Cari
 Batak
 Diposting 03-10-2018 10:11

Oppu Indi Boru Turnip Pertahankan Tradisi Mangaletek yang Semakin Ditinggal Masyarakat Batak

Foto Caption: Ilustrasi Mangaletek, menganyam dalam masyarakat Batak

Samosir - Oppu Indi boru Turnip, duduk di Halaman Rumah Adat Batak di Desa Lumban Toguan, Kecamatan Sumanindo, Kabupaten Samosir, Selasa (2/10/2018).

Sambil mengunyah sirih ia mangaletek (mengerjakan anyaman tikar berbahan pandan yang disebut lage tiar) .

Perempuan berusia 64 tahun ini tetap berusaha mempertahankan tradisi demi memperkenalkan anyaman asli dari Pulau Samosir, tanah kelahirannya.

Ditemui www.tribun-medan.com, dia tekun menyelesaikan selembar lage tiar. Tangannya sigap meyelipkan helai per helai daun pandan (Baiyon) yang super halus.

"Sejak tamat kelas 5 SD, saya sudah terbiasa mengerjakan seperti ini," ujar Oppu Indi. Katanya, bahan yang digunakan adalah tumbuhan pandan yang tumbuh di sekitar kampung.

Dengan ramah ia pun menjelaskan proses dan cara menyelesaikan tikar tersebut.

"Mula-mula kita ambil daun pandan dari pokoknya dengan menggunakan pisau. Lalu kita ambil durinya kita bersihkan," ucapnya.

Kemudian, helai per helai ukuran daun pandan disesuaikan lalu direndam dua hari dua malam. Selanjutnya, dijemur hingga layu dan kering.

Membuat anyaman tikar pandan tidaklah semudah kelihatannya.

Proses produksi juga tidak gampang. Dalam teknik pengerjaan, tentu harus dibutuhkan ketelitian dan kesabaran penuh.

Untuk membuat satu helai tikar berukuran lebar 1 meter dan panjang 2 meter bisa memakan waktu satu hingga dua minggu.

Selain tikar, dia juga memproduksi anyaman tas dan hajut (Tandok; wadah untuk beras).

Untuk mengerjakan tas dan hajut membutuhkan waktu saru sampai dua hari.

Tikar ini berbeda dengan tikar pada umumnya.

Kelebihan tikar pandan, hangat dipakai di daerah dingin serta mempunyai ciri wangi yang khas. Apalagi, tikar pandan murni bahan organik yan ramah lingkungan.

"Enak diapakai malam hari, hangat dan harum," jelas Oppu Indi.

Sayangnya, tumbuhan pandan sudah semakin sulit diperoleh di Kabupaten Samosir.

Tak hanya itu, keahlian mengayam juga nyaris tak terwarisi. Tidak lagi ada generasi muda yang menggandrungi. Sekarang ini remaja putri tak lagi memiliki ilmu mangaletek.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah