Cari

Film Pagar Kawat Berduri Tayang Perdana di Medan, Ini Harapan Kementerian Pendidikan

Posted 03-06-2018 11:42  » Team Tobatabo
Foto Caption: Ketua Yayasan Sinema Manuproject Pro Indonesia Immanuel Ginting (kiri), Staf Pengarsipan Film Pusbang Film Kemendikbud Panji Wibisono (tengah) dan Pelaksana Restorasi Film Rizka Fitri Akbar (kanan) saat menjawab pertanyaan peserta acara Screening dan Diskusi Film Restorasi Pagar Kawat Duri. Acara ini berlangsung di CGV Focal Point, Kamis (31/5/2018).

Medan boleh berbangga diri terpilih menjadi kota pertama di Indonesia yang diperlihatkan film hasil restorasi berjudul Pagar Kawat Berduri. Sebanyak lebih kurang 50 orang penikmat film Kota Medan datang pada acara Screening dan Diskusi Film Hasil Restorasi yang diselenggarakan oleh Manuprojectpro Indonesia di CGV Focal Point, Kamis (31/5/2018).

Oleh kerjasama Pusat Pengembangan Perfilman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Sinematek dan PT Render, film ini bisa dinikmati dalam format 4K.

loading...

Kepala Subbidang Pengarsipan Film Pusbang Film Kemendikbud RI Anton Rozali mengatakan, film bersejarah itu akhirnya bisa dinikmati padahal kondisi film ini sebelumnya tidak layak lagi untuk ditonton.

"Tugas Pusbang Film adalah mengamankan, melindungi dan melestarikan film. Salah satu upaya yang bisa dilakukan melalui restorasi," ujarnya.

Pagar Kawat Berduri menceritakan tentang kisah sejumlah tawanan yang berada di markas Belanda. Mereka semua berusaha untuk lari. Latar filmnya menyiratkan kondisi Indonesia sebelum masa kemerdekaan.

Tokoh Parman (diperankan oleh Sukarno M Noor) memiliki strategi yang berbeda. Ia mendekati perwira Belanda Koenen (diperankam Benhard Ijzerdraat) hingga dikira penjilat oleh kawan-kawannya.

54 tahun yang lalu film ini dipersiapkan untuk menjadi tontonan di bioskop. Tapi, oleh PKI film ini ditarik, karena dianggap menimbulkan simpati masyarakat pada Belanda. Staf Pengarsipan Film Panji Wibisono mengatakan, itulah yang menjadi alasan bagi Pusbang Film menggelar acara Screening dan Diskusi Film ini di bioskop.

"Kenapa kami gelar di bioskop, bukan untuk gaya-gayaan tapi untuk mengangkat film ini ke layar lebar. Karena film ini pada dasarnya dibuat untuk ditayangkan di bioskop," ucapnya.

Penayangan film ini merima banyak apresiasi, baik dari peserta hingga dari tamu undangan. Kabid Kesenian Tradisional Dinas Kebudayaan Kota Medan, Yuliar, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada Kemendikbud yang sudah memfasilitasi acara itu.

"Sejarah mungkin banyak ditinggalkan, orang-orang berlomba untuk menciptakan inovasi modern. Padahal semua itu tidak mungkin terwujud jika tanpa proses dari sejarah. Kami mendukung penuh dalam setiap kegiatan pelestarian sejarah," katanya.

Ketua Yayasan Sinema Manuprojekpro Indonesia, Immanuel Ginting, selaku penyelenggara menyampaikan harapannya pada acara ini. Ia berharap, melalui kegiatan ini akan muncul anak-anak Sumut yang mulai mengikuti profesi perfilman.

"Kedepan kami ingin edukasi masyarakat Sumut, jangan hanya buat film indie, tapi bisa ikut profesi perfilman. Sekarang ada hal yang baru, Restorasi. Kenapa kita nggak belajar? Kalau kita sudah punya ahlinya, akan baik kalau Medan nantinya menjadi pusat restorasi perfilman," tuturnya.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah