Cari

Perempuan Tua Itu Bernama Tiominar Dari Lumban Sipahut

Posted 20-02-2019 13:32  » Team Tobatabo
Foto Caption: Ilustrasi 'Inang' wanita tua Batak

Sobekan mandar Balige (sarung) penuh darah, sandal partakus, samara berdarah, dan lembaran-lembaran buku ende (kidung agung) bertebaran di jalan Tol itu.

Tampak genangan darah yang ditutupi pasir mulai mengamis.

Orang-orang sibuk dan makin berduyun melihat mayat dipinggiran jalan itu. Polisi memasukkan mayat perempuan renta korban tabrak lari di Tol itu ke ambulance. Tangannya yang lunglai masih menggenggam nasi, dari mulutnya mengucur darah dan butiran - butiran nasi terakhir yang dipungutnya dari tong sampah.

Di rumah sakit, setelah proses Autopsi dan identifikasi dari Team Patologi, polisi menemukan baluang/puro-puro (kantong uang dari kain) persis terselip diantara payudara yang sudah layu dan berkeriput, payudara yang pernah membesarkan dan menghidupi anak-anaknya. Dari dalam baluang, polisi menemukan KTP Seumur hidup atas nama Tiominar, usia 89 Tahun, alamat Lumban Sipahut .

Sudah sepuluh hari mayat itu dilemari pendingin mayat. Tak ada sanak saudara yang mencari atau sekedar menjenguk, bahkan polisi kesulitan mencari alamat di KTP karena RT/RW dan nomor rumah tidak tercantum, walaupun media – media ibukota memberitakan kecelakaan itu.

Perlahan Polisi membongkar buntalan mandar balige, polisi hanya menemukan Ulos Sibolang.

Prosesi kematian suku Batak
Foto ilustrasi prosesi kematian dalam suku Batak, peti dimasukkan keliang lahat.

Polisi membuka hajut demban (tempat sirih), tampak hapur, gambiri (kemiri) dan demban/sirih yang sudah layu, akhirnya polisi menemukan petunjuk dari kunci yang tersembunyi di bawah cangkang pinang dan timbaho sukkil (tumpukan tembakau yang biasa diselipkan dimulut) Anak kunci dengan tulisan di gantungan "Panti Jompo Perjalanan Akhir" lengkap dengan alamat dan nomor telepon.

Di panti jompo, polisi menanyakan hal identitas korban tabrak lari tersebut.

Pengelola panti jompo menginformasikan bahwa benar korban adalah penghuni yang sudah hilang melarikan diri beberapa hari.

Pengelola menceritakan bagaimana keseharian Tiominar yang hanya menangis dan berdoa dalam Panti, terus menerus mengatakan “Taruhan au mulak tu Lumban Sipahut”, (antarkan aku pulang ke kampung).

Pengelola panti telah menyampaikan bahwa sudah berulang kali pihak panti menghubungi pihak keluarga hal hilangnya korban dari panti, tapi hingga hari ini belum ada pihak keluarga yang datang.

Pengelola pun akhirnya memberikan alamat dan nama – nama anak korban.

Tiominar yang hanya menangis dan berdoa dalam Panti, dan terus menerus mengatakan 'Taruhan au mulak tu Lumban Sipahut', (antarkan aku pulang ke kampung)

Setahun yang lalu, Tiominar dijemput paksa anak - anaknya dari huta, mereka mengatakan "Dang ise mamereng ho dihutaon inong...etak dia dia ho, hami do namaila" (Tidak ada yang perhatikan kamu dikampung ini..kalau terjadi apa apa, kami yang malu).

Meski Tiominar mengatakan bahwa aroma hauma (sawah), suara sipahut (burung hantu), wanginya pohon tusam (Pinus), dentang lonceng gereja, dan juga pusara bapaknya sudah menjadi bagian dari hidup yang sudah melekat di kesehariannya, tak lupa hentakan suara tonun (alat tenun) yang dimainkannya sudah menjadi irama penghantar tidur dan sudah menyatu di nadinya.

Tapi anak-anak tetap berkeras dan mengatakan "Ungga inong saratus pe ulos boido tuhoron nami di ho.. dang pola martonun be ho..godang di Jakarta ulos digadis" (udahlah mama..seratus Ulos bisa kami belikan untukmu, nggak usah lagi bertenun, banyak ulos dijual di Jakarta).

Akhirnya Tiominar meninggalkan kenangannya dan mengikuti kemauan anak-anaknya menjajah dan mengekang kebebasannya.

Setelah tiga bulan di Jakarta, tampak Tiominar mulai membatin, ke tujuh anak dan dua borunya hampir tak pernah bercerita dengannya. 

Dia merindu anak-anaknya bercerita masa lalu ketika dengan lembut dia mendidik membesarkan mereka. Dia merindu anak-anaknya membelai rambutnya yang sudah beruban.  Dia merindu anak-anaknya menanyakan kabar dan kesehatannya hari ini. 

Tak pernah berharap anak-anak mengucapkan terimakasih karena cucuran keringatnya yang seorang janda, serta poda dan tona (petuah dan nasihat baik) yang ditanamkannya kini anak-anak berhasil.

Tiominar hanya ingin anak- anak, parumaen (menantu perempuan) dan pahompunya (cucu) datang menyapa dia di bilik sepi dan sempit milik mbak Narti di kamar paling belakang rumah besar itu.

Tiominar makin lelah, hampir sekali dua hari harus berpindah-pindah dari rumah anaknya yang satu ke yang lain, Tiominar juga tartondi (membatin) dan hatinya serasa teriris ketika Ulos Mangiring yang ditenun tangannya sendiri dan dibawanya tidak diterima parumaen dan anaknya untuk diuloskannya (proses adat membalutkan ulos), padahal ulos itu sengaja ditenunnya menjadi Ulos Mangiring yang indah hanya untuk parumaen siampudan (menantu perempuan/istri dari anak terakhir) yang sedang mengandung anak pertama.

Anak-anaknya mengatakan "Ahhh inong..dang jamanna be ulos-ulos...dang masuk tu Huria nami songoni" (Sekarang hal adat pemberian ulos sudah tidak relevan, dan bertolak belakang dengan gereja kami).

Hatinya sakit ketika Ulos mangiring itu ditolak dan kini dijadikan parumaennya jadi taplak meja setrika, tangan rentanya meraih ulos itu dan menangis sejadinya, air matanya membasahi ulos, lalu berkata "Tuhan.....dang namangalaosi uhum MU uloshon, asa Mangulosi ma on tu pamatangni angka gellengki, ai Ho do namangulosi Tondina" (Tuhan..bukan untuk melanggar titahMU pemberian ulos ini, hanya jadi ulos yang membalut tubuh anak anak ku, karena Engkaulah yang membalut jiwa mereka).

Hari-hari berlalu, semua begitu melelahkan, ternyata kehadiran sosok inong/mama yang sudah menua menjadi pemicu perpecahan diantara anak-anaknya. Semua memberi alasan, sibuk bisnis, sedang mengikuti tender, tugas keluar negeri, rapat dll.

Hatinya sakit ketika Ulos mangiring itu ditolak dan kini dijadikan parumaennya jadi taplak meja setrika, tangan rentanya meraih ulos itu dan menangis sejadinya, air matanya membasahi ulos

Terlebih para parumaen, ada yang mengatakan "Papi lihat sendiri si inong...bau tau.!.jorok! Mami malu sama teman teman arisan mami..!".

Parumaen yang lain mengatakan "Lagian inong gak ngerti bahasa indosia pap....bahasa kampung mulu pap...papi liat aja, mbak Narti aja jadi susah ngeladenin kita karena inong....jadi nyusahin tau!!".

Malam setelah arisan keluarga di rumah anak pertamanya sang kontraktor, sambil bermain Joker Karo (Judi Remi ), akhirnya keputusan diambil, tujuh anak, dua borunya (anak perempuan) serta parumaen dan helanya (menantu laki laki) sepakat inong dimasukkan di Panti Jompo.

Hanya mbak Narti pembantu anak pertamanya yang tidak sepakat, karena hanya dia lah selama ini yang mengurus kebutuhan Ompung, dia menangis dan memohon "Pak..bu...biarin Narti yang rawat Opung..Opung baik kok, kalau perlu Narti bawa Opung ke kampung Narti aja.." . permohonan itu ditolak semua anak dan borunya dengan meyakinkan Narti bahwa Panti Jompo yang mereka pilih adalah yang terbaik dan termahal.

Hujan lebat di Jakarta pagi itu, Tiominar dijemput pengola panti tanpa diantar anak-anaknya, hanya Nartilah yang memeluk dan menciumi Tiominar dengan tangisan kasih sayang.

Dengan wajah bingung dan sedih Tiominar membuka buntalan mandar Balige nya, dia menangis , dan meraih lipatan ulos dari buntalan, perlahan dengan gemetar, tangan yang sudah menua dan payah menguloskan (membalutkan ke tubuh) Ulos Mangiring ke tubuh Narti, kemudian memberi Bibel (Alkitab) ke tangan Narti, lalu dia pergi dan berkata "Tuhan..Unang uhum angka ianakhonhi" (Tuhan..Jangan hukum anak-anakku)

Butiran air mata Narti membasahi Bibel, dia tak tau untuk apa dan apa maksud pemberian ini. Ditelinganya hanya terngiang kata-kata terakhir Opung sebelum pergi "Ulos on inang, Ulos Mangiring...asa mangiring ma angka na uli mangiring angka na denggan di parngoluonmu inang...nion Bibel on, dison do luhut alusni parngoluonmu dohot parngoluonku..Horas ma ho". (Ulos ini, Ulos Mangiring, Agar datang semua keindahan/kebahagiaan dan semua kebaikan dalam hidupmu...dan ini Alkitab adalah semua jawaban atas hidupmu dan hidupku).

Catatan Editor:
Kisah ini hanya fiksi belaka agar kita mampu merenungi hidup dan mengerti makna pasangaphon natua-tua dalam kehidupan keluarga masyarakat Batak

Ditulis Oleh Binton Sianturi
Telah ditayangkan sebelumnya di Facebook 6 Maret 2018

 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah