Cari

Perkembangan Tortor Dipengaruhi Nyanyian Dalam Opera Batak

Posted 23-11-2012 18:15  » Team Tobatabo

 

Balige, Sumut – Budayawan Thompson Hs menilai, perkembangan tari “tortor” banyak dipengaruhi nyanyian melalui “tumba” (gerak tari bersifat minimalis) dalam seni opera Batak, yang banyak dipertunjukan pada 1920 hingga tahun 1980.

“Tari tortor, masuk dalam identitas kebudayaan bangsa sebagai warisan budaya yang banyak berkembang dalam pengaruh nyanyian (ende) melalui tumba dan penampilan seni lakon pada opera Batak,” kata budayawan Thompson Hs di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Minggu.

Memang, saat ini, lanjutnya, tortor kreasi baru semakin dipengaruhi rekaman musik gondang atau instrumen Barat dan representasinya telah banyak digantikan alat musik elektronik untuk mengiringi tarian tradisi tersebut.

Bahkan, menurut pendiri Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Sumatera Utara itu, beberapa perubahan dalam pola dan gerak tortor telah terjadi melalui kebijakan interaksi kebudayaan dan peran perguruan tinggi, yang mungkin bisa disebut sebagai modernisasi tortor.

Sebagai tarian tradisional Batak, secara umum istilah tortor digunakan di daerah Angkola-Mandailing, Simalungun, dan Toba pada sub kultur (sosio-antropologis) Batak.

“Di daerah Karo, tari tortor dikenal dengan landek dan di wilayah Pakpak, Dairi disebut tatak,” ujar Thompson.

SUMBER

 

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah