Cari
 Opini
 Diposting 22-12-2017 13:27

Gelora Budaya Batak Dalam Politik Bangsa Indonesia

Foto Caption: Jokowi dalam pameran kerajinan nasional di Jakarta

Ulos didalamnya terdapat konsepsi simbol mengenai ruang dan kesuburan perempuan Batak yang berdasarkan pada Bahasa, Mitologi dan pengetahuan teks dalam menenun.

Ulos identik dengan orang atau halak Hita Batak yang berasal dari Sumatera Utara yaitu Batak Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola dan Mandailing.

Batak kaya akan istilah hubungan kekerabatannya (partuturon). Silsilah atau Tarombo menjadi penting dalam bertutur.

Batak memiliki simbol unik yaitu "cicak" yang disebut dengan boraspati jabu sebagai simbol kebijaksanaan dan kekayaan bagi generasinya. Cicak merupakan simbolisasi bisa beradaptasi dengan lingkungan dimana dia berada. Hingga orang Batak yang hidup di perantauan bisa bertahan hidup karena mampu beradaptasi.

Fenomena dekade ini Batak mendapat perhatian unsur kebetulan ataukah tendensi politik dimana  dua pejabat RI yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan Jokowi memiliki mantu yang berasal dari suku Batak. Tidak hanya itu pemberitaan di media baik sosial maupun cetak dan online terkait pernikahan adat yang digelar mereka. 

Anggapan pro dan kontra pun bermunculan. Kalau mau tahu pernikahan adat Batak memanglah butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu, hal ini sudah dianggap biasa. Batak mengenal upacara ini mengadati dan mangulosi. Pesta pernikahan bagi masyarakat suku Batak atau dikenal Halak Hita merupakan tradisi memberikan makan kepada keluarga dan saudara. 

Menarik untuk melihat disinyalir adanya trend bahwa Batak mulai diperhitungkan dalam dinamika perpolitikan negara ini. Maka Jawa dan Batak adalah kuncinya. Perkawinan politik atau pelacuran dalam politik. Menjelang pemilu presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2019 dimana untuk merauk pundi-pundi suara tepatnya di daerah Sumatera Utara. 

Apapun latar belakang dengan trend menikah dengan suku Batak tetaplah kita merawat keberagaman negara Indonesia. Pentingnya kesadaran kritis dalam diri kita bukan digiring ataupun menggiring. Paling penting adalah mengingat pondasi rumah kita bersama dan milik kita bersama yaitu Pancasila. 

Pancasila adalah wajah kita sebagai bangsa Indonesia. Dan jelas tidak bisa diganti dengan bentukan negara lain. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah (jas merah) kata founding fathers kita.

Ditulis Oleh Melda Imanuela

Dikutip dari Kompasiana
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah