Cari

Benarkah Doa Orang Batak Terkesan Mengatur Tuhan?

Posted 09-04-2019 14:36  » Team Tobatabo
Foto Caption: Ilustrasi Ibadah atau Berdoa dalam keluarga

Doa itu manifestasi bawah sadar manusia untuk mengatur Tuhan.  Agar Dia mengabulkan keinginannya. 

Memang judulnya permohonan.  Dari "yang maha rendah" kepada "Yang Maha Tinggi".  Tapi niatannya mengatur Tuhannya.  Agar mengabulkan ini dan itu, sekarang dan selamanya.

loading...

Gejala doa mengatur Tuhan itu mungkin dilakukan setip orang yang beragama.  Tapi biarlah saya kisahkan satu kasus saja.  Ini terjadi di kalangan orang Batak.

***

Pada suatu hari Minggu di Porsea, saat kotbah dalam kebaktian di sebuah gereja, seorang pendeta menceritakan anekdot berikut ini.  

"Orang Batak itu memang berjiwa pemimpin," Pak Pendeta membuka kotbahnya.  Umat langsung membuka mata lebar-lebar.  Termasuk Si Poltak di antaranya.

"Ada seorang bapak tua  yang sakit-sakitan.  Dia punya anak tiga orang," lanjutnya.   "Ketika anak pertama sudah menikah, dia berdoa kepada Tuhan.  Katanya, Tuhan, aku tahu usiaku tidaklah panjang.  Tapi aku mohon berilah aku sedikit umur lagi.  Sampai aku bisa melihat cucuku lahir."

"Maka Tuhan mengabulkan doanya. Cucu pertamanya lahir dengan sehat selamat. Sebagai rasa syukur pada Tuhan, dia memberikan sumbangan lumayan besar untuk gereja."

"Selang berapa lama, bapak tua itu sakit parah. Dia sedih karena dua anaknya belum menikah. Tuhan, katanya, berilah aku umur sedikit lagi. Sampai anak keduaku menikah." Umat mulai tersenyum-senyum simpul.

"Maka Tuhan mengabulkan doanya.  Anak keduanya menikah.  Sebagai rasa syukur dia menyumbang gereja lagi."

"Tak berapa lama kemudian, bapak tua sakit keras lagi.  Dia sedih.  Tuhan, doanya, mohon beri aku tambahan umur sedikit lagi.  Sampai aku bisa melihat cucu dari anak keduaku lahir."

"Maka Tuhan mengabulkan doanya.  Cucu dari anak keduanya lahir sehat rohani dan jasmani.   Dia sangat gembira.  Sekali lagi dia memberi sumbangan untuk gereja."

"Dasarnya sudah renta, bapak tua itu jatuh sakit lagi.   Kali ini kesedihannya berlipat ganda.  Tuhan, panjatnya, mohon beri aku umur sedikit lagi saja.  Sampai anakku yang ketiga menikah.  Setelah itu Tuhan boleh ambil nyawaku."

loading...

"Maka Tuhan mengabulkan doanya.  Anak ketiganya menikah.   Bapak tua sangat bahagia.  Sebagai wujud syukur, dia memberi sumbangan besar untuk gereja." Umat mulai tergelak riuh.

"Kita semua pasti sudah tahu, bapak tua itu akan jatuh sakit lagi.  Lalu dia akan minta tambahan usia lagi.  Sampai melihat cucu dari anak ketiganya itu lahir."

"Begitulah kita orang Batak ini," Pak Pendeta memberi penekanan akhir. "Judulnya kita memohon, tapi niatnya mengatur Tuhan.  Agar memberikan segala sesuatu sesuai keinginan kita.   Kalau dikabulkan, kita beri sumbangan kepada gereja, dan makin rajin memohon sesuatu pada Tuhan."

"Tapi kalau tidak dikabulkan.  Kita marah.   Mogok ke gereja.  Mogok berdoa.  Kemana-mana teriak bahwa Tuhan tidak adil pada kita."

Pak Pendeta menutup kotbahnya diiringi tawa umat menertawakan diri.

***

Tadinya saya pikir hanya doa orang Batak yang mengatur Tuhan.   Ternyata saya keliru.   Rupanya doa politisi di negeri ini juga maunya mengatur Tuhan.

Ada politisi yang berdoa supaya Tuhan memenangkan Capres pilihannya.   Sebab kalau tak dimenangkan, katanya, maka tidak akan ada lagi orang yang menyembahnya.

Wah, itu bukan hanya mengatur.  Tapi sudah mengintimidasi, menakut-nakuti Tuhan.  Seperti seorang politisi menakut-nakuti rakyat.   Kalau tak pilih saya jadi Presiden RI, nanti RI akan bubar, katanya.

Ada juga seorang politisi tua yang rupanya sudah mampu mengatur malaikat.  Katanya malaikat juga berdoa untuk kekalahan Jokowi pada Pilpres 2019 ini.

Itu berarti politisi tua itu mungkin sudah menjadi satu dari para malaikat.  Sehingga dia tahu persis bahwa malaikat sudah berdoa seperti itu.

Tapi sudahlah. Saya, Felix Tani, petani mardijker, tak hendak berpanjang kata.  Hanya sekadar mengingatkan, agar tak terlalu jauh melibatkan Tuhan dalam urusan politik yang kotor ini.

Sebab jika begitu, bukankah kita justru menistakanNya?

Ditulis oleh Felix Tani via Kompasiana

Dikutip dari Kompasiana
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah