Cari
 Batak
 Diposting 30-09-2016 11:00

Fungsi Ulos Pada Awal Mulanya Bukan Untuk Adat

MEDAN - Mengajukan Ulos sebagai warisan dunia ke UNESCO, para tokoh batak laksanakan Seminar Sehari Pengusulan Ulos Sebagai Warisan Budaya Dunia di Universitas Sumatera Utara (USU), Rabu (24/8/2016).

Satu di antara narasumber, Antropolinguistik USU, Prof Robert Sibarani mengatakan bahwa ulos pada awalnya bukan untuk adat. Masyarakat batak dulu, menggunakan ulos sebagai pakaian.

"Ulos pertama kali dipakai untuk pakaian bukan adat. Dipakai sebagai penutup kepala, baju, dan celana, ada juga dipakai sebagai selimut," sebut Robert di depan puluhan peserta seninar.

Berjalan waktu, ulos berproses dan kini dijadikan sebagai benda ritual adat. Walau demikian, Robert Sibarani menyebutkan bahwa ulos kini telah diproduksi mesin sehingga menghilangkan nilai filosofi ulos.

seminar prof robert sibarani

Caption: Prof Robert Sibarani memberikan materi mengenai makna ulos di Seminar Pengusulan Ulos Sebagai Warisan Budaya Dunia di USU, Rabu (24/8/2016). 

"Ulos untuk adat adalah ulos yang asli, ulos tenunan. Pewarnanya dari tanaman-tanaman. Bukan yang harga Rp 5000 atau Rp 10000. Adat itu sakral harus yang paling terbaik bukan yang murahan," sambungnya.

Tak ketinggalan, dalam forum seminar ini, Robert meminta untuk dibentuknya kampung ulos di Sumatera Utara.

"Masih banyak penenun ulos asli di seputaran Danau Toba. Harus dibuat kampung ulos biar gak ada ATM (Alat Tenun Mesin). Kita harus mengaktifkan, mengelolah, dan mewariskan ulos," punkas Robert Sibarani.

Dikutip dari Tribun Medan

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah