Cari
 Nasional
 Diposting 04-11-2017 13:59

Spesies Baru Orangutan Tapanuli Ditemukan Hampir Punah

Orangutan Tapanuli berjanggut dan berbulu keriting menambah cabang pohon keluarga primata, tapi tampaknya eksistensi mereka tidak akan lama.

Spesies yang baru ditemukan itu dalam situasi hampir punah, kurang dari 800 makhluk berwarna kayu manis itu tersisa di alam bebas.

Sekelompok ilmuwan internasional menggolongkan spesies baru primata ini setelah membandingkan tengkorak dan genom dengan spesies orangutan lainnya.

Mereka memberi nama Pongo tapanuliensis dari daerah di Pulau Sumatera, tempat tinggal beberapa ratus individu orangutan ini.

Populasi orangutan Tapanuli terancam oleh perburuan dan proyek listrik tenaga air yang dapat mengambil wilayah yang luas dari habitat mereka yang terus berkurang.

Primata kedelapan

Biologis telah mengenali tujuh spesies primata yang masih hidup: manusia, gorila timur dan barat, simpanse, bonobo, orangutan Sumatera dan Kalimantan.

Sekarang, menurut makalah yang diterbitkan di Current Biology hari ini, biologis dapat menambah spesies orangutan lainnya ke dalam daftar.

Orangutan Tapanuli memakan daun di atas pohon.

Orangutan Tapanuli berbulu lebih keriting daripada sepupunya. (Supplied: Maxime Aliaga)

Lantas bagaimana bisa sejumlah mamalia pemanjat pohon terbesar di dunia ini berada di bawah radar begitu lama?

Orangutan terkenal sangat pemalu. Menemukan mereka, terutama di hutan lebat, adalah sulit sebagaimana Erik Meijaard, seorang ilmuwan hutan dan konservasi yang kini di Australian National University, temukan ketika ia menghabiskan tiga tahun di 1990an memetakan dimana orangutan hidup di Kalimantan.

"Saya menyusuri dari hulu ke hilir setiap sungai, pedalaman basah, tapi segera paham kalau mencari orangutan secara aktif tidak akan berhasil," kata ia.

"Jadi saya sangat mengandalkan bicara dengan orang dan lebih banyak mencari sarang."

Setelah ia memetakan orangutan Kalimantan, Dr Meijaards ke Sumatera. Di sana ia membaca catatan yang ditulis penjelajah Belanda di awal 1900an.

"Karena seluruh bahan bacaan zaman kolonial dalam bahasa Belanda saya sendiri Belanda saya selalu tertarik mengakses cerita-cerita lama dari tahun 1920-1930an," kata ia.

Ia melihat penyebutan berulang tentang populasi orangutan di daerah Tapanuli, jauh di selatan dari habitat orangutan Sumatera. Rasa penasarannya terusik, Dr Meijaard pergi ke sana.

Orangutan 2

Penduduk lokal membenarkan orangutan memang hidup di daerah itu, mengikuti musim matang buah seperti durian dan rambutan. Beberapa orang punya cawan yang diambil dari orangutan mati.

Ketika Dr Meijaard berusaha masuk ke hutan, ia tidak melihat satu pun orangutan, tapi menemukan banyak sarang. "Ini memulai segala hal," kata ia.

Bukti tulang danDNA

"Ini berubah menjadi proyek massif," kata Michael Kruetzen, ahli genetika populasi dari Universitas Zurich dan tim penulis penelitian.

Akhirnya, orangutan hidup terlihat di hutan.

Mereka memiliki bulu badan lebih keriting dari orangutan Sumatera dan Kalimantan, dan betina bisa berjanggut.

Proyek ini mengalami terobosan tragis pada November 2013, ketika satu orangutan jantan di hutan Tapanuli diserang dan dibunuh oleh warga kampung.

Melihat ada kesempatan, para peneliti mengambil tengkoraknya dan membandingkan dengan 33 tengkorak orangutan Sumatera dan Kalimantan.

Tengkorak orangutan yang baru terbunuh lebih kecil, wajahnya lebih rata dan taringnya lebih lebar daripada orangutan Sumatera dan Kalimantan.

Tengkorak orang utan

Para peneliti juga menganalisa contoh darah yang diambil oleh dokter hewa dari dua orangutan lainnya yang lahir di Tapanuli.

Dikombinasikan dengan model matematika, DNA menunjukkan orangutan Tapanuli terpisah dari orangutan Sumatera dan Kalimantan sekitar 3,4 juta tahun lalu.

Kumpulan bukti ini cukup untuk menunjukkan orangutan Tapanuli sebagai spesies baru.

Ketika gambaran tentang orangutan Tapanuli lebih banyak bersandar pada satu tengkorak dan dua genom, peneliti mengatakan lebih banyak perbedaan antara spesies orangutan dapat bertambah karena lebih banyak contoh ditemukan.

Dr Meijaard mengakui analisa genetika menunjukkan beberapa perkawinan silang terjadi antara orangutan Tapanuli dan Sumatera sekitar 10.000 tahun lalu, tapi cukup yakin kalau orangutan Tapanuli secara morfologis cukup berbeda untuk digolongkan sebagai satu spesies.

"Saya tahu ini akan jadi kontorversial, dan akan ada orang yang tidak setuju, tapi tidak apa kita bisa berdebat tentang itu," kata ia.

Ahli ilmu burung dari Universitas Southern Cross Les Christidis yang mengkhususkan diri pada evolusi dan penggolongan burung adalah salah satu ilmuwan yang tidak yakin.

"Data secara morfologis berdasarkan satu individu dan menunjukkan kalau individu itu agak berbeda pada beberapa bagian tengkorak dan gigi, meskipun gigi telah aus di satu-satunya spesimen spesies "baru"," kata Professor Christidis.

"Apakah beberapa perbedaan dalam ukuran cukup untuk spesies baru, khususnya data DNA sebagus-bagusnya ambigu?"

Ancaman perburuan dan hutan terbelah

Populasi kurang dari 800 orangutan berkeliaran di kawasan hanya 1.000 kilometer persegi dan area yang relatif kecil itu di bawah ancaman.

Pembangunan pembangkit tenaga listrik yand ditujukan selesai tahun 2022 dapat membanjiri 8 persen habitat orangutan Tapanuli.

Ini juga bisa memotong koridor hutan yang digunakan oleh orangutan untuk berpindah antara populasi, akan mendorong isolasi lebih jauh dan perkawinan sedarah.

Tapi masalah mendesak pada orangutan Tapanuli adalah perburuan.

Setiap pengurangan jumlah perlu tahunan untuk pulih. Betina biasanya melahirkan satu anak setiap sekitar enam tahun.

"Angka reproduksi rendah," kata Professor Kruetzen. "Mereka tidak beranak seperti kelinci."

"Jika sampai delapan dari 800 individu terbunuh setiap tahun, selain angka kematian normal, spesies ini akan hilang," kata Dr Meijaard.

Dikutip dari Detik.com
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah