Cari

Oppung Santa Korban Banjir Bandang Desa Buntu Mauli Samosir Ditemukan Meninggal di Bawah Puing Rumah

Posted 05-05-2019 09:31  » Team Tobatabo

SAMOSIR - Korban banjir bandang Tiaman Situmorang (65) akhirnya ditemukan pada Pukul 12.00 WIB setelah dilakukan upaya pencarian Pasca Banjir Bandang di Desa Buntu Mauli, Kacamatan Sitio-tio, Kabupaten Samosir, Sabtu (4/5/2019).

Nenek yang akrab disapa Oppung Santa itu ditemukan di bawah puing rumah dalam keadaan tidak bernyarwa.

loading...

Pantauan Tribun, kerabat keluarga korban histeris ketika Tiaman ditemukan.

Proses evakuasi lumayan sulit, apalagi operator harus ekstra hati-hati agar jasad Tiaman tidak rusak.

TNI/Polri dibantu warga melakukan pencarian sejak pagi hingga akhirnya membuahkan hasil. Satu alat berat beko terpaksa dioperasikan mengais puing-puing rumah yang tertimbun hingga nenek Tiaman ditemukan.

Warga, Uluan Rajagukguk menyampaikan, hujan deras disertai kristal es selama dua jam sehari sebelumnya di Desa Buntu Mauli, Kecamatan Sitio-tio Kabupaten Samosir, Jumat (3/5/2019) mengakibatkan dua rumah tersret banjir serta sempat menghilangkan seorang warga, Oppung Santa Situmorang Siringo (65).

“Kejadiannya sekitar Pukul empat Sore semalam. Itu kan hujan deras, lalu terjadilah banjir bandang”,ujar Uluan yang juga Bendahara Kecamatan Sitio-tio tersebut.

Adapun kronologis kejadian berdasarkan keterangannya, banjir berasal dari bawah lembah Bukit Hutan Ulu Darat.

Kemudian air menuruni Robean Sigala-gala dan mengalir ke Binanga Rassang Bosi.

Ketika mendekati perkampungan, kata Uluan ketinggian air yang mengaliri lereng mencapai 4-hingga lima meter.

Hujan deras disertai kristal es mengakibatkan banjir di Desa Buntu Mauli, Kabupaten Samosir, Jumat (3/5/2019).

Hujan deras disertai kristal es mengakibatkan banjir di Desa Buntu Mauli, Kabupaten Samosir, Jumat (3/5/2019). (Ist)

Air bercampur material lumpur, batu dan gelondongan kayu itu bahkan melangkahi jembatan dan sungai kecil yang tak lagi dapat membendung volume air.

loading...

“Pada waktu puncaknya ketinggian air mencapai empat hingga lima meter. Air berwarna coklat, membawa material kayu dan lumpur.

Diterangkanya, tahun 2010 lalu juga sudah pernah terjadi banjir serupa.

Waktu banjir bandang 2010 memang katanya hanya rumah saja yang rusak. Namun kali ini mengakibatkan 2 Warga menjadi korban.

Tiang listrik juga terlihat bengkok, dan kondisi sungai saat ini air sudah surut, tetapi kata Uluan kemungkinan juga akan terjadi lagi banjir kalau hujan turun.

Apalagi cuaca masih mendung dan kemiringan pebukitan lumayan curam.

Ditambahkannya, ada tiga titik jalan yang putus menuju lokasi. Petugas PLN pun turut memperbaiki instalaai liatrik serta tiang yang sempat tumbang.

Rumah Terseret Arus dan Oppung Santa Situmorang Hilang

Hujan deras disertai kristal es mengakibatkan banjir di Desa Buntu Mauli, Kabupaten Samosir, Jumat (3/5/2019).

Menurut warga setempat, Uluan Rajagukguk, peristiwa itu terjadi pada pukul 16.00 WIB dan mengakibatkan dua rumah terseret banjir serta satu korban masih hilang.

Satu warga yang hilang masih dicari.

Hingga Pukul 18.00 WIB, korban belum ditemukan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Kabupaten Samosir, Mahler Tamba, mengatakan, banjir bandang terjadi Jumat sore sekitar pukul 16.00 WIB saat hujan deras mengguyur Kabupaten Samosir.

Tonton Videonya disini

Warga pun masih mengais-ngais dengan berbagai peralatan seadanya untuk mencari korban.

Banjir yang melanda desa itu mengangkut material batu dan lumpur.

Banjir awalnya melintasi jembatan yang sudah lama tidak dialiri airnya.

Namun, tiba-tiba air yang mengalir dari Dolok Ulu Darat membesar hingga melanda desa itu.

Informasi terbaru identitas korban adalah Oppung Santa Situmorang Siringo (65).

Hingga pukul 20.17 WIB korban belum ditemukan.

Pencarian pun akhirnya dihentikan karena sudah malam.

Adapun kronologis kejadian berdasarkan keterangannya, banjir berasal dari bawah lembah Bukit Hutan Ulu Darat.

Kemudian air menuruni Robean Sigala-gala dan mengalir ke Binanga Rassang Bosi.

Ketika mendekati perkampungan, kata Uluan ketinggian air yang mengaliri lereng mencapai 4-hingga lima meter.

Air bercampur material lumpur, batu dan gelondongan kayu itu bahkan melangkahi jembatan dan sungai kecil yang tak lagi dapat membendung volume air.

“Pada waktu puncaknya ketinggian air mencapai empat hingga lima meter. Air berwarna coklat, membawa material kayu dan lumpur.

Diterangkannya, tahun 2010 lalu juga sudah pernah terjadi banjir serupa.

Waktu banjir bandang 2010 memang katanya hanya rumah saja yang rusak.

Namun kali ini mengakibatkan 2 Warga koban, yakni Oppung Santa Situmorang Siringo yang masih hilang dan Oppung Daniel boru Situmorang patah kaki.

Oppung Daniel sempat dibawa ke Pukesmas Sitio-tio, lalu dilarikan ke Rumah Sakit Umum Hadrianus Sinaga di Pangururan, Samosir.

Rumah yang dihantam banjir tersbut katanya rusak parah dan puing-puingnya sampai ke Danau Toba, sedangkan dua unit rumah lainnya dipenuhi lumpur dan material lainnya.

“Rumah tadi memang langsung rusak parah dua unit dan diseeret arus, baru dua unit lagi rusak masuk lumpur ke rumah,” tambahnya.

Dijelaskannya, sampai malam petugas dari BPPD Samosir sampai belum sampai di lokasi.

Namun, Camat dan serta Personel Polsek langsung membantu warga melakukan pencarian.

Tiang listrik juga terlihat bengkok, danondisi sungai saat ini air sudah surut, tetapi kata Uluan kemungkinan juga akan terjadi lagi banjir kalau hujan turun.

Apalagi cuaca masih mendung dan kemiringan pebukitan lumayan curam.

Ditambahkannya,ada tiga titik jalan yang putus menuju lokasi, sehingga akan sulit membawa alat berat ke lokasi.

Sebelumnya, Bupati Samosir dikonfirmasi Tribun sudah mengirim alat berat menuju lokasi.

“Kita sedang mengirim alat berat ke lokasi,’' ujar Rapidin menjawab Tribun terkait tindakan sementara yang dilakukan Pemkab Samosir.

Terkait korban, Oppung Santa Situmorang Siringo selain tertimbun diduga diseret banjir hingga ke Danau Toba bersama gelondongan kayu. Jarak rumah yang terseret ke Danau Toba hanya 50 meter, dan gelondongan kayu bagian dari material longsor kini terapung di Danau Toba.

Warga pun masih mengais-ngais dengan berbagai peralatan seadanya untuk mencari korban.

Banjir yang melanda desa itu berisi material batu dan lumpur.

Banjir awalnya melintasi jembatan yang sudah lama tidak dialiri airnya.

Namun, tiba-tiba air yang mengalir dari Dolok Ulu Darat membesar hingga melanda desa tersebut.

Dikutip dari Tribun Medan
 
 
 
 
 

Silahkan beri pendapat anda pada kolom komentar di bawah