hujan jatuh ke bumi, alamat para pejuang literasi ini harus jatuh bangun akibat terpeleset di jalan setapak. Kendati Anita serta Uli jago menghindari tanah liat, tetapi karena membawa beban lumayan berat,  kelincahan kakinya kerap kesulitan menahan keseimbangan.

loading...

Di luar hari Minggu, OPIJ tetap buka seperti biasa. Pada jam-jam istirahat belajar di SD maupun SMP, Kristina selalu menyuruh anak-anak membaca beragam buku. Sementara Anita kerap membantu membacakan buku bagi anak-anak yang belum mampu membaca. "Di sini, melihat antusiasme anak-anak menyimak beragam buku, ada kebahagiaan tersendiri bagi saya. Kebahagiaan itu tak tertebus oleh apa pun," ungkap Kristina.

Ini juga anak bangsa yang butuh bacaan (foto: Kristina)
Ini juga anak bangsa yang butuh bacaan (foto: Kristina)

Menurut Kristina, koleksi buku di OPIJ hingga sekarang masih sangat jauh dari ideal. Sebab, saat awal berdiri jumlahnya hanya 503 eksemplar, sekarang menjadi 540 eksemplar. Padahal, yang dibutuhkan, minimal ada 15.00 eksemplar buku. Untuk itulah, ia berharap agar para pecinta literasi di seluruh Indonesia bersedia mendonasikan bukunya ke OPIM yang beralamat di SD-SMP YPPK Satap Bilai, Kampung Bilai, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya, Papua KP 98767.

Bagaimana bila seseorang punya buku, namun tidak memiliki uang untuk membayar biaya paket? Jangan khawatir, Presiden Joko Widodo sudah mengeluarkan beleid pendukung literasi. Sumbangan buku bisa dikirim setiap tanggal 17 tanpa dikenai biaya apa pun. Syaratnya, pengiriman melalui PT Pos Indonesia, berat maksimal 10 kilo gram dan di bungkusnya harus tertulis BERGERAK.

Itulah catatan tentang gadis Batak yang ingin mencerdaskan anak-anak Papua, Kristina terus bergerak demi literasi. Seperti pesan Nirwan Arsuka, terisolasi bukan berarti jadi penghambat. Tak heran bila ia sanggup naik-turun bukit hanya demi anak-anak yang dahaga bacaan. Pertanyaannya, apa yang sudah kita perbuat untuk Papua? Kalau belum, kiranya dengan langkah kecil, yakni mendonasikan buku ke sana, berarti Anda telah melakukan sesuatu yang mulia. Salam literasi!

Oleh Bambang Setyawan

Dikutip dari Kompasiana
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah