Cari

Ulos versus Modernisasi, Siapa Peduli

Posted 17-12-2014 11:58  » Team Tobatabo

Kabupaten Tapanuli Utara, seperti daerah lainnya juga memiliki keunikan yang apabila tidak dipertahankan dan dijaga akan lenyap oleh arus modernisasi. Lantas siapa yang masih konsisten dengan keunikan ini?

Salah satu keunikan yang banyak menyimpan rahasia keterampilan seni yang unik yang berpadu dengan budaya terdapat dalam ulos, sebuah pakaian adat tradisional Batak. Dan keunikan yang sekaligus menjadi kekayaan itu setidaknya masih terjaga berkat ketekunan masyarakat yang masih peduli dengan tradisi seni dan budayanya.

Adalah pasangan suami-istri St D Sitompul (67) dan F Br Panggabean (60) sejak tahun 1980-an telah bergelut dalam melestarikan tenun ulos. Berbekal keterampilan turun-temurun dari orangtua, tradisi sekaligus keterampilan yang membutuhan bakat seni ini pun kemudian menjadi sumber penopang hidup keluarga.

Bukan hanya mereka, penduduk Desa Sitompul Kecamatan Siatas Barita, sekitar lima kilometer dari Kota Tarutung ini, mayoritas memiliki keterampilan bertenun ulos selain bertani padi.

“80 persen penduduk Desa Sitompul bertenun ulos,” kata Sitompul ketika ditemui di kediamannya kemarin, beberapa waktu yang lalu (Juli 2006).

Proses pembuatan ulos bukanlah pekerjaan mudah. Selain butuh waktu lama, juga dibutuhkan kecakapan seni dalam memadukan warna serta merangkai benang menjadi sebuah ulos maupun “mandar” (sarung) yang bermotif seni.

“Ini bukan pekerjaan mudah,” begitu kata Sitompul sambil menunjuk-nunjukkan bahan-bahan pewarna kimia yang tesusun rapi di belakang rumahnya. “Inilah kantor saya,” tambahnya berseloroh.

Bahan baku utama, benang, adalah penentu. Semakin tinggi kualitas benang semakin tinggi juga harganya. Di samping itu, semakin sulit mengerjakan corak ulos maka semakin tinggi pula harganya. Misalnya “Mandar Surat Batak”, harganya lebih mahal dari ulos atau mandar lain, mulai Rp 250 ribu hingga Rp 2 juta.

Waktu pembuatannya juga tidak sebentar, satu ulos atau mandar dengan kualitas benang bermutu dan tingkat kesulitan pembuatan corak lebih tinggi membutuhkan waktu dua minggu jika dikerjaan oleh satu orang. “Makanya kami lebih sering mengerjakannya bersama-sama,” kata Br Panggabean.

Sementara ulos yang pembuatannya sederhana berharga lebih murah. Seperti halnya “Ulos Ragi Hidup”, “Ragi Hotang” dan “Sadun” harganya lebih murah, yakni mulai Rp 20 ribu hingga Rp 600 ribu.

Benang 100 adalah salah satu bahan baku berkualitas tinggi. Benang ini didatangkan dari India setelah dibeli oleh agen dari Surabaya, Bandung atau Jakarta. Warna awalnya masih putih polos. “Di sinilah dibutuhkan keterampilan khusus memadukan warna kimia menjadi warna yang diinginkan,” kata Sitompul. Selanjutnya setelah benang diberi warna, proses penenunan pun dilakukan setelah benang-benang berwarna itu kering oleh sinar matahari.

“Nah, di sinilah proses yang lebih sulit karena membutuhkan kreasi seni,” kata Sitompul. Selain benang 100, Sitompul mengatakan, untuk menciptakan corak atau tulisan pada ulos mereka juga menggunakan benang emas (yang warnanya menyerupai emas), nilon, porada, dan benang singer.

Namun Sitompul mangaku, ia lebih sering mendapatkan pesanan terlebih dahulu daripada menjualnya langsung kepada agen ulos. “Selain dari Tarutung, pesanan sering juga datang dari Medan, Jakarta, dan kota-kota lain. Mereka sudah mengenal saya dan kampung ini lewat ulos,” katanya.

Sitompul, setelah 20 tahun menggeluti tenun ulos, hingga kini telah berhasil menamatkan tiga orang anaknya dari universitas. “Ini semua berkat kuasa Tuhan dan ketekunan keluarga mempertahankan ulos sebagai salah satu kekayaan dari Tanah Batak,” katanya.

Sumber

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah