Cari
 Opini
 Diposting 22-12-2017 13:37

Ketika Pak Jokowi Jadi Bagian Keluarga Batak

Foto Caption: Jokowi memamerkan keahliannya manortor Batak Mandailing dengan belajar dari youtube. sumber: www.nasional.kompas.com

"Bukka ma pittu, bukkama harbangan. Ai nungga rade labuan ni hopal habang internasional"(Siapkan diri untuk berubah, karena sudah tersedia lapangan terbang internasional)

Itulah umpasa alias pantun dalam bahasa Batak Toba yang menjadi kalimat pembuka Pak Jokowi saat meresmikan Bandara Internasional Silangit jadi gerbang terwujudnya Danau Toba sebagai kawasan wisata Internasional yang mampu lebih meningkatkan taraf hidup dan perekonomian daerah-daerah di kawasan Danau Toba dan juga aplikasi dari semboyan "Marsipature Huta Na Be" (Saling Membangun Kampung Masing-Masing) yang sejak almarhum Raja Inal Siregar -- Gubernur Sumatera Utara ke-13 memerintah tahun 1988-1998 - sudah didengung-dengungkan.

Pak Jokowi, siapa yang tidak kenal beliau? Terlahir di Jawa Tengah, tepatnya di Solo, 56 tahun yang lalu, Pak Jokowi mendapat pendidikan yang sangat menghormati dan menghargai perbedaan dan budaya-budaya Nusantara. Begitu juga dengan sikap toleransi yang sangat tinggi, terbukti dari cerita-cerita yang beredar bahwa Pak Jokowi selalu membonceng Pak Toto yang beragama Katolik dengan sepeda jengkinya dari rumah mereka yang kebetulan berdekatan ke SMP 1 Manahan, Solo.

Jadi tidak heran apabila Pak Jokowi menjadi orang yang paling berpengaruh dan selalu menjadi perbincangan hingga ke seluruh dunia berkat etos kerja, cara kerja dan sikap sederhana serta kegigihannya dalam mempertahankan budaya Indonesia di mata internasional. 

Baru-baru ini, media sosial dibuat gempar dengan munculnya deretan souvenir khas Rusia bergambar tiga sosok yang sangat berpengaruh dari Indonesia, Pak Jokowi, Ahok dan Ir. Soekarno, The Founding Fathers Republik ini. Mereka bersanding dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin yang menggambarkan betapa Pak Jokowi adalah sosok yang telah mampu membawa Indonesia benar-benar diakui dunia Internasional berkat kerja kerasnya.

Jadi Bagian Batak

Kejeniusan dan ketaatan Pak Jokowi akan nasehat para leluhur kita untuk tetap melestarikan budaya, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang baik yang diwariskan turun-temurun serta menghargai budaya dari seluruh pelosok nusantara tergambar dari kebiasaan beliau saat mengunjungi daerah-daerah dari Sabang hingga Merauke dengan meminta agar budaya-budaya mereka ditampilkan dan Pak Jokowi selalu tidak lupa untuk mencicipi makanan khas daerah tersebut dan mencoba selalu ikut terlibat dalam prosesi adat-istiadat yang dipertunjukkan serta tidak sungkan untuk mengenakan pakaian adat khas daerah tersebut. Itulah Pak Jokowi sangat mencintai budaya Indonesia.

Kali ini kembali kita dibuat tercengang-cengang karena Pak Jokowi sukses menyelenggarakan acara perpaduan dua adat besar, yaitu Adat Jawa dengan Adat Batak. Pak Jokowi yang memang sangat mencintai keindahan Danau Toba, terbukti dengan menjadikan Danau Toba sebagai satu dari 10 destinasi wisata unggulan tanah air yang digadang-gadang bisa mendatangkan devisa bagi negara. Tidak hanya itu, kecintaan Pak Jokowi akan Tanah Batak, yang terdiri dari Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola dan Mandailing telah dibuktikan dengan aksi nyata kerja, kerja dan kerja.

Mulai dari membangun jalan tol -- terpanjang dalam sejarah tujuh presiden di Indonesia -- dimana Pak Jokowi meresmikan dua ruas tol, yaitu: tol Medan -- Kualanamu -- Tebing Tinggi seksi 2-6 sepanjang 41,7 km dan ruas Medan -- Binjai seksi 2-3 sepanjang 10,5 km. Belum lagi jalan tol lainnya yang masih digenjot pembangunannya sehingga nantinya Medan -- Binjai -- Deli Serdang -- Karo menjadi kawasan perkotaan metropolitan ketiga terbesar di Indonesia dan diharapkan nantinya waktu tempuh dari Bandara Kualanamu International ke Danau Toba lewat jalan darat bisa hanya menempuh waktu 1-2 jam, sehingga harapan geliat pembangunan ekonomi di Tanah Batak dapat terwujud dengan baik.

Belum lagi puncak Perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-71 dirayakan dengan meriahnya di Danau Toba dengan tema "Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 2016" dengan atraksi panggung apung ditengah-tengah danau kebanggaan suku Batak tersebut dan mampu menahan beban sebanyak 60 ton.

Bandara Silangit, walau sudah diresmikan sebagai bandara Internasional, Pak Jokowi tetap meminta agar memperpanjang runway dari 2.650 meter menjadi 3.000 meter. Itulah bukti kecintaan Pak Jokowi terhadap seluruh suku-suku dan budaya-budaya di Indonesia dan beliau selalu menekankan disaat kunjungan kerja baik didaerah manapun di seluruh pelosok tanah air agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan, terutama dalam hal menjaga kerukunan hidup antar umat beragama, maupun antar penganut kepercayaan, terutama dalam memajukan budaya tanah air agar tidak tergerus maupun hilang ditelan oleh masuknya budaya asing, sebab negara kita terdiri dari 714 suku bangsa dan ada 1.100 bahasa lokal yang harus dipertahankan eksistensinya sebagai harta tak terhingga dari budaya Indonesia.

Nah, ada selalu cara atau trik Pak Jokowi untuk mengskak-mat-kan sekelompok atau segelintir orang yang selalu menilai negatif atau selalu nyinyir atas kinerja dan prestasi beliau, maupun akan masalah sosial tanah air yang muncul kepermukaan. Sebut saja tentang "papa minta saham", yang dibuktikan Pak Jokowi dengan elegan dan bukan dengan kata-kata mampu membuat seorang pernyataan SN yang seakan-akan Pak Jokowi sangat dekat dengan beliau sehingga bisa diajak cincai-cincai, salah total!

Pun dengan suara-suara sumbang yang tega menuduh Pak Jokowi dengan PKI, dia balas dengan senyuman dan bukti konkrit jika beliau tidak pernah bersentuhan dengan PKI, bahkan dengan tegasnya beliau menantang, "Apabila menemukan PKI, saat itu juga hajar sampai mampus!". Dengan aksi nyatanya, tanggal 30 September 2017, Pak Jokowi dengan gentlemennya datang untuk nobar (nonton bareng) bersama Panglima TNI yang menyerukan agar pemutaran film G30S/PKI digalakkan kembali bersama masyarakat untuk menghidupkan kembali rasa nasionalisme, sehingga isu PKI kembali meredam.

Jangan Malu Mengakui Identitas Diri

Pun, ketika akhir-akhir ini suku Batak dihebohkan dengan aksi segelintir orang yang mengaku "bukan Batak", baik itu "Mandailing bukan Batak" atau "Karo bukan Batak" dan menimbulkan perdebatan di media sosial. Padahal dari sejarah, leluhur kita sudah bersusah payah untuk menyatukan wilayah-wilayah di Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Utara untuk bersatu dan mendirikan "Jong Batak" yang diutus dan diakui keberadaannya saat mencetuskan "Sumpah Pemuda", yang kita peringati setiap tanggal 28 Oktober.

Sekali lagi Pak Jokowi mengingatkan generasi muda untuk lebih mementingkan persatuan dan kesatuan serta menghargai budaya dengan cara yang sangat menohok! Beliau dengan lantangnya mengakui bermarga Siregar yang otomatis dia dapatkan setelah Kahiyang Ayu resmi menjadi isteri dari Bobby Nasution.

Lantas kenapa Pak Jokowi bermarga Siregar? Dalam adat Batak, apabila pengantin pria mempersunting gadis bukan bermarga Batak, maka otomatis sang pengantin wanita ditabalkan dan disyahkan secara adat untuk mengikuti marga Ibunya, sehingga pengantin pria mempersunting paribannya (sepupu), sehingga otomatis Pak Jokowi bermarga Siregar sehingga pengantin pria mempersunting gadis boru ni tulang (anak gadisnya kakak kandung ibu dari pengantin pria).

"holong do maroban domu, domu maroban parsaulian", kasih sayang membawa persatuan, persatuan membawa kebaikan bersama," Kata Jokowi dengan lancar dalam bahasa Mandailing saat memberikan nasehat kepada putri tercintanya dan kepada menantunya, juga tentunya kepada seluruh masyarakat Indonesia agar mencinta budaya dan jangan mau terpancing untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji serta melawan apa yang sudah dipersatukan oleh para pendahulu kita.

Perpaduan antara dua budaya besar, Jawa dan Batak dalam pernikahan putri sulung Pak Jokowi dengan Bobby Nasution harus menjadi sinyal bahwa kita semua harus saling melestarikan budaya-budaya Nusantara yang tiada duanya. Pun dengan pemerataan pembangunan disetiap daerah yang menjadi prioritas utama Pak Jokowi harus kita dukung sepenuhnya, sehingga roda pergerakan ekonomi pelan tapi pasti akan berkembang dengan adanya infrastruktur yang ada.

Sekali lagi, Pak Jokowi mampu membungkam para haters maupun kaum sinis yang ingin membuat gaduh dengan perayaan "ngunduh mantu" yang sukses dengan perpaduan adat istiadat yang besar, sebesar harapan Pak Jokowi akan tuntasnya pembangunan yang dia lanjutkan dengan mengandalkan modal seadanya.

"Amang pargocci nami na malo, baen hamu ma jo gondang na rade tu son. Horas tondi madingin pir tondi matogu, mauliate", yang artinya, Bapak yang memainkan musik, buatlah musik yang sesuai dengan keadaan ini. Semoga semua jiwa kuat, semakin sejahtera dan semakin kuat dan teguh. Horas! Sebagai ajakan agar kita bersatu untuk membangun Indonesia. Ingat konsep beliau, membangun dari Desa (Daerah) untuk pemerataan, rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga!

Ditulis Oleh Agus Oloan ~ Penulis Lepas di Kompasiana

Dikutip dari Kompasiana
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah